Makalah Kebudayaan Sunda
Makalah Kebudayaan Sunda
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Sunda
sebagai nama kerajaan kiranya baru muncul pada abad ke- 8 sebagai lanjutan atau
penerus kerajaan Tarumanegara. Pusat kerajaannya berada disekitar Bogor, sekarang. Sejarah Sunda mengalami babak baru karena arah pesisir utara
di Jayakarta (Batavia) masuk kekuasaan kompeni Belanda sejak (1610) dan dari
arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram (sejak 1625). Menurut RW.
Van Bemelan pada tahun 1949, Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk
menamai dataran bagian barat laut wilayah India timur, sedangkan dataran bagian
tenggara dinamai Sahul. Suku Sunda merupakan kelompok etnis yang berasal dari
bagian barat pulau Jawa, Indeonesia yaitu berasal dan bertempat tinggal
di Jawa Barat. Daerah yang juga sering disebut Tanah Pasundan atau Tatar Sunda.
Seperti pada kebudayaan Melayu,
kebudayaan sunda termasuk kebudayaan tertua yang ada di Indonesia. Kebudayaan
sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja – raja
sunda. Ada beberapa watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju
keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda
itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter. Kebudayaan
sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi
bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Hampir
semua masyarakat sunda beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama
islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan ditujukan untuk
alam semesta.
Secara
cultural daerah Pasundan di daerah timur dibatasi oleh sungai-sungai Cilosari
dan Citanduy, yang merupakan perbatassan bahasa. Wilayah ini sendiri memiliki luas 55.390 km²
serta terdiri atas 20 kabupaten. Tanah Pasundan ini dikenal karena
iklimnya yang sejuk dan keindahan panoramanya. Berada di daerah dataran tinggi dengan curah
hujan tinggi sehingga kesuburan tanahnya tidak diragukan lagi. Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang
lebih 33 juta jiwa, kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat. Nama mereka sering dianggap sebagai orang Sundan di Afrika
dan salah dieja dalam ensiklopedia. Beberapa koreksi ejaan dalam
komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese.
2.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang dan judul di atas maka penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem
religi dan upacara keagamaan kebudayaan sunda ?
2. Bagaimana
sistem organisasi masyarakat sunda ?
3. Bagaimana
sistem pengetahuan masyarakat sunda ?
4. Bagaimana
sistem bahasa masyarakat sunda ?
5. Bagaimana
sistem mata pencaharian masyarakat sunda ?
6. Bagaimana
sistem teknologi masyarakat sunda ?
7. Apa saja kesenian yang terdapat
dalam kebudayaan sunda ?
2.3 Tujuan
Sesuai
dengan rumusan masalah maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui sistem religi dan upacara keagamaan kebudayaan sunda.
2.
Untuk mengetahui organisasi dan kemasyarakatan masyarakat sunda.
3.
Untuk mengetahui sistem pengetahuan masyarakat sunda.
4.
Untuk mengetahui sistem bahasa masyarakat sunda.
5.
Untuk mengetahui sistem mata pencaharian masyarakat sunda.
6.
Untuk mengetahui sistem teknologi masyarakat sunda.
7.
Untuk mengetahui kesenian kebudayaan sunda?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem
Religi dan Upacara Keagamaan Kebudayaan Sunda
Sebagain
besar masyarakat suku Sunda menganut agama Islam, namun ada pula yang beragama Kristen, Hindu, Budha, dll. Mereka itu tergolong pemeluk agama yang taat, karena bagi
mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama. Contohnya dalam menjalankan ibadah puasa, sholat lima waktu,
serta berhaji bagi yang mampu. Mereka juga masih mempercayai adanya
kekuatan gaib. Terdapat juga adanya upacara-upacara yang berhubungan dengan
salah satu fase dalam lingkaran hidup, mendirikan rumah, menanam padi, dan
lain-lainnya.
Suasana kehidupan sehari-hari, pendidikan dan
kebudayaannya penuh dengan
nilai-nilai keislaman. Masyarakat Sunda
pada umumnya yang ada di pedesaan masih kuat kepercayaannya pada mitos dan
takhayul. Mereka
datang ke makam-makam suci
sebagai tanda kaul atau penyampaian permohonan atau meminta restu sebelum
mengadakan suatu usaha pesta atau perkawinan.
Kepercayaan
pada cerita-cerita mitos dan ajaran agama sering diliputi oleh
kekuatan-kekuatan gaib. Upacara-upacara
adat berhubungan dengan salah satu fase lingkaran hidup manusia yang berhubungan
dengan kaul, mendirikan rumah, menanam padi. Para
petani mengenal dongeng-dongeng yang bersangkut paut dengan tanaman padi antara
lai Nyi Pohaci,
Sanghyang Sri. Bagi kita yang hidup di zaman modern ini,
yang telah terbiasa untuk menggunakan logika ilmu pengetahuan, dunia mitos
seolah olah mengingkari logika itu.
Meskipun tampak sering tidak
sistematis, akan tetapi di balik cerita tersebut terdapat makna yang mempunyai
nilai penting dalam kehidupan. Cerita –
cerita mitos di samping agama mempunyai fungsi mengatur sikap dan sistem nilai
manusia, mempertahankan tertib sosial dalam lingkungan masyarakat yang belum
bayak menggunakan prinsip ilmu pengetahuan modern. Itulah sebabnya di daerah
pedesaan disamping orang taat menjalankan kewajiban agamanya , sering pula
melakukan upacara – upacara yang tidak terdapat dalam agama.
Dalam alam pikiran orang petani Sunda di daerah pedesaan,
batas antara unsur Islam dan bukan Islam sudah tidak disadari lagi. Unsur – unsur dari berbagai sumber itu sudah
terintegrasikan menjadi satu dalam sistem kepercayaannya, dan telah dan telah
ditanggapi oleh orang – orang itu dengan emosi yang sama.
Dilihat dari sudut pelaksanaan dari kehidupan beragama,
upacara selamatan merupakan suatu upacara terpenting. Aspek yang harus diperhatikan dalam upacara
tersebut yang pertama yaitu aspek waktu.
Bilamana selamatan itu diadakan, di Priangan biasanya dilakukan pada
kamis sore, malam Jumat. Kemudian
mengenai orang – orang yang diundang
adalah segi yang lain yaitu para tetangga. Biasanya undangan dilakukan secara lisan
dengan cara mendatangi rumah yang diundang.
Biasanya anggota kerabat laki-laki dari keluarga itu yang datang. Pada umumnya pakaian yang dikenakan adalah
sarung dengan menggunakan kopiah.
Selamatan hanya dapat berlangsung kalau ada orang yang dapat
menyampaikan doa atau sering disebut dengan modin. Upacara dimulai dengan mengucapkan Alfatihah
dan diakhiri lagi dengan Alfatihah pula.
Isinya tergantung daripada maksud mengadakan selamatan itu.
Hidangan selamatan di Jawa Barat biasanya berupa
tumpengan, yaitu gundukan nasi seperti bentuk gunung dan diberi
warna kuning (kunyit) dan di dalamnya ada
kentang, telur dan daging ayam yang
diletakkan di atas baki yang dibuat dari baki yang dibuat dari bambu atau
kayu. Di daerah Pasundan berbeda dengan
di Jawa, lauk dan ikannya terdapat di dalam nasi tumpeng. Dalam selamatan orang tidak banyak
bicara. Waktu makannya tidak lama dan setelah
selesai mereka tidak duduk untuk beramah tamah, akan tetapi para undangan
biasanya meminta untuk mengundurkan diri maka selesailah acara selamatan itu.
Upacara lain
yang erat kaitannya dengan agama adalah akekah, yaitu memotong kambing sebelum bayi berumur 40 hari. Satu ekor kambing untuk bayi perempuan dan 2 ekor kambing untuk
bayi laki-laki. Selain itu upacara keagamaan lainnya
adalah sunatan dan tahlilan untuk mendoakan orang meninggal. Tahlilan
dilaksanakan pada hari ke 3,7,40 dan 100 setelah orang meninggal tersebut.
Pada acara
tertentu seringkali kebudayaan bersifat tradisional dilaksanakan dengan alasan
nurutkan kali parani karuhun, artinya mengikuti kebudayaan nenek moyang.
Misalnya pada acara sebagai berikut :
- Tujuh
bulanan, yaitu saat wanita yang sedang mengandung usia kehamilannya
mencapai tujuh bulan. Wanita hamil tersebut memakai kain sampai batas dada
dan disiram dengan air kembang yang berisi belut oleh para orang tua
secara bergiliran. Setelah mandi ada acara jual rujak kepada kaum kerabat,
uangnya adalah pecahan genteng yang dibulatkan. Acara memecahkan kelapa
muda dan dengan berbagai bunga dan kendi di perempatan atau pertigaan jalan (jalan ngolecer)
sebagai simbol kelancaran dalam melahirkan.
- Acara
Sembilan Bulanan, yaitu dilakukan pada saat usia kehamilan mencapai usia 9
bulan, diadakan acara mencoreng muka dengan bedak antar kerabat,
dilanjutkan dengan pembagian bubur lolos (bubur yang diberi tepung beras
sebagian diberi gula sebagian tidak, sehingga warnanya menjadi merah putih)
kalau ditekan terasa lain, merupakan simbol harapan si ibu agar melahirkan anaknya mudah, lancar dan
selamat.
- Acara
Puput Puser, dilakukan saat mengeringnya
tali puser bayi (plasenta) yang dianggap sebagai saudaranya bayi, sehingga
pada saat bayi lahir, plasenta dijaga dengan baik sebelum dikubur atau
digantung di atas langit –langit dapur (hal ini bergantung pada letak
unsur bayi pada plasenta).
- Sebelum
plasenta disimpan (dikubur / digantung) dalam pendil ( tempat dari tanah
tembikar bertutup), dan diberi bumbu, seperti gula, garam dan asam dengan
maksud agar anaknya kelak berperangai baik, berbudi pekerti, dan gampang
rejekinya. Usus bayi yang sedang mengiring dari pusar, biasanya disimpan
dalam kantong kain (kanjut kundang) dan diberi potongan-potongan kunyit,
cabe merah, jahe, kuning, panglay dan sebagainya. Kantong tersebut,
disimpan dibelakang kepala
bayi bersama dengan cermin, dengan harapan bayi tersebut tidak diganggu
mahkluk halus.
- Acara-acara
dan perkawinan, misalnya dalam acara siraman, yaitu mandi seperti pada
acara tujuh bulanan hanya air kembang tidak dipakai belut ngeuyeuk pintu
setelah akad nikah.
Di beberapa tempat seperti di Cirebon, acara Maulidan
sering dipergunakan untuk acara membersihkan barang-barang yang dianggap
keramat, seperti : Keris, bat dan sebagainnya. Pada zaman dulu, beberapa
masyarakat pedesaan mempunyai kepercayaan terhadap roh halus, seperti Jurig,
Genderewo dan Kuntilanak. Untuk mengatasinya diadakan acar kukuran, bakar
kemenyan, dengan mengucapkan sejumlah mantera, pemberian congot manik (tumpeng
kecil) di tempat-tempat tertentu yang dianggap ada, penghuni roh halusnya
seperti kamar mandi, pohon beringin, kuburan, dan sebagainya.
2.2
Sistem Organisasi dan Kemasyarakat Masyarakat Sunda
Sistem merupakan kumpulan dari beberapa subsistem yang terakumulasi kedalam
sebuah kesepakatan bersama yang bersifat abstrak. Sistem tersebut mengandung
nilai dan kebutuhan yang kooperatif. Masyarakat adalah kelompok manusia sebagai
individu yang hidup bersama di satu wilayah strategis berdasarkan pada
nilai-nilai bersama untuk mencapai tujuan bersama. Sistem organisasi masyarakat
Sunda berarti kesepakatan abstrak yang dimiliki oleh masyarakat Sunda. Masyarakat
Sunda terdiri atas kelompok-kelompok kecil (individu). Pengorganisasian masyarakat
Sunda ditentukan oleh sistem yang mengatur masyarakat Sunda itu.
Secara
natural, ia lahir sebagai makhluk yang tanpa daya upaya. Oleh karena itu,
sangatlah penting sebuah sistem dalam pergumulan kehidupan sosial umat manusia.
Dalam hal ini, masyarakat Sunda telah membuat sistem organisasi
kemasyarakatannya secara bersama, dan diakui serta dijalankan secara
sukarela. Akal, rasa, dan karsa yang merupakan unsur kekuatan jiwa
manusia dapat menciptakan
hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Oleh
karenanya, manusia hidup dalam kelompok yang menggunakan pola pengaturan yang
sistematis (sistem kemasyarakat).
Orang Sunda
mengenal pengelompokan status dalam masyarakat berdasarkan materi. Ada orang
kaya dan orang miskin. Orang miskin biasanya bekerja sebagai petani, buruh,
pedagang asongan, dll. Sekalipun secara vertical terdapat hubungan yang
bersifat super suboordinasi,
tetapi secara horizontal menunjukan hubungan kooperatif-inferior. Kenyataan
bahwa hampir seluruh masyarakat Sunda yang
hidup di pedesaan adalah berprofesi sebagai petani. Mereka menggunakan tanah sebagai pusat
penghidupan sehari-hari. Tanah menjadi sebuah basis sentral
dalam menjalankan misi dan visi kehidupan mereka. Berdasarkan kepemilikan tanah
dalam sistem masyarakat Sunda, dibagi menjadi dua, pemilik tanah dan penggarap
tanah.
Berdasarkan
umur seseorang dalam masyarakat Sunda, dikenal kelompok orang dewasa dan
kelompok orang tua yang berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosialnya.
Kelompok tua lebih berperan sebagai pembimbing. Terdapat etika dan adab yang
dijalankan oleh setiap individu pada masyarakat Sunda tanpa pemaksaan. Disini kita
akan melihat betapa luhur dan agungnya budaya Sunda dalam aspek etika pergaulan
di masyarakat. Seorang anak (kelompok dewasa) yang bertingkah mencampuri urusan
orang tua (kelompok tua) disebut kokolot begog. Kurang baik apabila
kelompok muda lebih berpartisipasi aktif melampaui perang kelompok tua, Walaupun kapabilitas seorang pemuda lebih tinggi dari seorang
tua, hal ini terkait adat dan kebiasaan masyarakat Sunda.
Penerapan
tenggang rasa dapat kita rasakan ketika melihat realitas di atas. Namun, dalam
beberapa kasus, masih ada peran pemuda yang memporsikan lebih dari perang orang
tua. Misalnya, seorang anak menjadi penanggung jawab keutuhan dan kebutuhan hidup keluarga
dengan bekerja lebih dari pekerjaan orang tua. Terlepas dari hal ini, etika
dalam sistem organisasi kemasyarakat Sunda merupakan potret ideal dalam menjalani kehidupan yang lebih
dinamis. Kehidupan bersama dalam balutan gotong royong tampak terasa dalam
kebiasaan nguyang, yaitu memberikan sesuatu (biasanya palawija) kepada
orang lain dengan mengharap balasan yang lebih besar. Hubungan dalam masyarakat
Sunda sifatnya subjektif. Artinya, kepentingan individu adalah kepentingan bersama
dan kepentingan kelompok juga merupakan kepentingan individu (perseorangan).
Menyangkut
masalah internal keluarga, dalam masyarakat Sunda,
ayah biasa dipanggil abah dan ibu dipanggil ema. Kakek dipangil aki
dan nenek dipanggil nini. Adik ayah dan ibu yang laki-laki dipanggil amang
sedangkan adik ayah dan ibu yang perempuan dipanggil bibi. Dalam
perkawinan, suami biasa panggil salaki dan istri dipanggil pamajikan.
Kampong
bukanlah satu-satunya tempat tinggal masyarakat Sunda di desa. Pada masyarakat
Baduy dan beberapa kelompok masyarakat di daerah Banten dan Sukabumi Selatan
yang mayoritas berprofesi sebagai peladang (ngahuma) terdapat paling
sedikit dua macam pola organisasi tempat tinggal, yaitu saung huma
(dangau ladang) dan kampung. Di Jawa Barat sebenarnya hampir tidak ada desa
yang perumahannya terkonsentrir di bangunan dan rumah-rumah yang terkumpul dan
berkelompok pada satu tempat saja. Desa tersebar dalam satu area tertentu
dengan memiliki batas desa atau batas secara historis dan administratif
disetujui oleh bersama. Biasanya batas ini ditandai dengan
gapura dan patok vertikal dari beton yang terdapat tulisan nama desa tersebut.
Di daerah
datar, jarak antara rumah makin besar, begitu juga pekarangannya. Pola kampung
seperti ini lebih diperlukan untuk menjaga
tanaman pekarangan dari gangguan binatang. Berdasarkan pengelompokan
rumah-rumah dan sarana lainnya dihubungkan dengan jalan raya, sungai dan
lembah, pantai sebagai indikator, maka pola desa di Jawa Barat (Sunda) dapat
dibagi menjadi:
- Desa linier; kampung desa yang berkelompok
memanjang mengikuti alur jalan desa.
- Desa radial; kampung desa yang berkelompok pada
persimpangan jalan.
- Desa di sekitar alun-alun atau lapangan terbuka, pola ini dianggap imitasi dalam bentuk kecil dari
kota kabupaten atau kota kecamatan.
Dalam pola
desa yang menyebar, yang letaknya tersebar, biasanya penyediaan fasilitas desa
terpusat di sekitar bale desa. Hal ini mengakibatkan warga desa memerlukan
waktu yang cukup lama bila akan pergi ke sekolah, pasar, masjid, desa atau
puskesmas. Selain itu, biasanya letak rumah penduduk berjauhan sehingga hidup bertetangga agak terbatas pada rumah
yang saling berdekatan.
Baik kampong
ataupun desa adalah suatu pemukiman yang mencakup sejumlah rumah dan
bangunan-bangunan lainnya sebagai pelengkap dengan fungsi tertentu bagi
kehidupan masyarakat dalam permukiman. Tempat bermukim yang terkecil ialah
rumah dan yang terbesar adalah alam luar. Rumah dalam bahasa Sunda disebut imah,
dan nu di imah berarti istri yang memiliki wewenang sebagai
pengelola rumah. Umpi atau rumah tangga merujuk pada suatu keluarga
inti, terdiri atas suami, istri, dan anak-anaknya yang belum menikah. Anak-anak
yang sudah berkeluarga kemudian akan membentuk umpi baru yang dalam
bahasa Sunda disebut bumen-bumen atau imah sorangan, rarabi atau kurenan
jika kemudian pasangan tersebut beranak. Itulah gambaran umum mengenai
sistem organisasi kemasyarakatan pada masyarakat Sunda
2.3
Sistem Pengetahuan Masyarakat Sunda
Fasilitas
yang cukup memadai dalam bidang pengetahuan maupun informasi memudahkan
masyarakat dalam memilih institusi pendidikan yang akan mereka masuki dalam
berbagai jenjang. Seperti pada permulaan masa kemerdekaa di Jawa Barat terdapat
358.000 murid sekolah dasar, kemudian pada tahun 1965 bertambah menjadi
2.306.164 murid sekolah dasar. Jadi berarti mengalami kenaikan sebanyak 544%.
Pada saat ini pada era ke- 20 disetiap ibukota kabupaten telah tersedia
universitas-universitas, fakultas-fakultas, dan cabang-cabang universitas.
Sistem politik
Desa merupakan kesatuan administrative terkecil pada masyarakat Sunda. Desa
mempunyai sistem pemerintahan yang kepala desanya disebut dengan istilah yang
berbeda-beda. Di desa Bojong Loa, sebelah barat Sumedang kepala desa disebut
kuwu, kuwu dipilih oleh Rakyat. Ia wajib mengurus kepentingan umum berupa
pembuatan jalan, selokan serta pengurusan harta benda desa. Dalam melaksanakan tugasnya kuwu didampingi
oleh pihak pihak sebagai berikut :
- Satu
orang Juru Tulis, juru tulis bertugas mengurus administrasi pemerintahan
berupa pemeliharaan arsip, daftar hak milik rakyat, pengurus pajak, dan
lain-lain.
- Tiga
orang kokolot. Kokolot merupakan penghubung rakyat dan pamong desa.
Kokolot bertugas menyampaikan perintah atau pemberitahuan pamong desa
kepada rakyatnya dan menyampaikan pengaduan rakyat kepada pamong desa.
- Satu
orang kulisi, kulisi merupakan petugas yang bertanggung jawab dalam hal
keamanan desa dan mengurus berbagai pelanggaran hokum warga desa. Kulisi
bekerja sama dengan hansip dalam pemeliharaan desa.
- Satu
orang ulu-ulu, ulu-ulu bertugas mangatur pembagian air dan memperbaiki
selokan.
- Satu
orang Amil, Amil bertugas mengurus masalah kematian, kelahiran, nikah
talak, rujuk, pembacaan do’a pada selamatan dan sebagainya.
- Tiga
orang pembina desa, pembina dess terdiri atas satu orang dari kepolisian
dan dua orang dari Angkatan Darat.
2.4
Sistem Bahasa Masyarakat Sunda
Bahasa Sunda (Basa Sunda, dalam aksara Sunda
Baku ditulis ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ) adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini
dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur
terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa.
Bahasa Sunda dituturkan di sebagian besar provinsi Jawa Barat
(kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi di mana
penutur bahasa ini semakin berkurang), melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes dan Majenang,
Cilacap Jawa Tengah, dan di kawasan selatan provinsi Banten.
Dari segi linguistik, bersama bahasa Baduy,
bahasa Sunda membentuk suatu rumpun bahasa Sunda yang
dimasukkan ke dalam rumpun bahasa Melayu-Sumbawa.
BAHASA SUNDA
Bahasa Sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu unda-usuk bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain yaitu :
1. Bahasa Sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
2. Bahasa Sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya.
3. Bahasa Sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian, di Serang, dan Cilegon, bahasa Banyumasan (bahasa Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh etnik pendatang dari Jawa.
Bahasa Sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu unda-usuk bahasa untuk membedakan golongan usia dan status sosial antara lain yaitu :
1. Bahasa Sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang dituakan atau disegani.
2. Bahasa Sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya.
3. Bahasa Sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.
Namun demikian, di Serang, dan Cilegon, bahasa Banyumasan (bahasa Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh etnik pendatang dari Jawa.
Variasi dalam bahasa Sunda
Peta
linguistik Jawa Barat
Dialek
(basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten,
hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa.
Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek
ini adalah:
- Dialek Barat
- Dialek Utara
- Dialek Selatan
- Dialek Tengah Timur
- Dialek Timur Laut
- Dialek Tenggara
Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara
mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor
dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang
mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah
dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di
beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah.
Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.
Bahasa Sunda Kuna adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada
beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering
(lontar).
Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan
bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur
berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini.
Sejarah dan penyebaran
Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di
daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian,
bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten
Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di
Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu,
dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini
merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa
yang "disundakan", sebab pada abad ke-19
nama ini seringkali ditulis sebagai "Cilacap".
Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6
wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah,
berdasarkan nama "Dieng" yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang
yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi
warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di
Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah
baru tersebut.
Fonologi
Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin
dan sangat fonetis.
Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k,
g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.
Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah
menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z ->
j, and kh -> h.
Berikut adalah fonem dari bahasa Sunda dalam bentuk tabel. Pertama
vokal disajikan. (Silahkan isi sesuai keinginan)
|
Vokal
|
|||
|
Depan
|
Madya
|
Belakang
|
|
|
Tertutup
|
iː
|
uː
|
|
|
Tengah
|
E
|
ə
|
O
|
|
Hampir
Terbuka
|
(ɛ)
|
ɤ
|
(ɔ)
|
|
Terbuka
|
A
|
||
Dan di bawah
ini adalah tabel konsonan.
|
Konsonan
|
|||||
|
Bibir
|
Gigi
|
Langit2
keras |
Langit2
lunak |
Celah
suara |
|
|
Sengau
|
m
|
n
|
ɲ
|
ŋ
|
|
|
Letap
|
p
b
|
t
d
|
c
ɟ
|
k
g
|
ʔ
|
|
Desis
|
s
|
h
|
|||
|
Getar/Sisi
|
l
r
|
||||
|
Hampiran
|
w
|
J
|
|||
Sistem penulisan
|
Huruf
Besar
|
Huruf
Kecil
|
Nama
|
Huruf
Besar
|
Huruf
Kecil
|
Nama
|
|
A
|
A
|
M
|
M
|
||
|
B
|
B
|
N
|
N
|
||
|
C
|
C
|
Ng
|
Ng
|
||
|
D
|
D
|
Ny
|
Ny
|
||
|
E
|
E
|
O
|
O
|
||
|
É
|
É
|
P
|
P
|
||
|
Eu
|
Eu
|
Q
|
Q
|
||
|
G
|
G
|
R
|
R
|
||
|
H
|
H
|
S
|
S
|
||
|
I
|
I
|
T
|
T
|
||
|
J
|
J
|
U
|
U
|
||
|
K
|
K
|
W
|
W
|
||
|
L
|
L
|
Y
|
Y
|
Undak-usuk
Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda - terutama di wilayah Parahyangan - mengenal undak-usuk atau
tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran,
hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan
mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah
Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Di bawah ini disajikan beberapa contoh.
Tempat
|
Bahasa
Indonesia
|
Bahasa
Sunda
(normal) |
Bahasa
Sunda
(sopan/lemes) |
|
di
atas ..
|
di
luhur ..
|
palih
luhur ..
|
|
di
belakang ..
|
di
tukang ..
|
palih
pengker ..
|
|
di
bawah ..
|
di
handap ..
|
palih
handap ..
|
|
di
dalam ..
|
di
jero ..
|
palih
lebet ..
|
|
di
luar ..
|
di
luar ..
|
palih
luar ..
|
|
di
samping ..
|
di
sisi ..
|
palih
gigir ..
|
|
di
antara ..
dan .. |
di
antara ..
jeung .. |
antawis
..
sareng .. |
Waktu
|
Bahasa
Indonesia
|
Bahasa
Sunda
(normal) |
Bahasa
Sunda
(sopan/lemes) |
|
Sebelum
|
saacan,
saencan, saméméh
|
Sateuacan
|
|
Sesudah
|
Sanggeus
|
Saparantos
|
|
Ketika
|
Basa
|
Nalika
|
|
Besok
|
Isukan
|
Enjing
|
Lain Lain
|
Bahasa
Indonesia
|
Bahasa
Sunda
(normal) |
Bahasa
Sunda
(sopan/lemes) |
|
Lapar
|
Tina
|
Tina
|
|
Ada
|
Aya
|
Nyondong
|
|
Tidak
|
Embung
|
Alim
|
|
Saya
|
Urang
|
Abdi/sim
kuring/pribados
|
Perbedaan dengan Bahasa Sunda di Banten
Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah
Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai
dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa
Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut
masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa Sunda Kuna. Namun oleh
mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan),
Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa
Sunda kasar. Namun secara prakteknya, Bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai
Bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di
daerah Selatan Banten (Lebak, Pandeglang). Berikut beberapa contoh
perbedaannya:
|
Bahasa
Indonesia
|
Bahasa
Sunda
(Banten) |
Bahasa
Sunda
(Priangan) |
|
Sangat
|
Jasa
|
Pisan
|
|
Dia
|
Nyana
|
Anjeunna
|
|
Susah
|
Gati
|
Hese
|
|
Seperti
|
Doing
|
Siga
|
|
tidak
pernah
|
Tilok
|
Tara
|
|
Saya
|
Aing
|
Abdi
|
|
Mereka
|
Maraneh
|
Aranjeuna
|
|
Melihat
|
Noong
|
ningali/nenjo
|
|
Makan
|
Hakan
|
tuang/dahar
|
|
Kenapa
|
Pan
|
Naha
|
|
singkong
|
Dangdeur
|
Sampeu
|
|
tidak
mau
|
embung/endung
|
Alim
|
|
Belakang
|
Tukang
|
Pengker
|
|
Repot
|
Haliwu
|
Rebut
|
|
Baju
|
Jamang
|
Acuk
|
|
Teman
|
Orok
|
Batur
|
Contoh
perbedaan dalam kalimatnya seperti:
Ketika sedang
berpendapat:
- Sunda Banten (Rangkasbitung):
"Jeuuuh aing mah embung jasa jadi doang jelma nu kedul!"
- Sunda Priangan: "Ah abdi mah
alim janten jalmi nu pangedulan teh!"
- Bahasa Indonesia: "Wah saya
sangat tidak mau menjadi orang yang malas!"
Ketika mengajak
kerabat untuk makan (misalkan nama kerabat adalah Eka) :
- Sunda Banten (Rangkasbitung):
"Teh Eka, maneh arek hakan teu?"
- Sunda Priangan: "Teh Eka, badé
tuang heula?"
- Bahasa Indonesia: "(Kak) Eka,
mau makan tidak?"
Ketika sedang
berbelanja:
- Sunda Banten (Rangkasbitung):
"Lamun ieu dangdeur na sabarahaan mang? Tong mahal jasa."
- Sunda Priangan: "Dupi ieu
sampeu sabarahaan mang? Teu kénging awis teuing nya"
- Bahasa Indonesia: "Kalau (ini)
harga singkongnya berapa bang? Jangan kemahalan."
Ketika sedang
menunjuk:
- Sunda Banten (Rangkasbitung):
"Eta diditu maranehna orok aing"
- Sunda Priangan: " Eta palih
ditu réréncangan abdi. "
- Bahasa Indonesia: "Mereka
semua (di sana) adalah teman saya"
Meski berbeda pengucapan dan kalimat, namun bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. Berbeda halnya dengan bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan. Sementara bahasa Sunda Banten, tidak memiliki tingkatan. Penutur aktif bahasa Sunda Banten saat ini, contohnya adalah orang-orang Sunda yang tinggal di daerah Banten bagian selatan (Pandeglang, Lebak). Sementara masyarakat tradisional pengguna dialek ini adalah suku Baduy di Kabupaten Lebak.
Sementara
wilayah Utara Banten, seperti Serang, umumnya menggunakan bahasa campuran (multi-bilingual)
antara bahasa Sunda dan Jawa.
Kesusastraan
dalam bahasa Sunda
|
|
Bilangan dalam bahasa Sunda
|
Bilangan
|
Lemes
|
|
1
|
Hiji
|
|
2
|
Dua
|
|
3
|
Tilu
|
|
4
|
Opat
|
|
5
|
Lima
|
|
6
|
Genep
|
|
7
|
Tujuh
|
|
8
|
Dalapan
|
|
9
|
Salapan
|
|
10
|
sa-puluh
|
|
11
|
sa-belas
|
|
12
|
dua
belas
|
|
13
|
tilu
belas
|
|
..
|
..
|
|
20
|
dua
puluh
|
|
21
|
dua
puluh hiji
|
|
22
|
dua
puluh dua
|
|
..
|
..
|
|
100
|
sa-ratus
|
|
101
|
sa-ratus
hiji
|
|
..
|
..
|
|
200
|
dua
ratus
|
|
201
|
dua
ratus hiji
|
|
..
|
..
|
|
1.000
|
sa-rebu
|
|
..
|
..
|
|
1.000.000
|
sa-juta
|
|
..
|
..
|
|
1.000.000.000
|
sa-miliar
|
|
..
|
..
|
|
1.000.000.000.000
|
sa-triliun
|
|
..
|
..
|
|
1.000.000.000.000.000
|
sa-biliun
|
2.5
Sistem Mata Pencaharian Masyarakat Sunda
Jika
dilihat dari segi letak goegrafis, masyarakat Sunda lebih banyak bermata
pencaharian berkebun, karena banyak daerah yang berudara dingin seperti Bandung
dan Bogor. Salah satu contoh yang dapat kami utarakan yaitu masyarakat di
daerah Ciwidey, mereka lebih memilih untuk membuat kebun Strawberry sendiri di
halaman rumah mereka. Begitu juga di salah satu kota kecil di Bandung yaitu
Lembang, jika kita pergi kesana, kita akan banyak menemukan banyak kebun teh
yang terbentang luas.
Meskipun
masyarakat Sunda banyak yang bermata pencaharian berkebun, tetapi ada juga yang
bermata pencaharian bertani seperti di Karawang. Di daerah tersebut masih
banyak lahan pertanian yang luas dan sebagian besar masyarakat di daerah
karawang bekerja sebagai petani.
Mata pencaharian pokok masyarakat Sunda adalah
1. Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
2. Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
3. Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.
1. Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
2. Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
3. Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.
Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga
yang bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, dan peternak. Sistem
ekonomi modern masyarakat Sunda. Jika kita pergi ke daerah Bandung kita akan
banyak menemukan berbagai macam toko busana seperti factory outlet,
clothing, distro, butik-butik, dan lain-lain. Bisa dikatakan Bandung adalah kota mode
Indonesia yang dijuluki Paris Van Java. Kehidupan
perekonomian di daerah Jawa Barat sudah terlelu kompleks oleh berbagai macam aspek kehidupan ekonomi, kota, desa, perkebunan
dan sebagainya. Kota-kota di Jawa Barat berfungsi sebagai pusat perdagangan
transitor dari kota-kota ini abahan mentah diteruskan ke kota-kota pelabuhan
seperti : Jakarta, Cirebon, dan Cilacap kemudian dikirim keluar negeri, sesuai
dengan fungsi ini, kota menjadi pusat peredaran uang dalam volume relatif
besar.
Pertanian dilaksanakan
secara tradisional. Masyarakat bercocok tanam di sawah yang telah mendapatkan
irigasi maupun disawah yang mesih mengandalkan air hujan. Untuk sawah yang
mengandalkan air hujan, sebelum musim penghujan, tiba biasanya petani lebih
dulu menanaminya dengan, suku sunda mempergunakan bahasa sunda berbagai jenis
palawija, 9ubi jakar,bawang merah, kacang tanah, dan kacang kedelai) sawah yang
telah beririgasi kadang-kadang dijadikan tambak ikan.
Perkembangan terlihat di
tengah-tengah daerah pertanian rakyat pedesaan berkat tanahnya yang subur dan
iklim yang menguntungkan, daerah Jawa Barat menjadi perkebunan penting di
Indonesia. Di daerah ini terdapat anatar lain : Perkebunan teh, karet, kina,
tebu dan kelapa sawit. Dari seluruh luas Jawa Barat yang lebih kurang 4,5 juta
hektar besarnya, setengah juata hektar merupakan wilayah perkebunan dan
selebihnya adalah sawah dan ladang.
2.6
Sistem Teknologi Masyarakat Sunda
Hasil-hasil teknologi terkini sangat mudah
didapatkan seperti alat-alat yang digunakan untuk pertanian yang dasa jaman
dulu masih menggunakan alat-alat tradisional, kini sekarang telah berubah
menggunakan alat-alat modern, seperti traktor dan mesin penggiling padi.
Disamping itu juga sudah terdapat alat-alat telekomunikasi dan barang
elektronik modern.
2.7 Sistem Kesenian Masyarakat Sunda
Budaya sunda
memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah:
1. Seni tari : tari jaipong, tari merak, tari topeng
Adapun seni tari dalam suku sunda
a. TARI JAIPONGAN
Tanah Sunda (Priangan) dikenal
memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni
budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya
merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau
pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu. Tari Jaipong
ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini
merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi,
dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas
dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik
kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya
dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang
menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau
pesta pernikahan.
b. TARI MERAK
Merak yaitu binatang sebesar ayam,
bulunya halus dan dikepalanya memiliki seperti mahkota. Kehidupan merak yang
selalu mengembangkan bulu ekornya agar menarik burung merak wanita
meninspirasikan R. Tjetje Somantri untuk membuat tari Merak ini.
Dalam pertunjukannya, ciri bahwa itu
adalah terlihat dari pakaian yang dipakai penarinya memiliki motif seperti bulu
merak. Kain dan bajunya menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak; hijau
biru dan/atau hitam. Ditambah lagi sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau
ekor merak yang sedang dikembangkan. Gambaran merak bakal jelas dengan memakai
mahkota yang dipasang di kepala setiap penarinya.
Tarian ini biasanya ditarikan
berbarengan, biasanya tiga penari atau bisa juga lebih yang masing-masing
memiliki fungsi sebagai wanita dan laki-lakinya. Iringan lagu gendingnya yaitu
lagu Macan Ucul biasanya. Dalam adegan gerakan tertentu terkadang waditra
bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang,
itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan.
Dari sekian banyaknya tarian yang
diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, mungkin tari Merak ini merupakan tari
yang terkenal di Indonesia dan luar negeri. Tidak heran kalau seniman Bali
juga, diantaranya mahasiswa ASKI Denpasar menciptakan tari Manuk Rawa yang
konsep dan gerakannya hampir mirip dengan tari Merak.
c. TARI TOPENG
Tari Topeng Priangan merupakan buah
karya maestro tari Sunda Nugraha Soradiredja. Dalam Tari Topeng terdapat
5 karakter utama atau lebih terkenal dengan TOPENG 5 Watakyaitu :
1) Topeng Panji yang
menceritakan awal kehidupan manusia, sehingga topeng yang dipakai berwarna
putih bersih dan gerakannya yang lebih halus dan lembut. Bahkan hampir tidak
ada gerakan berjalan.
2) Topeng Samba atau
Pamindo lebih lincah dalam gerakan karena lebih menampilkan kisah masa
kanak-kanak.
3) Topeng Rumi yang
merupakan tarian dengan pase manusia telah meningkat ke akhir baligh sehingga
gerakan yang lincah dan lembut berbaur menjadi satu.
4) Topeng Patih atau
Tumenggung menampilkan sosok manusia dewasa dengan gerakan yang lebih tegas.
5) Topeng Kelana atau
Rahwana menggambarkan tentang amarah pada diri manusia sehingga setiap
gerakannya tegas dan memerlukan tenaga lebih besar dari watak yang lainnya.
Tari topeng juga sering
ditarikan dalam bentuk sendratari kecil selain tari topeng 5 watak ada
juga topeng 3 watak yang menceritakan tentang Rahwana yang ingin
mempersunting Dewi Shinta.
Topeng 3 Watak hanya menampilkan 3
watak topeng yaitu Topeng Rumiyang atau Kencana Wungu sebagai Dewi Shinta yang
ditarikan oleh penari wanita dalam balutan kostum ungu, lalu Topeng Patih dan
Topeng Rahwana yang identik dengan warna merah.
2. Seni
suara dan musik :
Ø Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi, dll.
Ø Salah satu lagu daerah Sunda antara lain yaitu Bubuy bulan, Es lilin, Manuk dadali,
Ø Degung (semacam orkestra) : menggunakan gendang, gong, saron, kecapi, dll.
Ø Salah satu lagu daerah Sunda antara lain yaitu Bubuy bulan, Es lilin, Manuk dadali,
Tokecang dan warung pojok
Degung adalah kumpulan alat musik dari sunda.
Ada dua
pengertian tentang istilah degung:
- Degung sebagai nama perangkat gamelan
- Degung sebagai nama laras bagian dari laras salendro ( berdasarkan teori Raden Machjar Angga Koesoemadinata).
Degung sebagai
unit gamelan dan degung sebagai laras memang sangat lain. Dalam teori tersebut,
laras degung terdiri dari degung dwiswara (tumbuk: (mi) 2 – (la) 5) dan degung
triswara: 1 (da), 3 (na), dan 4 (ti).
Jenis
Gamelan Dalam Seni Sunda Terutama Degung
Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung.
Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari,
kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan
gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyaraka
dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan
cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro,
sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa
Barat.
Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih
terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat,
salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan
interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung
yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.
Ada gamelan yang sudah lama terlupakan yaitu KOROMONG yang ada di
Kp. Lamajang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung. Gamelan ini sudah
tidak dimainkan sejak kira-kira 35 – 40 tahun dan sudah tidak ada yang sanggup
untuk menabuhnya karena gamelan KOROMONG ini dianggap mempunyai nilai mistis.
Gamelan KOROMONG ini sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik. Untuk
supaya gamelan KOROMONG ini dapat ditabuh, maka kata yang memegang dan merawat
gamelan tersebut harus dibuat Duplikatnya.
Menyimak
Sejarah Degung
Degung merupakan salah satu gamelan
khas dan asli hasil kreasi urang Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah
berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad
ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh
Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung
terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1
perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1
perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1
perangkat).
Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di
hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap
kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi
sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang
Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan
renteng dan berkembang ke gamelan degung.
Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung
merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa,
yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata “ngadeg” (berdiri) dan “agung”
(megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa
kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E.
Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung”
dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam
literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus
susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini
mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.
Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan
(gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum
Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran
Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).
Dulu gamelan degung hanya ditabuh secara gendingan (instrumental). Bupati Cianjur RT. Wiranatakusumah V
(1912—1920) melarang degung memakai nyanyian (vokal) karena membuat suasana
kurang serius (rucah). Ketika bupati ini tahun 1920 pindah menjadi bupati
Bandung, maka perangkat gamelan degung di pendopo Cianjur juga turut dibawa
bersama nayaganya, dipimpin oleh Idi. Sejak itu gamelan degung yang bernama
Pamagersari ini menghiasi pendopo Bandung dengan lagu-lagunya.
Melihat dan mendengarkan keindahan degung, salah seorang saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang, Anang Thayib, merasa
tertarik untuk menggunakannya dalam acara hajatan yang diselenggarakannya.
Kebetulan dia sahabat bupati tersebut. Oleh karena itu dia mengajukan
permohonan kepada bupati agar diijinkan menggunakan degung dalam hajatannya,
dan diijinkannya. Mulai saat itulah degung digunakan dalam hajatan (perhelatan)
umum. Permohonan semacam itu semakin banyak, maka bupati memerintahkan supaya
membuat gamelan degung lagi, dan terwujud degung baru yang dinamakan
Purbasasaka, dipimpin oleh Oyo.
Sebelumnya waditra (instrumen) gamelan degung hanya terdiri atas
koromong (bonang) 13 penclon, cempres (saron panjang) 11 wilah, degung
(jenglong) 6 penclon, dan goong satu buah. Kemudian penambahan-penambahan
waditra terjadi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan musikal, misalnya
penambahan kendang dan suling oleh bapak Idi. Gamelan degung kabupaten Bandung,
bersama kesenian lain digunakan sebagai musik gending karesmen (opera Sunda) kolosal Loetoeng Kasaroeng tanggal 18 Juni 1921
dalam menyambut Cultuurcongres Java Institut.
Sebelumnya, tahun 1918 Rd. Soerawidjaja pernah pula membuat gending karesmen
dengan musik degung, yang dipentaskan di Medan. Tahun 1926 degung dipakai untuk
illustrasi film cerita pertama di Indonesia berjudul Loetoeng Kasaroeng oleh
L. Heuveldrop dan G. Kruger produksi Java Film Company, Bandung. Karya lainnya
yang menggunakan degung sebagai musiknya adalah gending karesmen Mundinglaya
dikusumah oleh M. Idris Sastraprawira dan Rd. Djajaatmadja di Purwakarta tahun
1931.
Setelah di meninggal (tahun 1945) degung tersendat perkembangannya.
Apalagi setelah itu revolusi fisik banyak mengakibatkan penderitaan masyarakat.
Degung dibangkitkan kembali secara serius tahun 1954 oleh Moh. Tarya, Ono
Sukarna, dan E. Tjarmedi. Selain menyajikan lagu-lagu yang telah ada, mereka
menciptakan pula lagu-lagu baru dengan nuansa lagu-lagu degung sebelumnya.
Tahun 1956 degung mulai disiarkan secara tetap di RRI Bandung dengan
mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tahun 1956 Enoch Atmadibrata
membuat tari Cendrawasih dengan musik degung dengan iringan degung lagu palwa.
Bunyi degung lagu Palwa setiap kali terdengar tatkala pembukaan acara warta
berita bahasa Sunda, sehingga dapat meresap dan membawa suasana khas Sunda
dalam hati masyarakat.
Pengembangan lagu degung dengan vokal dilanjutkan oleh grup
Parahyangan pimpinan E. Tjarmedi sekitar tahun 1958. Selanjutnya E. Tjarmedi
dan juga Rahmat Sukmasaputra mencoba menggarap degung dengan lagu-lagu alit
(sawiletan) dari patokan lagu gamelan salendro pelog. Rahmat Sukmasaputra juga
merupakan seorang tokoh yang memelopori degung dengan nayaga wanita. Selain
itu, seperti dikemukakan Enoch Atmadibrata,
degung wanita dipelopori oleh para anggota Damas (Daya Mahasiswa Sunda) sekitar
tahun 1957 di bawah asuhan Sukanda Artadinata (menantu Oyo).
Tahun 1962 ada yang mencoba memasukkan waditra angklung ke dalam
degung. Tetapi hal ini tidak berkembang. Tahun 1961 RS. Darya Mandalakusuma
(kepala siaran Sunda RRI Bandung) melengkapi degung dengan waditra gambang,
saron, dan rebab. Kelengkapan ini untuk mendukung gending karesmen
Mundinglayadikusumah karya Wahyu Wibisana. Gamelan degung ini dinamakan degung
Si Pawit. Degung ini juga digunakan untuk pirigan wayang Pakuan. Dari
rekaman-rekaman produksi Lokananta (Surakarta) oleh grup RRI Bandung dan Parahyangan
pimpinan E. Tjarmedi dapat didengarkan degung yang menggunakan waditra tambahan
ini. Lagu-lagu serta garap tabuhnya banyak mengambil dari gamelan salendro
pelog, misalnya lagu Paksi Tuwung, Kembang Kapas, dsb. Pada tahun 1964, Mang
Koko membuat gamelan laras degung yang nadanya berorientasi pada gamelan
salendro (dwi swara). Bentuk ancak bonanya seperti tapal kuda. Dibanding degung
yang ada pada waktu itu, surupannya lebih tinggi. Keberadaan degung ini sebagai
realisasi teori R. Machyar. Gamelan laras degung ini pernah dipakai untuk
mengiringi gending karesmen Aki Nini Balangantrang (1967) karya Mang Koko dan
Wahyu Wibisana.
Tahun 1970—1980-an semakin banyak yang menggarap degung, misalnya
Nano S. dengan grup Gentra Madya (1976), lingkung seni Dewi Pramanik pimpinan
Euis Komariah, degung Gapura pimpinan Kustyara, dan degung gaya Ujang Suryana
(Pakutandang, Ciparay) yang sangat populer sejak tahun 1980-an dengan ciri
permainan sulingnya yang khas. Tak kalah penting adalah Nano S. dengan grup
Gentra Madya-nya yang memasukan unsur waditra kacapi dalam degungnya. Nano S.
membuat lagu degung dengan kebiasaan membuat intro dan aransemen tersendiri.
Beberapa lagu degung karya Nano S. yang direkam dalam kaset sukses di pasaran,
di antaranya Panglayungan (1977), Puspita (1978), Naon Lepatna (1980), Tamperan
Kaheman (1981), Anjeun (1984) dan Kalangkang yang dinyanyikan oleh Nining Meida
dan Barman Syahyana (1986). Lagu Kalangkang ini lebih populer lagi setelah
direkam dalam gaya pop Sunda oleh penyanyi Nining Meida dan Adang Cengos
sekitar tahun 1987.
Berbeda dengan masa awal (tahun 1950-an) dimana para penyanyi degung
berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog (pasinden; ronggeng),
para penyanyi degung sekarang (sejak 1970-an) kebanyakan berasal dari kalangan
mamaos (tembang Sunda Cianjuran), baik pria maupun wanita. Juru kawih degung
yang populer dan berasal dari kalangan mamaos di antaranya Euis Komariah, Ida
Widawati, Teti Afienti, Mamah Dasimah, Barman Syahyana, Didin S. Badjuri, Yus
Wiradiredja, Tati Saleh dan sebagainya.
Lagu-lagu degung di antaranya: Palwa, Palsiun, Bima Mobos (Sancang),
Sang Bango, Kinteul Bueuk, Pajajaran, Catrik, Lalayaran, Jipang Lontang,
Sangkuratu, Karang Ulun, Karangmantri, Ladrak, Ujung Laut, Manintin, Beber
Layar, Kadewan, Padayungan, dsb. Sedangkan lagu-lagu degung ciptaan baru yang
digarap dengan menggunakan pola lagu rerenggongan di antaranya: Samar-samar,
Kembang Ligar, Surat Ondangan, Hariring Bandung, Tepang Asih, Kalangkang,
Rumaos, Bentang Kuring, dsb.
ANGKLUNG
Angklung
Saung Mang Udjo
adalah salah satu tempat pertunjukkan
angklung dan beberapa budaya sunda yang ada di kota Bandung didirikan oleh seorang budayawan yang bernama (alm) Udjo Ngalagena
dan Istrinya Uum Sumiyati pada tahun 1966, pada waktu itu beliau memiliki cita
- cita untuk menyebarluaskan pengetahuannya mengenai Angklung dan Budaya Sunda
ke anak2 daerah sekitar ( daerah Padasuka) yang pada akhirnya berkembang sampai
sekarang menjadi tempat pertunjukkan pariwisata berkelas internasional.
Disana terdapat juga sanggar yang mengajarkan mengenai kebudayaan sunda itu sendiri, banyak anak - anak Bandung yang menjadi anggota sanggar tersebut untuk mempelajari kebudayaan sunda dan seni pertunjukkan. Jadi tempat itu juga dijadikan sebagai objek wisata khas Jawa Barat yang mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa (CMIIW)
Disana terdapat juga sanggar yang mengajarkan mengenai kebudayaan sunda itu sendiri, banyak anak - anak Bandung yang menjadi anggota sanggar tersebut untuk mempelajari kebudayaan sunda dan seni pertunjukkan. Jadi tempat itu juga dijadikan sebagai objek wisata khas Jawa Barat yang mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga desa (CMIIW)
Alat musik sunda yang lainnya:
1. Calung adalah
alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan
angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah
dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang
tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis
bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada
pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
2. KETUK
TILU Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan
yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan
penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup
luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat
tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan
dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat
terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
3. SENI BANGRENG Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni “Terbang” dan
“Ronggeng”. Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan
“Terbang”, yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana.
Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil.
4. RENGKONG Rengkong
adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat
Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang
pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian
ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi
sampai dengan menuainya
5. KUDA RENGGONG Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian
helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara
penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat
dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti
seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai
Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
6. KECAPI SULING Kacapi Suling adalah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan
suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya
diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat
tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan
kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.
7. Rampak Kendang
Rampak Kendang merupakan sajian kesenian yang memainkan kendang
(Gendang) lebih dari satu perangkat secara bersama-sama. Rampak dalam bahasa
Sunda berarti bersama-sama atau serempak, sehingga Rampak Kendang berarti
bermain kendang secara serempak.
Rampak Kendang merupakan sajian kesenian yang memainkan kendang
(Gendang) lebih dari satu perangkat secara bersama-sama. Rampak dalam bahasa
Sunda berarti bersama-sama atau serempak, sehingga Rampak Kendang berarti
bermain kendang secara serempak.
Menurut hasil survey pemerintahan provinsi
Jawa Barat, tercatat lebih dari 350 jenis kesenian yang berkembang di Jawa
Barat. Sebagian ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sakral dari ritual
kepercayaan lokal, seperti kesenian sidekah bumi. Banyak pula kesenian Sunda
yang berupa tontonan hiburan masyarakat, seperti Wayang
Golek dan Ibing Tarawangsa. Kesenian yang berupa permainan anak disebut
Kaulinan Urang Lembur, diantaranya Sorodot Gaplok, Tatarucingan, Ucing Sumput,
Ngadu Muncang, Bebentengan, Egrang, dll. Banyak hal yang bisa dipelajari dari
kearifan kebudayaan suku Sunda (local wisdom) dan merupakan warisan budaya yang harus
dilestarikan. Pertarungan; budaya lokal dengan budaya global jangan sampai
mengasingkan masyarakat kita dari nilai tradisi hingga tercerabut dari akar
budaya asal. Mari kita pertahankan budaya sendiri sebagai khazanah kekayaan
budaya Indonesia.
.
3. Wayang golek
3. Wayang golek
Dalam satu dasawarsa kebelakang, kesenian Wayang golek masih cukup
eksis. Beberapa keluarga yang menggelar hajatan masih banyak yang menanggap
kesenian Wayang Golek yang kini sudah semakin tergerus oleh kesenian asing yang
mereduksi signifikan kesenian peninggalan leluhur ini. Namun ketika arus
modernisasi yang juga serta-merta membawa kebudayaan asing—terutama kebudayaan
Barat ke dalam negeri ini— masuk tanpa bisa dicegah secara otomatis kebudayaan
lokal yang seharusnya diberdayakan malah keteteran dan hampir dilupakan.
Sejarah
Wayang Golek
Ketika masa awal kemunculan kesenian Wayang Golek di masa Kerajaan
Padjajaran fungsi Wayang Golek ada dua; sebagai upacara ritual atau ruwatan,
dan untuk hiburan. Fungsi Wayang Golek untuk ruwatan biasanya digunakan dalam
peruwatan rumah, anak, surambi (4 orang putera), pandawa lima (lima orang
putera), talaga tanggal kausak (seorang putera diapir dua puteri), dan samudera
hapit sindang (seorang puteri diapit dua putera).
Wayang Golek untuk hiburan dipergunakan untuk upacara dan perayaan
khusus seperti khitanan, perkawinan, perayaan karawitan, hari jadi, hari-hari
besar dan penyambutan tamu-tamu negara. Wayang golek yang dikenal kita adalah
wayang golek purwa, wayangnya terbuat dari kayu menyerupai bentuk manusia yang
disebut golek oleh karena itu disebut wayang golek.
Setidaknya ada dua macam Wayang Golek dalam tatar sunda yakni Wayang
Golek Papak dan Wayang Golek Purwa. Wayang golek adalah bentuk teater rakyat
yang sangat populer di masyarakat. Lakon-lakon wayang golek memiliki lakon
galur dan carangan yang semuanya bersumber dari cerita ramayana dan
Mahabrata. Kesemuanya lakon dalam pementasan Wayang Goleh begitu sarat
dengan nilai-nilai kehidupan dan filosofis.
Pembawa cerita disebut Dalang sekaligus pemimpin
pertunjukan menyuarakan anat wacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dll.
Wayang golek purwa memakai bahasa Sunda, karawitan pengiringnya berlaras
salendro yang terdiri dari waditra dua saron, satu peking, satu salentem, satu
bonang, satu rincik, satu perangkat kenong, sepasang goong, kempul goong dan
seperangkat kendang (satu indung 3 kulanter), gambang, rebab, wira suara (juru
alok), sinden
4.
Senjata tradisional yaitu kujang
Senjata khas
dan unik dari provinsi Jawa Barat adalah kujang. Kujang mulai dibuat sekitar
abad ke-8 atau ke-9. Kujang biasanya terbuat dari besi atau baja. Panjang
kujang sekitar 20 cm hingga 25 cm, dan berat kujang bisa mencapai 300 gram.
Selain sebagai
senjata, masyarakat Jawa Barat menggunakan kujang juga sebagai alat
pertanian, hiasan, maupun cenderamata. Kujang merupakan alat yang melambangkan
kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Pada zaman dahulu,
kujang digunakan oleh orang-orang tertentu saja, misalnya, raja, prabu anom,
golongan pangiwa, penengen, agamawan, serta para putri raja.
Menurut
beberapa peneliti, kujang berasal dari kata kudihyang, atau Kudi dan Hyang. Kudi,
dalam Bahasa Sunda Kuno berarti senjata yang memiliki kekuatan sakti. Sedangkan
Hyang berarti Dewa. Jadi, secara umum kujang dapat berarti senjata yang
memiliki kekuatan sakti dari para dewa.
Bagian dari
senjata kujang adalah papatuk / congo, yaitu ujung kujang yang menyerupai panah.
Ada pula eluk / silih, yaitu lekukan pada bagian punggung. Ada pula tadah, yaitu
lengkungan menonjol pada bagian perut, dan mata, yaitu lubang kecil yang
ditutupi logam emas dan perak.
Berdasarkan
fungsinya, kujang terbagi empat, antara lain: Kujang Pusaka (lambang keagungan dan
pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak
(sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Berdasarkan bentuk bilah, kujang terbagi menjadi Kujang Jago
(menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang
Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak),
Kujang Naga (menyerupai naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Di
samping itu terdapat pula bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh
wanita sebagai simbol kesuburan.
Kelompok
Pemilik Kujang
Konon, pada
zaman Kerajaan Pajajaran masih berdiri, senjata kujang hanya boleh dimiliki
oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu berdasarkan status sosialnya
dalam masyarakat, seperti: raja, prabu anom (putera mahkota), golongan pangiwa,
golongan panengen, golongan agama, para puteri serta kaum wanita tertentu, dan
para kokolot. Sedangkan bagi rakyat kebanyakan, hanya boleh mempergunakan senjata
tradisional atau pakakas, seperti golok, congkrang, sunduk, dan kujang yang
fungsinya hanya digunakan untuk bertani dan berladang.
Setiap orang
atau golongan tersebut memiliki kujang yang jenis, bentuk dan bahannya tidak
boleh sama. Misalnya, kujang ciung yang bermata sembilan buah hanya dimiliki
oleh Raja, kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh Mantri Dangka
dan Prabu Anom, dan kujang ciung yang bermata lima buah hanya boleh dimiliki
oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis dan Bupati Pakuan. Selain oleh ketiga
golongan tersebut, kujang ciung juga dimiliki oleh para tokoh agama. Misalnya,
kujang ciung bermata tujuh buah hanya dimiliki oleh para pandita atau ahli
agama, kujang ciung bermata lima buah dimiliki oleh para Geurang Puun, kujang
ciung bermata tiga buah dimiliki oleh para Guru Tangtu Agama, dan kujang ciung
bermata satu buah dimiliki oleh Pangwereg Agama. Sebagai catatan, para Pandita
ini sebenarnya memiliki jenis kujang khusus yang bertangkai panjang dan disebut
kujang pangarak. Kujang pangarak umumnya digunakan dalam upacara-upacara
keagamaan, seperti upacara bakti arakan dan upacara kuwera bakti sebagai pusaka
pengayom kesentosaan seluruh negeri.
Begitu pula
dengan jenis-jenis kujang yang lainnya, seperti misalnya kujang jago, hanya
boleh dimiliki oleh orang yang mempunyai status setingkat Bupati, Lugulu, dan
Sambilan. Jenis kujang kuntul hanya dipergunakan oleh para Patih (Patih Puri,
Patih Taman, Patih Tangtu, Patih Jaba, dan Patih Palaju) dan Mantri (Mantri
Majeuti, Mantri Paseban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero). Jenis
kujang bangkong dipergunakan atau dibawa oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru
Alas, dan Guru Cucuk. Jenis kujang naga dipergunakan oleh para Kanduru, Para
Jaro (Jaro Awara, Jaro Tangtu, dan Jaro Gambangan). Dan, kujang badak
dipergunakan oleh para Pangwereg, Pamatang, Panglongok, Palayang, Pangwelah,
Baresan, Parajurit, Paratutup, Sarawarsa, dan Kokolot.
Sedangkan,
kepemilikan kujang bagi kelompok wanita menak (bangsawan) dan golongan wanita
yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu, misalnya Putri Raja, Putri
Kabupatian, Ambu Sukla, Guru Sukla, Ambu Geurang, Guru Aes, dan para Sukla
Mayang (Dayang Kabupatian), kujang yang dipergunakan adalah kujang ciung dan
kujang kuntul. Sementara untuk kaum perempuan yang bukan termasuk golongan
bangsawan, biasanya mereka mempergunakan senjata yang disebut kudi. Senjata
kudi ini berbahan besi baja, bentuk kedua sisinya sama, bergerigi dan ukurannya
sama dengan kujang bikang (kujang yang dipergunakan wanita) yang langsing dengan
ukuran panjang kira-kira satu jengkal (termasuk tangkainya).
Cara Membawa Kujang
Sebagai sebuah
senjata yang dianggap sakral dan memiliki kekuatan-kekuatan magis tertentu,
maka kujang tidak boleh dibawa secara sembarangan. Ada cara-cara tertentu bagi seseorang
apabila ia ingin pergi dengan membawa senjata kujang, diantaranya adalah: (a)
disoren, yaitu digantungkan pada pinggang sebelah kiri dengan menggunakan sabuk
atau tali pengikat yang dililitkan di pinggang. Kujang-kujang yang dibawa
dengan cara disoren ini biasanya adalah kujang yang bentuknya lebar (kujang
galabag), seperti: kujang naga atau kujang badak; (b) ditogel, yaitu dibawa
dengan cara diselipkan pada sabuk bagian depan perut tanpa menggunakan tali
pengikat. Kujang-kujang yang dibawa dengan cara demikian biasanya adalah kujang
yang bentuknya ramping (kujang bangking), seperti kujang ciung, kujang kuntul,
kujang bangkong, dan kujang jago; (c) dipundak, yaitu dibawa dengan cara
dipikul tangkaian di atas pundak, seperti memikul tumbak. Kujang yang dibawa
dengan cara demikian adalah kujang pangarak, karena memiliki tangkai yang cukup
panjang; dan (d) dijinjing, yaitu membawa kujang dengan cara ditenteng atau
dipegang tangkainya. Kujang yang dibawa dengan cara seperti ini biasanya adalah
kujang pamangkas atau kujang yang tidak memiliki kowak atau warangka.
Nilai Budaya
Pembuatan
kujang, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang
pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi
masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni),
ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari
bentuk-bentuk kujang yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan
keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari
proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa
nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah kujang yang indah dan
sarat makna. (pepeng)
BAB III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Kebudayaan
sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan –
kebudayaan lain. Secaraumum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda , sering
dikenal dengan masyarakat religius.Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam
pameo “ silih asih, silih asah dan silih asuh, saling mengasihi, saling
mempertajam diri dan saling malindungi.Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah
budaya lain yang khas seperti kesopanan,rendah hati terhadap sesama, kepada
yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih kecil.Pada kebudayaan sunda
keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat
sedangkan keseimbangan sosial masyarakat sunda melakukan gotong royong untuk
mempertahankannya.
Budaya sunda memiliki banyak kesenian , diantaranya adalah kesenian sisngaan,
tarian khas sunda, wayang golek,permainan anak kecil yang khas,alat musik sunda
yang bisanya digunakan pada pagelaran kesenian.
3.2
Saran
Semoga dengan makalah ini , pembaca
bisa sedikit lebih tau tentang kebudayaan sunda. Tentang sistem religi, sistem
organisasi kemasyarakatannya, sistem pengetahuan, sistem bahasa, sistem mata
pencaharian, sistem teknologi, dan kesenian masyarakat sunda.
DAFTAR
PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan
http://initialdastroboy.wordpress.com/2011/05/21/sistem-organisasi-masyarakat-sunda-potret-kehidupan-urang-sunda/
http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/09/sistem-ekonomi-masyarakat-sunda/
http://www.proghita.com/seni-sunda-degung-sejarah-dan-perkembangannya/
http://panoramaindonesia.blogdetik.com/2010/10/17/angklung/
http://bandung.panduanwisata.com/menelusuri-jejak-kesenian-sunda-wayang-golek/
Komentar
Posting Komentar