Makalah Kebudayaan Sunda

Makalah Kebudayaan Sunda

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sunda sebagai nama kerajaan kiranya baru muncul pada abad ke- 8 sebagai lanjutan atau penerus kerajaan Tarumanegara. Pusat kerajaannya berada disekitar Bogor, sekarang.  Sejarah Sunda mengalami babak baru karena arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk kekuasaan kompeni Belanda sejak (1610­) dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram (sejak 1625). Menurut RW. Van Bemelan pada tahun 1949, Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Suku Sunda merupakan kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indeonesia yaitu berasal dan bertempat tinggal di Jawa Barat. Daerah yang juga sering disebut Tanah Pasundan atau Tatar Sunda.
Seperti pada kebudayaan Melayu, kebudayaan sunda termasuk kebudayaan tertua yang ada di Indonesia.  Kebudayaan sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja – raja sunda. Ada beberapa watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup.  Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter.  Kebudayaan sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan.  Hampir semua masyarakat sunda beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan ditujukan untuk alam semesta.
Secara cultural daerah Pasundan di daerah timur dibatasi oleh sungai-sungai Cilosari dan Citanduy, yang merupakan perbatassan bahasa.  Wilayah ini sendiri memiliki luas 55.390 km² serta terdiri atas 20 kabupaten.  Tanah Pasundan ini dikenal karena iklimnya yang sejuk dan keindahan panoramanya.  Berada di daerah dataran tinggi dengan curah hujan tinggi sehingga kesuburan tanahnya tidak diragukan lagi. Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang lebih 33 juta jiwa, kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat.  Nama mereka sering dianggap sebagai orang Sundan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedia.  Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese.

2.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang dan judul di atas maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem religi dan upacara keagamaan kebudayaan sunda ?
2. Bagaimana sistem organisasi masyarakat sunda ?
3. Bagaimana sistem pengetahuan masyarakat sunda ?
4. Bagaimana sistem bahasa masyarakat sunda ?
5. Bagaimana sistem mata pencaharian masyarakat sunda ?
6. Bagaimana sistem teknologi masyarakat sunda ?
7. Apa saja kesenian yang terdapat dalam kebudayaan sunda ?

2.3 Tujuan
            Sesuai dengan rumusan masalah maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
            1. Untuk mengetahui sistem religi dan upacara keagamaan kebudayaan sunda.
            2. Untuk mengetahui organisasi dan kemasyarakatan masyarakat sunda.
            3. Untuk mengetahui sistem pengetahuan masyarakat sunda.
            4. Untuk mengetahui sistem bahasa masyarakat sunda.
            5. Untuk mengetahui sistem mata pencaharian masyarakat sunda.
            6. Untuk mengetahui sistem teknologi masyarakat sunda.
            7. Untuk mengetahui kesenian kebudayaan sunda?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Religi dan Upacara Keagamaan Kebudayaan Sunda
Sebagain besar masyarakat suku Sunda menganut agama Islam, namun ada pula yang beragama Kristen, Hindu, Budha, dll.  Mereka itu tergolong pemeluk agama yang taat, karena bagi mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama.  Contohnya dalam menjalankan ibadah puasa, sholat lima waktu, serta berhaji bagi yang mampu.  Mereka juga masih mempercayai adanya kekuatan gaib. Terdapat juga adanya upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase dalam lingkaran hidup, mendirikan rumah, menanam padi, dan lain-lainnya.
Suasana kehidupan sehari-hari, pendidikan dan kebudayaannya penuh dengan nilai-nilai keislaman.   Masyarakat Sunda pada umumnya yang ada di pedesaan masih kuat kepercayaannya pada mitos dan takhayulMereka datang ke makam-makam suci sebagai tanda kaul atau penyampaian permohonan atau meminta restu sebelum mengadakan suatu usaha pesta atau perkawinan.
Kepercayaan pada cerita-cerita mitos dan ajaran agama sering diliputi oleh kekuatan-kekuatan gaib.   Upacara-upacara adat berhubungan dengan salah satu fase lingkaran hidup manusia yang berhubungan dengan kaul, mendirikan rumah, menanam padi.  Para petani mengenal dongeng-dongeng yang bersangkut paut dengan tanaman padi antara lai Nyi Pohaci, Sanghyang Sri.  Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, yang telah terbiasa untuk menggunakan logika ilmu pengetahuan, dunia mitos seolah olah mengingkari logika itu.  Meskipun tampak  sering tidak sistematis, akan tetapi di balik cerita tersebut terdapat makna yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan.  Cerita – cerita mitos di samping agama mempunyai fungsi mengatur sikap dan sistem nilai manusia, mempertahankan tertib sosial dalam lingkungan masyarakat yang belum bayak menggunakan prinsip ilmu pengetahuan modern. Itulah sebabnya di daerah pedesaan disamping orang taat menjalankan kewajiban agamanya , sering pula melakukan upacara – upacara yang tidak terdapat dalam agama.
Dalam alam pikiran orang petani Sunda di daerah pedesaan, batas antara unsur Islam dan bukan Islam sudah tidak disadari lagi.  Unsur – unsur dari berbagai sumber itu sudah terintegrasikan menjadi satu dalam sistem kepercayaannya, dan telah dan telah ditanggapi oleh orang – orang itu dengan emosi yang sama.
Dilihat dari sudut pelaksanaan dari kehidupan beragama, upacara selamatan merupakan suatu upacara terpenting.  Aspek yang harus diperhatikan dalam upacara tersebut yang pertama yaitu aspek waktu.  Bilamana selamatan itu diadakan, di Priangan biasanya dilakukan pada kamis sore, malam Jumat.  Kemudian mengenai orang – orang yang diundang  adalah segi yang lain yaitu para tetangga.  Biasanya undangan dilakukan secara lisan dengan cara mendatangi rumah yang diundang.  Biasanya anggota kerabat laki-laki dari keluarga itu yang datang.  Pada umumnya pakaian yang dikenakan adalah sarung dengan menggunakan kopiah.  Selamatan hanya dapat berlangsung kalau ada orang yang dapat menyampaikan doa atau sering disebut dengan modin.  Upacara dimulai dengan mengucapkan Alfatihah dan diakhiri lagi dengan Alfatihah pula.  Isinya tergantung daripada maksud mengadakan selamatan itu.
Hidangan selamatan di Jawa Barat biasanya berupa tumpengan, yaitu gundukan nasi seperti bentuk gunung dan diberi warna kuning (kunyit) dan di dalamnya ada kentang, telur dan daging ayam yang diletakkan di atas baki yang dibuat dari baki yang dibuat dari bambu atau kayu.  Di daerah Pasundan berbeda dengan di Jawa, lauk dan ikannya terdapat di dalam nasi tumpeng.  Dalam selamatan orang tidak banyak bicara.  Waktu makannya tidak lama dan setelah selesai mereka tidak duduk untuk beramah tamah, akan tetapi para undangan biasanya meminta untuk mengundurkan diri maka selesailah acara selamatan itu.
Upacara lain yang erat kaitannya dengan agama adalah akekah, yaitu memotong kambing sebelum bayi berumur 40 hari.  Satu ekor kambing untuk bayi perempuan dan 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki.  Selain itu upacara keagamaan lainnya adalah sunatan dan tahlilan untuk mendoakan orang meninggal.  Tahlilan dilaksanakan pada hari ke 3,7,40 dan 100 setelah orang meninggal tersebut.
Pada acara tertentu seringkali kebudayaan bersifat tradisional dilaksanakan dengan alasan nurutkan kali parani karuhun, artinya mengikuti kebudayaan nenek moyang. Misalnya pada acara sebagai berikut :
  1. Tujuh bulanan, yaitu saat wanita yang sedang mengandung usia kehamilannya mencapai tujuh bulan. Wanita hamil tersebut memakai kain sampai batas dada dan disiram dengan air kembang yang berisi belut oleh para orang tua secara bergiliran. Setelah mandi ada acara jual rujak kepada kaum kerabat, uangnya adalah pecahan genteng yang dibulatkan. Acara memecahkan kelapa muda dan dengan berbagai bunga dan kendi di perempatan atau pertigaan jalan (jalan ngolecer) sebagai simbol kelancaran dalam melahirkan.
  2. Acara Sembilan Bulanan, yaitu dilakukan pada saat usia kehamilan mencapai usia 9 bulan, diadakan acara mencoreng muka dengan bedak antar kerabat, dilanjutkan dengan pembagian bubur lolos (bubur yang diberi tepung beras sebagian diberi gula sebagian tidak, sehingga warnanya menjadi merah putih) kalau ditekan terasa lain, merupakan simbol harapan si ibu agar melahirkan anaknya mudah, lancar dan selamat.
  3. Acara Puput Puser, dilakukan saat mengeringnya tali puser bayi (plasenta) yang dianggap sebagai saudaranya bayi, sehingga pada saat bayi lahir, plasenta dijaga dengan baik sebelum dikubur atau digantung di atas langit –langit dapur (hal ini bergantung pada letak unsur bayi pada plasenta).
  4. Sebelum plasenta disimpan (dikubur / digantung) dalam pendil ( tempat dari tanah tembikar bertutup), dan diberi bumbu, seperti gula, garam dan asam dengan maksud agar anaknya kelak berperangai baik, berbudi pekerti, dan gampang rejekinya. Usus bayi yang sedang mengiring dari pusar, biasanya disimpan dalam kantong kain (kanjut kundang) dan diberi potongan-potongan kunyit, cabe merah, jahe, kuning, panglay dan sebagainya. Kantong tersebut, disimpan dibelakang kepala bayi bersama dengan cermin, dengan harapan bayi tersebut tidak diganggu mahkluk halus.
  5. Acara-acara dan perkawinan, misalnya dalam acara siraman, yaitu mandi seperti pada acara tujuh bulanan hanya air kembang tidak dipakai belut ngeuyeuk pintu setelah akad nikah.
Di beberapa tempat seperti di Cirebon, acara Maulidan sering dipergunakan untuk acara membersihkan barang-barang yang dianggap keramat, seperti : Keris, bat dan sebagainnya. Pada zaman dulu, beberapa masyarakat pedesaan mempunyai kepercayaan terhadap roh halus, seperti Jurig, Genderewo dan Kuntilanak. Untuk mengatasinya diadakan acar kukuran, bakar kemenyan, dengan mengucapkan sejumlah mantera, pemberian congot manik (tumpeng kecil) di tempat-tempat tertentu yang dianggap ada, penghuni roh halusnya seperti kamar mandi, pohon beringin, kuburan, dan sebagainya.

2.2 Sistem Organisasi dan Kemasyarakat Masyarakat Sunda
Sistem merupakan kumpulan dari beberapa subsistem yang terakumulasi kedalam sebuah kesepakatan bersama yang bersifat abstrak. Sistem tersebut mengandung nilai dan kebutuhan yang kooperatif.  Masyarakat adalah kelompok manusia sebagai individu yang hidup bersama di satu wilayah strategis berdasarkan pada nilai-nilai bersama untuk mencapai tujuan bersama. Sistem organisasi masyarakat Sunda berarti kesepakatan abstrak yang dimiliki oleh masyarakat Sunda.  Masyarakat Sunda terdiri atas kelompok-kelompok kecil (individu). Pengorganisasian masyarakat Sunda ditentukan oleh sistem yang mengatur masyarakat Sunda itu.
Secara natural, ia lahir sebagai makhluk yang tanpa daya upaya. Oleh karena itu, sangatlah penting sebuah sistem dalam pergumulan kehidupan sosial umat manusia. Dalam hal ini, masyarakat Sunda telah membuat sistem organisasi kemasyarakatannya secara bersama, dan diakui serta dijalankan secara sukarela.  Akal, rasa, dan karsa yang merupakan unsur kekuatan jiwa manusia dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.  Oleh karenanya, manusia hidup dalam kelompok yang menggunakan pola pengaturan yang sistematis (sistem kemasyarakat).
Orang Sunda mengenal pengelompokan status dalam masyarakat berdasarkan materi. Ada orang kaya dan orang miskin. Orang miskin biasanya bekerja sebagai petani, buruh, pedagang asongan, dll. Sekalipun secara vertical terdapat hubungan yang bersifat super suboordinasi, tetapi secara horizontal menunjukan hubungan kooperatif-inferior. Kenyataan bahwa hampir seluruh masyarakat Sunda yang hidup di pedesaan adalah berprofesi sebagai petani.  Mereka menggunakan tanah sebagai pusat penghidupan sehari-hari.  Tanah menjadi sebuah basis sentral dalam menjalankan misi dan visi kehidupan mereka. Berdasarkan kepemilikan tanah dalam sistem masyarakat Sunda, dibagi menjadi dua, pemilik tanah dan penggarap tanah.
Berdasarkan umur seseorang dalam masyarakat Sunda, dikenal kelompok orang dewasa dan kelompok orang tua yang berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosialnya. Kelompok tua lebih berperan sebagai pembimbing. Terdapat etika dan adab yang dijalankan oleh setiap individu pada masyarakat Sunda tanpa pemaksaan.  Disini kita akan melihat betapa luhur dan agungnya budaya Sunda dalam aspek etika pergaulan di masyarakat. Seorang anak (kelompok dewasa) yang bertingkah mencampuri urusan orang tua (kelompok tua) disebut kokolot begog. Kurang baik apabila kelompok muda lebih berpartisipasi aktif melampaui perang kelompok tua,  Walaupun kapabilitas seorang pemuda lebih tinggi dari seorang tua, hal ini terkait adat dan kebiasaan masyarakat Sunda.
Penerapan tenggang rasa dapat kita rasakan ketika melihat realitas di atas. Namun, dalam beberapa kasus, masih ada peran pemuda yang memporsikan lebih dari perang orang tua. Misalnya, seorang anak menjadi penanggung jawab keutuhan dan  kebutuhan hidup keluarga dengan bekerja lebih dari pekerjaan orang tua. Terlepas dari hal ini, etika dalam sistem organisasi kemasyarakat Sunda merupakan potret ideal dalam menjalani kehidupan yang lebih dinamis. Kehidupan bersama dalam balutan gotong royong tampak terasa dalam kebiasaan nguyang, yaitu memberikan sesuatu (biasanya palawija) kepada orang lain dengan mengharap balasan yang lebih besar. Hubungan dalam masyarakat Sunda sifatnya subjektif. Artinya, kepentingan individu adalah kepentingan bersama dan kepentingan kelompok juga merupakan kepentingan individu (perseorangan).
Menyangkut masalah internal keluarga, dalam masyarakat Sunda, ayah biasa dipanggil abah dan ibu dipanggil ema. Kakek dipangil aki dan nenek dipanggil nini. Adik ayah dan ibu yang laki-laki dipanggil amang sedangkan adik ayah dan ibu yang perempuan dipanggil bibi. Dalam perkawinan, suami biasa panggil salaki dan istri dipanggil pamajikan.
Kampong bukanlah satu-satunya tempat tinggal masyarakat Sunda di desa. Pada masyarakat Baduy dan beberapa kelompok masyarakat di daerah Banten dan Sukabumi Selatan yang mayoritas berprofesi sebagai peladang (ngahuma) terdapat paling sedikit dua macam pola organisasi tempat tinggal, yaitu saung huma (dangau ladang) dan kampung. Di Jawa Barat sebenarnya hampir tidak ada desa yang perumahannya terkonsentrir di bangunan dan rumah-rumah yang terkumpul dan berkelompok pada satu tempat saja. Desa tersebar dalam satu area tertentu dengan memiliki batas desa atau batas secara historis dan administratif disetujui oleh bersama.  Biasanya batas ini ditandai dengan gapura dan patok vertikal dari beton yang terdapat tulisan nama desa tersebut.
Di daerah datar, jarak antara rumah makin besar, begitu juga pekarangannya. Pola kampung seperti ini lebih diperlukan untuk menjaga tanaman pekarangan dari gangguan binatang. Berdasarkan pengelompokan rumah-rumah dan sarana lainnya dihubungkan dengan jalan raya, sungai dan lembah, pantai sebagai indikator, maka pola desa di Jawa Barat (Sunda) dapat dibagi menjadi:
  1. Desa linier; kampung desa yang berkelompok memanjang mengikuti alur jalan desa.
  2. Desa radial; kampung desa yang berkelompok pada persimpangan jalan.
  3. Desa di sekitar alun-alun atau lapangan terbuka, pola ini dianggap imitasi dalam bentuk kecil dari kota kabupaten atau kota kecamatan.
Dalam pola desa yang menyebar, yang letaknya tersebar, biasanya penyediaan fasilitas desa terpusat di sekitar bale desa. Hal ini mengakibatkan warga desa memerlukan waktu yang cukup lama bila akan pergi ke sekolah, pasar, masjid, desa atau puskesmas. Selain itu, biasanya letak rumah penduduk berjauhan sehingga hidup bertetangga agak terbatas pada rumah yang saling berdekatan.
Baik kampong ataupun desa adalah suatu pemukiman yang mencakup sejumlah rumah dan bangunan-bangunan lainnya sebagai pelengkap dengan fungsi tertentu bagi kehidupan masyarakat dalam permukiman. Tempat bermukim yang terkecil ialah rumah dan yang terbesar adalah alam luar. Rumah dalam bahasa Sunda disebut imah, dan nu di imah  berarti istri yang memiliki wewenang sebagai pengelola rumah. Umpi atau rumah tangga merujuk pada suatu keluarga inti, terdiri atas suami, istri, dan anak-anaknya yang belum menikah. Anak-anak yang sudah berkeluarga kemudian akan membentuk umpi baru yang dalam bahasa Sunda disebut bumen-bumen atau imah sorangan, rarabi atau kurenan jika kemudian pasangan tersebut beranak. Itulah gambaran umum mengenai sistem organisasi kemasyarakatan pada masyarakat Sunda

2.3 Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda
Fasilitas yang cukup memadai dalam bidang pengetahuan maupun informasi memudahkan masyarakat dalam memilih institusi pendidikan yang akan mereka masuki dalam berbagai jenjang. Seperti pada permulaan masa kemerdekaa di Jawa Barat terdapat 358.000 murid sekolah dasar, kemudian pada tahun 1965 bertambah menjadi 2.306.164 murid sekolah dasar. Jadi berarti mengalami kenaikan sebanyak 544%. Pada saat ini pada era ke- 20 disetiap ibukota kabupaten telah tersedia universitas-universitas, fakultas-fakultas, dan cabang-cabang universitas.
Sistem politik
Desa merupakan kesatuan administrative terkecil pada masyarakat Sunda. Desa mempunyai sistem pemerintahan yang kepala desanya disebut dengan istilah yang berbeda-beda. Di desa Bojong Loa, sebelah barat Sumedang kepala desa disebut kuwu, kuwu dipilih oleh Rakyat. Ia wajib mengurus kepentingan umum berupa pembuatan jalan, selokan serta pengurusan harta benda desa.  Dalam melaksanakan tugasnya kuwu didampingi oleh pihak pihak sebagai berikut :
  1. Satu orang Juru Tulis, juru tulis bertugas mengurus administrasi pemerintahan berupa pemeliharaan arsip, daftar hak milik rakyat, pengurus pajak, dan lain-lain.
  2. Tiga orang kokolot. Kokolot merupakan penghubung rakyat dan pamong desa. Kokolot bertugas menyampaikan perintah atau pemberitahuan pamong desa kepada rakyatnya dan menyampaikan pengaduan rakyat kepada pamong desa.
  3. Satu orang kulisi, kulisi merupakan petugas yang bertanggung jawab dalam hal keamanan desa dan mengurus berbagai pelanggaran hokum warga desa. Kulisi bekerja sama dengan hansip dalam pemeliharaan desa.
  4. Satu orang ulu-ulu, ulu-ulu bertugas mangatur pembagian air dan memperbaiki selokan.
  5. Satu orang Amil, Amil bertugas mengurus masalah kematian, kelahiran, nikah talak, rujuk, pembacaan do’a pada selamatan dan sebagainya.
  6. Tiga orang pembina desa, pembina dess terdiri atas satu orang dari kepolisian dan dua orang dari Angkatan Darat.
2.4 Sistem Bahasa Masyarakat Sunda
Bahasa Sunda (Basa Sunda, dalam aksara Sunda Baku ditulis ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ) adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa. Bahasa Sunda dituturkan di sebagian besar provinsi Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi di mana penutur bahasa ini semakin berkurang), melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes dan Majenang, Cilacap Jawa Tengah, dan di kawasan selatan provinsi Banten.
Dari segi linguistik, bersama bahasa Baduy, bahasa Sunda membentuk suatu rumpun bahasa Sunda yang dimasukkan ke dalam rumpun bahasa Melayu-Sumbawa.
BAHASA SUNDA
Bahasa Sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu unda-usuk bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain yaitu :
1. Bahasa Sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
2. Bahasa Sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya.
3. Bahasa Sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian, di Serang, dan Cilegon, bahasa Banyumasan (bahasa Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh etnik pendatang dari Jawa.

Variasi dalam bahasa Sunda

Peta linguistik Jawa Barat
Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:
  • Dialek Barat
  • Dialek Utara
  • Dialek Selatan
  • Dialek Tengah Timur
  • Dialek Timur Laut
  • Dialek Tenggara
Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.
Bahasa Sunda Kuna adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering (lontar). Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini.

Sejarah dan penyebaran

Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa yang "disundakan", sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai "Cilacap".
Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama "Dieng" yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.

Fonologi

Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.
Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, and kh -> h.
Berikut adalah fonem dari bahasa Sunda dalam bentuk tabel. Pertama vokal disajikan. (Silahkan isi sesuai keinginan)


Vokal
Depan
Madya
Belakang
Tertutup
Tengah
E
ə
O
Hampir Terbuka
(ɛ)
ɤ
(ɔ)
Terbuka
A

Dan di bawah ini adalah tabel konsonan.
Konsonan
Bibir
Gigi
Langit2
keras
Langit2
lunak
Celah
suara
Sengau
m
n
ɲ
ŋ
Letap
p b
t d
c ɟ
k g
ʔ
Desis
s
h
Getar/Sisi
l r
Hampiran
w
J

 

Sistem penulisan

Huruf Besar
Huruf Kecil
Nama
Huruf Besar
Huruf Kecil
Nama
A
A
M
M
B
B
N
N
C
C
Ng
Ng
D
D
Ny
Ny
E
E
O
O
É
É
P
P
Eu
Eu
Q
Q
G
G
R
R
H
H
S
S
I
I
T
T
J
J
U
U
K
K
W
W
L
L
Y
Y

 Undak-usuk

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda - terutama di wilayah Parahyangan - mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Di bawah ini disajikan beberapa contoh.

Tempat
Bahasa Indonesia
Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
di atas ..
di luhur ..
palih luhur ..
  di belakang ..
di tukang ..
palih pengker ..
di bawah ..
di handap ..
palih handap ..
di dalam ..
di jero ..
palih lebet ..
di luar ..
di luar ..
palih luar ..
di samping ..
di sisi ..
palih gigir ..
di antara ..
dan ..
di antara ..
jeung ..
antawis ..
sareng ..

 Waktu

Bahasa Indonesia
Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
Sebelum
saacan, saencan, saméméh
Sateuacan
Sesudah
Sanggeus
Saparantos
Ketika
Basa
Nalika
Besok
Isukan
Enjing

Lain Lain

Bahasa Indonesia
Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
Lapar
Tina
Tina
Ada
Aya
Nyondong
Tidak
Embung
Alim
Saya
Urang
Abdi/sim kuring/pribados
 Perbedaan dengan Bahasa Sunda di Banten
Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa Sunda Kuna. Namun oleh mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan), Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar. Namun secara prakteknya, Bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai Bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di daerah Selatan Banten (Lebak, Pandeglang). Berikut beberapa contoh perbedaannya:
Bahasa Indonesia
Bahasa Sunda
(Banten)
Bahasa Sunda
(Priangan)
Sangat
Jasa
Pisan
Dia
Nyana
Anjeunna
Susah
Gati
Hese
Seperti
Doing
Siga
tidak pernah
Tilok
Tara
Saya
Aing
Abdi
Mereka
Maraneh
Aranjeuna
Melihat
Noong
ningali/nenjo
Makan
Hakan
tuang/dahar
Kenapa
Pan
Naha
singkong
Dangdeur
Sampeu
tidak mau
embung/endung
Alim
Belakang
Tukang
Pengker
Repot
Haliwu
Rebut
Baju
Jamang
Acuk
Teman
Orok
Batur

Contoh perbedaan dalam kalimatnya seperti:
Ketika sedang berpendapat:
  • Sunda Banten (Rangkasbitung): "Jeuuuh aing mah embung jasa jadi doang jelma nu kedul!"
  • Sunda Priangan: "Ah abdi mah alim janten jalmi nu pangedulan teh!"
  • Bahasa Indonesia: "Wah saya sangat tidak mau menjadi orang yang malas!"
Ketika mengajak kerabat untuk makan (misalkan nama kerabat adalah Eka) :
  • Sunda Banten (Rangkasbitung): "Teh Eka, maneh arek hakan teu?"
  • Sunda Priangan: "Teh Eka, badé tuang heula?"
  • Bahasa Indonesia: "(Kak) Eka, mau makan tidak?"
Ketika sedang berbelanja:
  • Sunda Banten (Rangkasbitung): "Lamun ieu dangdeur na sabarahaan mang? Tong mahal jasa."
  • Sunda Priangan: "Dupi ieu sampeu sabarahaan mang? Teu kénging awis teuing nya"
  • Bahasa Indonesia: "Kalau (ini) harga singkongnya berapa bang? Jangan kemahalan."
Ketika sedang menunjuk:
  • Sunda Banten (Rangkasbitung): "Eta diditu maranehna orok aing"
  • Sunda Priangan: " Eta palih ditu réréncangan abdi. "
  • Bahasa Indonesia: "Mereka semua (di sana) adalah teman saya"

            Meski berbeda pengucapan dan kalimat, namun bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. Berbeda halnya dengan bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan. Sementara bahasa Sunda Banten, tidak memiliki tingkatan. Penutur aktif bahasa Sunda Banten saat ini, contohnya adalah orang-orang Sunda yang tinggal di daerah Banten bagian selatan (Pandeglang, Lebak). Sementara masyarakat tradisional pengguna dialek ini adalah suku Baduy di Kabupaten Lebak.
            Sementara wilayah Utara Banten, seperti Serang, umumnya menggunakan bahasa campuran (multi-bilingual) antara bahasa Sunda dan Jawa.

 Kesusastraan dalam bahasa Sunda

Bagian ini membutuhkan pengembangan

Bilangan dalam bahasa Sunda

Bilangan
Lemes
1
Hiji
2
Dua
3
Tilu
4
Opat
5
Lima
6
Genep
7
Tujuh
8
Dalapan
9
Salapan
10
sa-puluh
11
sa-belas
12
dua belas
13
tilu belas
..
..
20
dua puluh
21
dua puluh hiji
22
dua puluh dua
..
..
100
sa-ratus
101
sa-ratus hiji
..
..
200
dua ratus
201
dua ratus hiji
..
..
1.000
sa-rebu
..
..
1.000.000
sa-juta
..
..
1.000.000.000
sa-miliar
..
..
1.000.000.000.000
sa-triliun
..
..
1.000.000.000.000.000
sa-biliun

2.5 Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Sunda
Jika dilihat dari segi letak goegrafis, masyarakat Sunda lebih banyak bermata pencaharian berkebun, karena banyak daerah yang berudara dingin seperti Bandung dan Bogor. Salah satu contoh yang dapat kami utarakan yaitu masyarakat di daerah Ciwidey, mereka lebih memilih untuk membuat kebun Strawberry sendiri di halaman rumah mereka. Begitu juga di salah satu kota kecil di Bandung yaitu Lembang, jika kita pergi kesana, kita akan banyak menemukan banyak kebun teh yang terbentang luas.
Meskipun masyarakat Sunda banyak yang bermata pencaharian berkebun, tetapi ada juga yang bermata pencaharian bertani seperti di Karawang. Di daerah tersebut masih banyak lahan pertanian yang luas dan sebagian besar masyarakat di daerah karawang bekerja sebagai petani.
Mata pencaharian pokok masyarakat Sunda adalah
1. Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
2. Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
3. Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.

Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, dan peternak.  Sistem ekonomi modern masyarakat Sunda. Jika kita pergi ke daerah Bandung kita akan banyak menemukan berbagai macam toko busana seperti factory outlet, clothing, distro, butik-butik, dan lain-lain. Bisa dikatakan Bandung adalah kota mode Indonesia yang dijuluki Paris Van Java. Kehidupan perekonomian di daerah Jawa Barat sudah terlelu kompleks oleh berbagai macam aspek kehidupan ekonomi, kota, desa, perkebunan dan sebagainya. Kota-kota di Jawa Barat berfungsi sebagai pusat perdagangan transitor dari kota-kota ini abahan mentah diteruskan ke kota-kota pelabuhan seperti : Jakarta, Cirebon, dan Cilacap kemudian dikirim keluar negeri, sesuai dengan fungsi ini, kota menjadi pusat peredaran uang dalam volume relatif besar.
Pertanian  dilaksanakan secara tradisional. Masyarakat bercocok tanam di sawah yang telah mendapatkan irigasi maupun disawah yang mesih mengandalkan air hujan. Untuk sawah yang mengandalkan air hujan, sebelum musim penghujan, tiba biasanya petani lebih dulu menanaminya dengan, suku sunda mempergunakan bahasa sunda berbagai jenis palawija, 9ubi jakar,bawang merah, kacang tanah, dan kacang kedelai) sawah yang telah beririgasi kadang-kadang dijadikan tambak ikan.
Perkembangan terlihat di tengah-tengah daerah pertanian rakyat pedesaan berkat tanahnya yang subur dan iklim yang menguntungkan, daerah Jawa Barat menjadi perkebunan penting di Indonesia. Di daerah ini terdapat anatar lain : Perkebunan teh, karet, kina, tebu dan kelapa sawit. Dari seluruh luas Jawa Barat yang lebih kurang 4,5 juta hektar besarnya, setengah juata hektar merupakan wilayah perkebunan dan selebihnya adalah sawah dan ladang.

2.6 Sistem Teknologi Masyarakat Sunda
Hasil-hasil teknologi terkini sangat mudah didapatkan seperti alat-alat yang digunakan untuk pertanian yang dasa jaman dulu masih menggunakan alat-alat tradisional, kini sekarang telah berubah menggunakan alat-alat modern, seperti traktor dan mesin penggiling padi. Disamping itu juga sudah terdapat alat-alat telekomunikasi dan barang elektronik modern.
  
2.7  Sistem Kesenian Masyarakat Sunda
Budaya sunda memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah:
 1. Seni tari : tari jaipong, tari merak, tari topeng
Adapun seni tari dalam suku sunda
a. TARI JAIPONGAN
Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu. Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.
b. TARI MERAK
Merak yaitu binatang sebesar ayam, bulunya halus dan dikepalanya memiliki seperti mahkota. Kehidupan merak yang selalu mengembangkan bulu ekornya agar menarik burung merak wanita meninspirasikan R. Tjetje Somantri untuk membuat tari Merak ini.
Dalam pertunjukannya, ciri bahwa itu adalah terlihat dari pakaian yang dipakai penarinya memiliki motif seperti bulu merak. Kain dan bajunya menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak; hijau biru dan/atau hitam. Ditambah lagi sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau ekor merak yang sedang dikembangkan. Gambaran merak bakal jelas dengan memakai mahkota yang dipasang di kepala setiap penarinya.
Tarian ini biasanya ditarikan berbarengan, biasanya tiga penari atau bisa juga lebih yang masing-masing memiliki fungsi sebagai wanita dan laki-lakinya. Iringan lagu gendingnya yaitu lagu Macan Ucul biasanya. Dalam adegan gerakan tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan.
Dari sekian banyaknya tarian yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, mungkin tari Merak ini merupakan tari yang terkenal di Indonesia dan luar negeri. Tidak heran kalau seniman Bali juga, diantaranya mahasiswa ASKI Denpasar menciptakan tari Manuk Rawa yang konsep dan gerakannya hampir mirip dengan tari Merak.
c. TARI TOPENG
Tari Topeng Priangan merupakan buah karya maestro tari Sunda Nugraha Soradiredja.  Dalam Tari Topeng terdapat 5 karakter utama atau lebih terkenal dengan TOPENG 5 Watakyaitu :
1)   Topeng Panji yang menceritakan awal kehidupan manusia, sehingga topeng yang dipakai berwarna putih bersih dan gerakannya yang lebih halus dan lembut. Bahkan hampir tidak ada gerakan berjalan.
2)   Topeng Samba atau Pamindo lebih lincah dalam gerakan karena lebih menampilkan kisah masa kanak-kanak.
3)   Topeng Rumi yang merupakan tarian dengan pase manusia telah meningkat ke akhir baligh sehingga gerakan yang lincah dan lembut berbaur menjadi satu.
4)   Topeng Patih atau Tumenggung menampilkan sosok manusia dewasa dengan gerakan yang lebih tegas.
5)   Topeng Kelana atau Rahwana menggambarkan tentang amarah pada diri manusia sehingga setiap gerakannya tegas dan memerlukan tenaga lebih besar dari watak yang lainnya.
Tari topeng  juga sering ditarikan dalam bentuk sendratari kecil selain tari topeng 5 watak ada juga  topeng 3 watak yang menceritakan tentang Rahwana yang ingin mempersunting Dewi Shinta.
Topeng 3 Watak hanya menampilkan 3 watak topeng yaitu Topeng Rumiyang atau Kencana Wungu sebagai Dewi Shinta yang ditarikan oleh penari wanita dalam balutan kostum ungu, lalu Topeng Patih dan Topeng Rahwana yang identik dengan warna merah.

2. Seni suara dan musik :
    Ø Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi, dll.
    Ø Salah satu lagu daerah Sunda antara lain yaitu Bubuy bulan, Es lilin, Manuk dadali,
       Tokecang dan warung pojok

Degung adalah kumpulan alat musik dari sunda.
Ada dua pengertian tentang istilah degung:
  1. Degung sebagai nama perangkat gamelan
  2. Degung sebagai nama laras bagian dari laras salendro ( berdasarkan teori Raden Machjar Angga Koesoemadinata).
Degung sebagai unit gamelan dan degung sebagai laras memang sangat lain. Dalam teori tersebut, laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan degung triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).

Jenis Gamelan Dalam Seni Sunda Terutama Degung

Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyaraka dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat.
Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.
Ada gamelan yang sudah lama terlupakan yaitu KOROMONG yang ada di Kp. Lamajang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Gamelan ini sudah tidak dimainkan sejak kira-kira 35 – 40 tahun dan sudah tidak ada yang sanggup untuk menabuhnya karena gamelan KOROMONG ini dianggap mempunyai nilai mistis. Gamelan KOROMONG ini sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik. Untuk supaya gamelan KOROMONG ini dapat ditabuh, maka kata yang memegang dan merawat gamelan tersebut harus dibuat Duplikatnya.

Menyimak Sejarah Degung

Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreasi urang Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).
Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.
Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.
Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).
Dulu gamelan degung hanya ditabuh secara gendingan (instrumental). Bupati Cianjur RT. Wiranatakusumah V (1912—1920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena membuat suasana kurang serius (rucah). Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati Bandung, maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa bersama nayaganya, dipimpin oleh Idi. Sejak itu gamelan degung yang bernama Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya.
Melihat dan mendengarkan keindahan degung, salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang, Anang Thayib, merasa tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya. Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Oleh karena itu dia mengajukan permohonan kepada bupati agar diijinkan menggunakan degung dalam hajatannya, dan diijinkannya. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan) umum. Permohonan semacam itu semakin banyak, maka bupati memerintahkan supaya membuat gamelan degung lagi, dan terwujud degung baru yang dinamakan Purbasasaka, dipimpin oleh Oyo.
Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas koromong (bonang) 13 penclon, cempres (saron panjang) 11 wilah, degung (jenglong) 6 penclon, dan goong satu buah. Kemudian penambahan-penambahan waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal, misalnya penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. Gamelan degung kabupaten Bandung, bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921 dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut. Sebelumnya, tahun 1918 Rd. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen dengan musik degung, yang dipentaskan di Medan. Tahun 1926 degung dipakai untuk illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng oleh L. Heuveldrop dan G. Kruger produksi Java Film Company, Bandung. Karya lainnya yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya dikusumah oleh M. Idris Sastraprawira dan Rd. Djajaatmadja di Purwakarta tahun 1931.
Setelah di meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya. Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat. Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. Tarya, Ono Sukarna, dan E. Tjarmedi. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada, mereka menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya. Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa. Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta berita bahasa Sunda, sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda dalam hati masyarakat.
Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Selanjutnya E. Tjarmedi dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit (sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Rahmat Sukmasaputra juga merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. Selain itu, seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata, degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo).
Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam degung. Tetapi hal ini tidak berkembang. Tahun 1961 RS. Darya Mandalakusuma (kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang, saron, dan rebab. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana. Gamelan degung ini dinamakan degung Si Pawit. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan. Dari rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan ini. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro pelog, misalnya lagu Paksi Tuwung, Kembang Kapas, dsb. Pada tahun 1964, Mang Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan salendro (dwi swara). Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. Dibanding degung yang ada pada waktu itu, surupannya lebih tinggi. Keberadaan degung ini sebagai realisasi teori R. Machyar. Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan Wahyu Wibisana.
Tahun 1970—1980-an semakin banyak yang menggarap degung, misalnya Nano S. dengan grup Gentra Madya (1976), lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan Euis Komariah, degung Gapura pimpinan Kustyara, dan degung gaya Ujang Suryana (Pakutandang, Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri permainan sulingnya yang khas. Tak kalah penting adalah Nano S. dengan grup Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya. Nano S. membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri. Beberapa lagu degung karya Nano S. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran, di antaranya Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan Kaheman (1981), Anjeun (1984) dan Kalangkang yang dinyanyikan oleh Nining Meida dan Barman Syahyana (1986). Lagu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos sekitar tahun 1987.
Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an) dimana para penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden; ronggeng), para penyanyi degung sekarang (sejak 1970-an) kebanyakan berasal dari kalangan mamaos (tembang Sunda Cianjuran), baik pria maupun wanita. Juru kawih degung yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya Euis Komariah, Ida Widawati, Teti Afienti, Mamah Dasimah, Barman Syahyana, Didin S. Badjuri, Yus Wiradiredja, Tati Saleh dan sebagainya.
Lagu-lagu degung di antaranya: Palwa, Palsiun, Bima Mobos (Sancang), Sang Bango, Kinteul Bueuk, Pajajaran, Catrik, Lalayaran, Jipang Lontang, Sangkuratu, Karang Ulun, Karangmantri, Ladrak, Ujung Laut, Manintin, Beber Layar, Kadewan, Padayungan, dsb. Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: Samar-samar, Kembang Ligar, Surat Ondangan, Hariring Bandung, Tepang Asih, Kalangkang, Rumaos, Bentang Kuring, dsb.

ANGKLUNG
Angklung
Saung Mang Udjo adalah salah satu tempat pertunjukkan angklung dan beberapa budaya sunda yang ada di kota Bandung didirikan oleh seorang budayawan yang bernama (alm) Udjo Ngalagena dan Istrinya Uum Sumiyati pada tahun 1966, pada waktu itu beliau memiliki cita - cita untuk menyebarluaskan pengetahuannya mengenai Angklung dan Budaya Sunda ke anak2 daerah sekitar ( daerah Padasuka) yang pada akhirnya berkembang sampai sekarang menjadi tempat pertunjukkan pariwisata berkelas internasional.

            Disana terdapat juga sanggar yang mengajarkan mengenai
kebudayaan sunda itu sendiri, banyak anak - anak Bandung yang menjadi anggota sanggar tersebut untuk mempelajari kebudayaan sunda dan seni pertunjukkan. Jadi tempat itu juga dijadikan sebagai objek wisata khas Jawa Barat yang mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa (CMIIW)
Alat musik sunda yang lainnya:
1. Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
2. KETUK TILU Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
3. SENI BANGRENG Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni “Terbang” dan “Ronggeng”. Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan “Terbang”, yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil.
4. RENGKONG Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi sampai dengan menuainya
5. KUDA RENGGONG Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
6. KECAPI SULING Kacapi Suling adalah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.
7. Rampak Kendang
Rampak Kendang merupakan sajian kesenian yang memainkan kendang (Gendang) lebih dari satu perangkat secara bersama-sama. Rampak dalam bahasa Sunda berarti bersama-sama atau serempak, sehingga Rampak Kendang berarti bermain kendang secara serempak.
Rampak Kendang merupakan sajian kesenian yang memainkan kendang (Gendang) lebih dari satu perangkat secara bersama-sama. Rampak dalam bahasa Sunda berarti bersama-sama atau serempak, sehingga Rampak Kendang berarti bermain kendang secara serempak.
Menurut hasil survey pemerintahan provinsi Jawa Barat, tercatat lebih dari 350 jenis kesenian yang berkembang di Jawa Barat. Sebagian ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sakral dari ritual kepercayaan lokal, seperti kesenian sidekah bumi. Banyak pula kesenian Sunda yang berupa tontonan hiburan masyarakat, seperti Wayang Golek dan Ibing Tarawangsa. Kesenian yang berupa permainan anak disebut Kaulinan Urang Lembur, diantaranya Sorodot Gaplok, Tatarucingan, Ucing Sumput, Ngadu Muncang, Bebentengan, Egrang, dll. Banyak hal yang bisa dipelajari dari kearifan kebudayaan suku Sunda (local wisdom) dan merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Pertarungan; budaya lokal dengan budaya global jangan sampai mengasingkan masyarakat kita dari nilai tradisi hingga tercerabut dari akar budaya asal. Mari kita pertahankan budaya sendiri sebagai khazanah kekayaan budaya Indonesia.
.
3. Wayang golek
Dalam satu dasawarsa kebelakang, kesenian Wayang golek masih cukup eksis. Beberapa keluarga yang menggelar hajatan masih banyak yang menanggap kesenian Wayang Golek yang kini sudah semakin tergerus oleh kesenian asing yang mereduksi signifikan kesenian peninggalan leluhur ini. Namun ketika arus modernisasi yang juga serta-merta membawa kebudayaan asing—terutama kebudayaan Barat ke dalam negeri ini— masuk tanpa bisa dicegah secara otomatis kebudayaan lokal yang seharusnya diberdayakan malah keteteran dan hampir dilupakan.
Sejarah Wayang Golek
Ketika masa awal kemunculan kesenian Wayang Golek di masa Kerajaan Padjajaran fungsi Wayang Golek ada dua; sebagai upacara ritual atau ruwatan, dan untuk hiburan. Fungsi Wayang Golek untuk ruwatan biasanya digunakan dalam peruwatan rumah, anak, surambi (4 orang putera), pandawa lima (lima orang putera), talaga tanggal kausak (seorang putera diapir dua puteri), dan samudera hapit sindang (seorang puteri diapit dua putera).
Wayang Golek untuk hiburan dipergunakan untuk upacara dan perayaan khusus seperti khitanan, perkawinan, perayaan karawitan, hari jadi, hari-hari besar dan penyambutan tamu-tamu negara. Wayang golek yang dikenal kita adalah wayang golek purwa, wayangnya terbuat dari kayu menyerupai bentuk manusia yang disebut golek oleh karena itu disebut wayang golek.
Setidaknya ada dua macam Wayang Golek dalam tatar sunda yakni Wayang Golek Papak dan Wayang Golek Purwa. Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer di masyarakat. Lakon-lakon wayang golek memiliki lakon galur dan carangan yang semuanya bersumber dari cerita ramayana dan Mahabrata. Kesemuanya lakon dalam pementasan Wayang Goleh begitu sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan filosofis.
Pembawa cerita disebut Dalang sekaligus pemimpin pertunjukan menyuarakan anat wacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dll. Wayang golek purwa memakai bahasa Sunda, karawitan pengiringnya berlaras salendro yang terdiri dari waditra dua saron, satu peking, satu salentem, satu bonang, satu rincik, satu perangkat kenong, sepasang goong, kempul goong dan seperangkat kendang (satu indung 3 kulanter), gambang, rebab, wira suara (juru alok), sinden
4.      Senjata tradisional yaitu kujang

Senjata khas dan unik dari provinsi Jawa Barat adalah kujang. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9. Kujang biasanya terbuat dari besi atau baja. Panjang kujang sekitar 20 cm hingga 25 cm, dan berat kujang bisa mencapai 300 gram.
Selain sebagai senjata, masyarakat Jawa Barat menggunakan kujang juga sebagai alat pertanian, hiasan, maupun cenderamata. Kujang merupakan alat yang melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Pada zaman dahulu, kujang digunakan oleh orang-orang tertentu saja, misalnya, raja, prabu anom, golongan pangiwa, penengen, agamawan, serta para putri raja.
Menurut beberapa peneliti, kujang berasal dari kata kudihyang, atau Kudi dan Hyang. Kudi, dalam Bahasa Sunda Kuno berarti senjata yang memiliki kekuatan sakti. Sedangkan Hyang berarti Dewa. Jadi, secara umum kujang dapat berarti senjata yang memiliki kekuatan sakti dari para dewa.
Bagian dari senjata kujang adalah papatuk / congo, yaitu ujung kujang yang menyerupai panah. Ada pula eluk / silih, yaitu lekukan pada bagian punggung. Ada pula tadah, yaitu lengkungan menonjol pada bagian perut, dan mata, yaitu lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak.
Berdasarkan fungsinya, kujang terbagi empat, antara lain: Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang).  Berdasarkan bentuk bilah, kujang terbagi menjadi Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Di samping itu terdapat pula bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.
Kelompok Pemilik Kujang
Konon, pada zaman Kerajaan Pajajaran masih berdiri, senjata kujang hanya boleh dimiliki oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu berdasarkan status sosialnya dalam masyarakat, seperti: raja, prabu anom (putera mahkota), golongan pangiwa, golongan panengen, golongan agama, para puteri serta kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Sedangkan bagi rakyat kebanyakan, hanya boleh mempergunakan senjata tradisional atau pakakas, seperti golok, congkrang, sunduk, dan kujang yang fungsinya hanya digunakan untuk bertani dan berladang.
Setiap orang atau golongan tersebut memiliki kujang yang jenis, bentuk dan bahannya tidak boleh sama. Misalnya, kujang ciung yang bermata sembilan buah hanya dimiliki oleh Raja, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom, dan kujang ciung yang bermata lima buah hanya boleh dimiliki oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis dan Bupati Pakuan. Selain oleh ketiga golongan tersebut, kujang ciung juga dimiliki oleh para tokoh agama. Misalnya, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh para pandita atau ahli agama, kujang ciung bermata lima buah dimiliki oleh para Geurang Puun, kujang ciung bermata tiga buah dimiliki oleh para Guru Tangtu Agama, dan kujang ciung bermata satu buah dimiliki oleh Pangwereg Agama. Sebagai catatan, para Pandita ini sebenarnya memiliki jenis kujang khusus yang bertangkai panjang dan disebut kujang pangarak. Kujang pangarak umumnya digunakan dalam upacara-upacara keagamaan, seperti upacara bakti arakan dan upacara kuwera bakti sebagai pusaka pengayom kesentosaan seluruh negeri.
Begitu pula dengan jenis-jenis kujang yang lainnya, seperti misalnya kujang jago, hanya boleh dimiliki oleh orang yang mempunyai status setingkat Bupati, Lugulu, dan Sambilan. Jenis kujang kuntul hanya dipergunakan oleh para Patih (Patih Puri, Patih Taman, Patih Tangtu, Patih Jaba, dan Patih Palaju) dan Mantri (Mantri Majeuti, Mantri Paseban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero). Jenis kujang bangkong dipergunakan atau dibawa oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas, dan Guru Cucuk. Jenis kujang naga dipergunakan oleh para Kanduru, Para Jaro (Jaro Awara, Jaro Tangtu, dan Jaro Gambangan). Dan, kujang badak dipergunakan oleh para Pangwereg, Pamatang, Panglongok, Palayang, Pangwelah, Baresan, Parajurit, Paratutup, Sarawarsa, dan Kokolot.
Sedangkan, kepemilikan kujang bagi kelompok wanita menak (bangsawan) dan golongan wanita yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu, misalnya Putri Raja, Putri Kabupatian, Ambu Sukla, Guru Sukla, Ambu Geurang, Guru Aes, dan para Sukla Mayang (Dayang Kabupatian), kujang yang dipergunakan adalah kujang ciung dan kujang kuntul. Sementara untuk kaum perempuan yang bukan termasuk golongan bangsawan, biasanya mereka mempergunakan senjata yang disebut kudi. Senjata kudi ini berbahan besi baja, bentuk kedua sisinya sama, bergerigi dan ukurannya sama dengan kujang bikang (kujang yang dipergunakan wanita) yang langsing dengan ukuran panjang kira-kira satu jengkal (termasuk tangkainya).

Cara Membawa Kujang

Sebagai sebuah senjata yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan-kekuatan magis tertentu, maka kujang tidak boleh dibawa secara sembarangan. Ada cara-cara tertentu bagi seseorang apabila ia ingin pergi dengan membawa senjata kujang, diantaranya adalah: (a) disoren, yaitu digantungkan pada pinggang sebelah kiri dengan menggunakan sabuk atau tali pengikat yang dililitkan di pinggang. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara disoren ini biasanya adalah kujang yang bentuknya lebar (kujang galabag), seperti: kujang naga atau kujang badak; (b) ditogel, yaitu dibawa dengan cara diselipkan pada sabuk bagian depan perut tanpa menggunakan tali pengikat. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara demikian biasanya adalah kujang yang bentuknya ramping (kujang bangking), seperti kujang ciung, kujang kuntul, kujang bangkong, dan kujang jago; (c) dipundak, yaitu dibawa dengan cara dipikul tangkaian di atas pundak, seperti memikul tumbak. Kujang yang dibawa dengan cara demikian adalah kujang pangarak, karena memiliki tangkai yang cukup panjang; dan (d) dijinjing, yaitu membawa kujang dengan cara ditenteng atau dipegang tangkainya. Kujang yang dibawa dengan cara seperti ini biasanya adalah kujang pamangkas atau kujang yang tidak memiliki kowak atau warangka.
Nilai Budaya
Pembuatan kujang, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk kujang yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah kujang yang indah dan sarat makna. (pepeng)



BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kebudayaan sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan – kebudayaan lain. Secaraumum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda , sering dikenal dengan masyarakat religius.Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “ silih asih, silih asah dan silih asuh, saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling malindungi.Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan,rendah hati terhadap sesama, kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih kecil.Pada kebudayaan sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.
Budaya sunda memiliki banyak kesenian , diantaranya adalah kesenian sisngaan, tarian khas sunda, wayang golek,permainan anak kecil yang khas,alat musik sunda yang bisanya digunakan pada pagelaran kesenian.
3.2 Saran
            Semoga dengan makalah ini , pembaca bisa sedikit lebih tau tentang kebudayaan sunda. Tentang sistem religi, sistem organisasi kemasyarakatannya, sistem pengetahuan, sistem bahasa, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, dan kesenian masyarakat sunda.



DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan
http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/05/21/sistem-organisasi-masyarakat-sunda-potret-kehidupan-urang-sunda/
http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/09/sistem-ekonomi-masyarakat-sunda/
 http://www.proghita.com/seni-sunda-degung-sejarah-dan-perkembangannya/
http://panoramaindonesia.blogdetik.com/2010/10/17/angklung/
http://bandung.panduanwisata.com/menelusuri-jejak-kesenian-sunda-wayang-golek/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TEORI STRUKTURALISME

Makalah Kebudayaan Sulawesi