MAKALAH TEORI STRUKTURALISME
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Secara
Etimologis struktur berasal dari kata Structure, bahasa latin
yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kata Structura (Latin)
= bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin) = cara (kata kerja). asal usul
strukturalis dapat dilacak dengan Poetica Aristoteles, dalam
kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai Plot.
Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan
(Teeuw, 1988: 121-134). Strukturalisme berasal dari bahasa
Inggris, structuralism; latin struere( membangun), structura berarti
bentuk bangunan. Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structura,
bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan.
Struktur
sendiri adalah bangunan teoretis (abstrak) yang terbentuk dari sejumlah
komponen yang berhubungan satu sama lain. Struktur menjadi aspek utama dalam
strukturalisme. Dengan kata lain, strukturalisme adalah teori yang menyatakan
bahwa berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai bangun teoritis (abstrak) yang
terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain relasi sintagmatis dan
paradigmatis. Strukturalisme juga beranggapan bahwa seluruh organisasi manusia
ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai
logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun
tujuan manusia.
B.
Rumusan Masalah
a. pengertian teori strukturalisme
b. Sejarah
teori strukturalisme;
c. Jenis
teori strukturalisme;
d. Konsep
teori strukturalime;
e. hubungan
teori strukturalisme dengan bahasa dan kebudayaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Teori Strukturalisme
Teori Strukturalisme termasuk teori
Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini
terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Walaupun teori ini
jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama
dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme
Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya,
yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial,
sedangkan Teori Strukturalisme memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer,
2004 : 603).
Strukturalisme merupakan suatu gerakan
pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan
kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap.
Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan
pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan
sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan
antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan.
Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek
(hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat)
(Bagus, 1996: 1040)
Gagasan-gagasan strukturalisme juga
mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang
gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan
ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang
pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada
status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) .
Strukturalisme termasuk dalam teori
kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang
terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia
dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda
(termasuk didalmnya upacara-upacara, tanda-tanda kemiliteran dan
sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam
percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan
manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue
dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua
relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak
terlepas dari kebahasaan.
Menurut Yoseph (1997:38) menjelaskan
bahwa teori strukturalisme sastra merupakan sebuh teori pendekatan terhadap
teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks.
B. Sejarah
Teori Strukturalisme;
Teori strukturalisme memiliki latar
belakang sejarah evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara
dinamis.Strukturalisme menentang teori mimetic (yang berpandangan bahwa karya sastra
adalah tiruan kenyataan), teori ekspresif (yang menganggap sastra pertama-tama
sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang), dan menentang teori-teori yang dianggap satra
sebagai media komunikasi antara pengarang dan
pembacanya.
Dalam perkembangannya,
terdapat banyak konsep dan istilah yang berbeda, bahkan saling
bertentanga. Misalnya strukturalisme perancis yang terutama diwakili oleh
Roland Barthes dan Julia Kristeva, mengembangkan seni penafsiran structural berdasarkan
kode-kode bahasa teks sastra. melalui kode bahasa itu, diungkap kode-kode
reptorika, psikoanalitis, sosiokultural. Mereka menekankan bahwa
sebuah karya sastra harus di pandang secara otonom. Puisi
khususnya dan sastra umumnya harus diteliti secara objektif (yakni
aspek intrisiknya). keindahan sastra terletak pada penggunaan bahasa yang khas
yang mengandung efek-efek estetik. Aspek-aspek ekstrisik seperti idiologi,
moral, sosiokultural, psikologi, dan agama tidaklah indah pada dirinya sendiri
melainkan karena dituangkan dalam cara tertentu melalui sarana bahasa puitik.
C. Jenis-Jenis
Teori Strukturalisme
Dengan adanya perbedaan pendapat dalam
teori strukturalisme sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
strukturalisme formalis , strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik yang
pada dasarnya secara global strukturalisme menganut paham penulis paris yang
dikembangkan oleh Ferdinand de Sausessure, yang memunculkan konsep bentuk dan
makna ( sign and meaning).
1. Strukturalisme
Formalis
Istilah
Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk, wujud) berarti
cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data
biografis, psikologis, ideologis, sosiologis dan mengarahkan perhatian
pada bentuk karya sastra itu sendiri. Para Formalis meletakkan perhatiannya
pada ciri khas yang membedakan sastra dari ungkapan bahasa lainnya. Istilah
Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk menyebut model pendekatan ini
karena mereka memandang karya sastra sebagai suatu keseluruhan struktur yang
utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur kebahasaannya.Tokoh; Kaum
Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman
Jakobson, Rene Wellek,Sjklovsky, Eichenhaum, dan Tynjanov .Rene
Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika Serikat .
Sumbangan
penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip mereka mengarahkan
perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi puitik. Sampai sekarang
masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan analisis sastra yang berasal
dari kaum Formalis. Karya sastra merupakan sesuatu yang otonom atau
berdiri sendiri .Karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari
unsur-unsur pembangun karya sastra.Makna sebuah karya sastra hanya dapat
diungkapkan atas jalinan atau keterpaduan antar unsure.
2.
Strukturalisme
Dinamik
Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas
kelemahan-kelemahan strukturalisme murni yang dianggap sebagai perkembangan
kemudian formalisme. Strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan
strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur
intrinsik, yang dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya.
Strukturalime dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felix Vodicka
(Fokkema dalam Penelitian Sasta, Kutha Ratna, 2008:93). Menurutnya, karya
sastra adalah proses komunikasi, fakta semiotik, terdiri atas tanda, struktur,
dan nilai-nilai. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam
kesadaran pembaca. Oleh sebab itu, karya seni harus dikembalikan pada
kompetensi penulis, masyarakat yang menghasilkannya, dan pembaca sebagai
penerima.
Secara definitif strukturalisme memberikan perhatian terhadap analisis
unsure-unsur karya. Setiap karya sastra, baik baik karya sastra dengan jenis
yang sama maupun berbeda, memiliki unsur-unsur yang berbeda. Disamping akibat
dari cirri-ciri inheren tersebut, perbedaan unsur tersebut juga terjadi sebagai
akibat perbedaan proses resepsi pembaca. Dalam hubungan inilah karya sastra
dikatakan sebagai memiliki cirri-ciri yang khas, otonom, tidak bisa
digeneralisasikan.
3.
Strukrutalisme Genetik
Merupakan
jembatan penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotik .Hampir
sama dengan struktural genetik (mengaitkan dengan asal-usul teks) tetapi
penekanannya berbeda, Struktural Dinamik menekankan pada struktur, tanda, dan
realitas. Tokoh-tokohnya
: Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis)
D.
Konsep-Konsep Strukturalisme
Menurut Yoseph( 1997; 37- 40)
menjelaskan teori strukturalisme sastra menganggap karya sastra sebagai
“artefak”(benda seni) maka realisi-realiasi structural sebuah karya sastra
hanya dapat dipahami dalam relasi unsur-unsur artefak itu sendiri.Jika
dicermati, sebuah teks sastra terdiri dari komponen-komponen seperti; ide,
tema, amanat. latar, watak dan perwatakan, insiden, plot, dan gaya bahasa
Komponen-komponen tersebut
memiliki perbedaan aksentuasi pada berbagai teks sastra. strukturalisme sastra
memberi keluasaan kepada peneliti sastra untuk menerapkan komponen-komponen
mana yang akan mendapat prioritas signifikan. Keluasan ini tetap harus
dibatasi, yakni sejauh komponen-komponen itu terserat dalam teks itu sendiri.
Jadi teks satra berfungsi mengontrol objektifitas dan validitas hasil
penelitian sastra. Prosedur ilmiah ini menetapkan teori strukturalisme sastra
berkembang dengan baik, pesat, dan diterima dalam kalangan
luas. .
Menurut Zulfahnur (1997: 146-147)
Struktural mempunyai konsep sebagai berikut
a).
Memberi penilaian terhadap keharmonisan semua komponen yang membentuk keseluruhan
struktur dengan menjalin hubungan antara komponen tersebut sehingga menjadi
suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik.
b).
Memberikan penilaian terhadap hubungan harmonis antara isi dan bentuk, karena
jalinan isi dan bentuk merupakan hal yang sama penting dalam menentukan mutu
sebuah karya sastra.
Adapun
unsur-unsur strukturalisme ada tiga pokok jenis karya sastra adalah; (a) dalam Prosa
terdiri tema, peristiwa/kejadian, latar/setting, penokohan/perwatakan,
alur/plot, sudut padang, dan gaya bahasa. (b) Dalam Puisi terdiri
dari tema, stilitika/gaya bahasa, imajinasi/daya bayang, rime/irama,
rima/persajakan, diksi/pilihaan kata, simbol, nada. (c) Sedangkan pada Drama
(drama teks) terdiri; tema, dialog, peristiwa/kejadian, latar/setting,
penokohan/perwatakan, alur/plot dan gaya bahasa.
Adapun tujuan teori strukturalime
ini meliputi; (a) sebagai aktivitas yang bersifat inteltual, bertujuan
menjelaskan eksplikasi tekstual; (b) sebagai metode ilmiah, teori ini
memiliki cara kerja teknis dan rangkaian langkah-langkah yang tertib
untuk mencapai simpulan yang valid; (c) sebagai pengetahuan, teori ini dapat
dipelajari dan dipahami secara umum dan luas dan dapat di buktikan kebenaran
cara kerja secara cermat
E.
Hubungan Teori
Strukturalisme Dengan Bahasa
Pemikiran mengenai teori strukturalisme
berbeda-beda akan tetapi semua pemikiran
strukturalisme dapat dipersatukan dengan adanya pembaruan dalam ilmu bahasa
yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Jadi walaupun terdapat banyak
perbedaan antara pemikir-pemikir strukturalis, namun titik persamaannya adalah
bahwa mereka semua memiliki kaitan tertentu dengan prinsip-prinsip dasar
linguistik Saussure (Bertens, 1985: 379381).
Ferdinand de Saussure meletakkan dasar
bagi linguistik modern melalui
mazhab yang didirikannya, yaitu mazhab Jenewa. Menurut Saussure prinsip dasar
linguistik adalah adanya perbedaan yang jelas antara signifiant (bentuk, tanda,
lambang) dan signifie (yang ditandakan), antara parole (tuturan) dan langue
(bahasa), dan antara sinkronis dan diakronis. Dengan klasifikasi yang tegas dan
jelas ini ilmu bahasa dimungkinkan berkembang menjadi ilmu yang otonom, di mana
fenomena bahasa dapat dijelaskan dan dianalisis tanpa mendasarkan diri atas apa
pun yang letaknya di luar bahasa. Saussure membawa perputaran perspektif yang radikal
dari pendekatan diakronik ke pendekatan sinkronik. Sistem dan metode linguistik
mulai berkembang secara ilmiah dan menghasilkan teori-teori yang segera dapat
diterima secara luas. Keberhasilan studi linguistik kemudian diikuti oleh
berbagai cabang ilmu lain seperti antropologi, filsafat, psikoanalisis, puisi,
dan analisis cerita.
Bahasa merupakan satu kesatuan yang
utuh. Kesatuan yang mencerminkan satu harmonisasi sebagaimana yang dituntut
dalam kriteria estetik. Sebuah struktur mempunyai tiga sifat yaitu totalitas,
trasformasi, dan pengaturan diri. Transformasi yang dimaksud bahwa struktur
terbentuk dari serangkaian unsur, tetapi unsur-unsur itu tunduk kepada
kaidah-kaidah yang mencirikan sistem itu sebagai sistem. Dengan kata lain,
susunannya sebagai kesatuan akan menjadi konsep lengkap dalam dirinya.
Transformasi dimaksudkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah
unsur struktur dan mengakibatkan hubungan antarstruktur menjadi berubah pula.
Pengaturan diri dimaksudkan bahwa sruktur itu dibentuk oleh kaidah-kaidah
instrinsik dari hubungan antar unsur
yang akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang (Peaget
dalam Sangidu, 2004: 16). Transformasi yang terjadi pada sebuah struktur karya
sastra bergerak dan melayang-layang dalam teksnya serta tidak menjalar keluar
teksnya. Karya sastra sebagai sebuah struktur merupakan sebuah bangunan yang
terdiri atas berbagai unsur, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
Karena itu, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan
mengakibatkan hubungan antarunsur menjadi berubah. Perubahan hubungan
antarunsur pada posisinya itu secara otomatis akan mengatur diri (otoregulasi)
pada posisinya semula (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16).
Struktur bukanlah suatu yang statis, tetapi
merupakan suatu yang dinamis karena didalamnya memiliki sifat transformasi.
Karena itu, pengertian struktur tidak hanya terbatas pada struktur (structure),
tetapi sekaligus mencakup pengertian proses menstruktur (structurant) (Peaget
dalam Sangidu, 2004: 16). Dengan demikian, teori struktural adalah suatu
disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas
beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
Levi –Strauss mengatkan
hubungan atara bahasa dan kebudayaan di sini pada dasarnya adalah
kesenjangan-kesenjangan atau korelasi-korelasi yang mukin dan dapat ditemukan
diantara keduanya berkenaan dengan hal tertentu, sehingga seorang ahli bahasa bisa
saja bekerja sama dengan ahli antropologi untuk membandingkan ekspresi dan
konsep mengenai waktu dan tataran bahasa.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Bahwa teori strukturalisme sastra
merupakan sebuh teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan
keseluruhan relasi antara berbagai unsure teks.
2.
Strukturalisme merupakan suatu
gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat
dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap.
3.
Strukturalisme termasuk dalam teori
kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang
terjadi dalam diri manusia
4.
Perbedaan pendapat dalam
teori strukturalisme sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
strukturalisme formalis , strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik yang
pada dasarnya secara global strukturalisme menganut paham penulis paris yang
dikembangkan oleh Ferdinand de Sausessure, yang memunculkan konsep bentuk dan
makna ( sign and meaning).
5.
Pemikiran mengenai
teori strukturalisme berbeda-beda akan tetapi semua
pemikiran strukturalisme dapat dipersatukan dengan adanya pembaruan dalam ilmu
bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure
6.
Karya sastra yang dibangun atas
dasar bahasa, memiliki ciri bentuk (form) dan isi (cntent) atau
makna (significante) yang otonom. Artinya pemahaman karya
sastra dapat diteliti dari teks sastra itu sendiri. Hanya saja, pemahaman harus
mampu mengaitkan kebertautan antar unsur pembangun karya sastra. Kebertautan
unsur itu akan membentuk sebuah makna utuh. Berarti prinsip menyeluruh sangat
dipegang oleh kaum strukturalisme.
DAFTAR PUSTAKA
Shri Ahimsa, Heddy. 2001 . STRUKTURALISME Levi-Strauss MITOS DAN KARYA SASTRA. Galang Printika
: Yogyakarta
Yulianto, joko .2011. Teori Strukturalisme. Dalam web
TEORI STRUKTURALISME
Yulianto.htm
Komentar
Posting Komentar