Makalah Kebudayaan Jawa
Makalah
Kebudayaan Jawa
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Masyarakat
Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya
untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk
mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah
tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri”
kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan
Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk
membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari
luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut
dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang
kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari
luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang
kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang
ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna
terhadap kedinamisan budaya Jawa.
Walaupun
terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang
Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh
pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos,
adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung
suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia
Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah
pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya
dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari
peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
a.
Bagaimana sistem
religi dan upacara keagamaan masyarakat Jawa?
b.
Bagaimana sistem
organisasi dan kemasyarakatan masyarakat Jawa?
c.
Bagaimana sistem
pengetahuan masyarakat Jawa?
d.
Apa dan
bagaimana bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa?
e.
Kesenian apa
yang terdapat dalam kebudayaan Jawa?
f.
Apa dan bagaimana
matapencaharian mayarakat Jawa?
g.
Bagaimana sistem
teknologi masyarakat Jawa?
1.3 Tujuan
Makalah yang
kami susun ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.
Mahasiswa dapat mengetahui sistem religi dan upacara keagamaan masyarakat Jawa;
b.
Mahasiswa dapat mengetahui sistem organisasi dan kemasyarakatan masyarakat Jawa;
c.
Mahasiswa dapat mengetahui sistem pengetahuan masyarakat Jawa;
d.
Mahasiswa dapat mengetahui bahasa yang digunakan oleh
masyarakat Jawa;
e.
Mahasiswa dapat mengetahui kesenian apa saja yang ada
di Jawa;
f.
Mahasiswa dapat mengetahui jenis matapencaharian
masyarakat Jawa;
g.
Mahasiswa dapat mengetahui sistem teknologi masyarakat Jawa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem
Religi dan Upacara Keagamaan
Agama
Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. Selain itu, terdapat pemeluk
agama nasrani dan agama besar lainnya. Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa
dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
a.
Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa
yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya.
b.
Islam Kejawen, penganut agama Islam ini
beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat, atau puasa, serta tidak
bercita-cita naik haji, tetapi tetap percaya kepada kewajiban berzakat. Tuhan
mereka sebut Gusti
Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi.
Kebanyakan
orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam
semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada
takdir. Selain itu, orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten,
arwah atau roh leluhur, dan makhluk halus seperti misalnya memedi, lelembut, tuyul, demit, serta
jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. Menurut
kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses, kebahagiaan,
ketentraman ataupun keselamatan, namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan
gangguan pikiran, kesehatan, bahkan kematian. Maka apabila seorang Jawa hidup
tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam
semesta, misalnya dengan berpuasa, pantang makan makanan tertentu,
berselamatan, dan bersaji. Selamatan adalah upacara makan bersama yang
makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Hampir semua selamatan
ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun.
Upacara ini dipimpin oleh modin,
yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena
dianggap mahir membaca doa keselamatan dari dalam ayat-ayat Al-Quran. Upacara
selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian
dalam kehidupan manusia sehari-hari, yakni:
a.
Selamatan dalam rangka lingkaran hidup
seseorang seperti hamil tujuh bulan, kelahiran, upacara potong rambut pertama,
upacara menyentuh tanah untuk pertama kali, upacara menusuk telinga, serta
upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. Upacara yang
berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa
sangat menghormati arwah orang meninggal dunia, terutama keluarganya. Rangkaian
upacara selamatan (sedekahan)
yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam
akhirat ialah:
1)
Sedekah
Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya
seseorang. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah.
Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu
mendapat pengampunan. umumnya adalah saudara, tetangga yang dekat dan ulama
yang diundang. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan
mengaji bersama. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini, umumnya tetangga
hadir dengan membawa bahan bahan panganan ( beras, telur, bahan untuk sayur,
gula, kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban
keluarga. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa, yang diutamakan untuk
berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal, saudara dekat, teman atau
tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. Tidak ada acara kendhuren, jika
ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. Bisa juga jika keluarga yang
”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau
menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. Yang
dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”.
2)
Sedekah
Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan
pada hari ketiga sesudah saat meninggalnya seseorang.
3)
Sedekah
Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya
seseorang yang jatuh pada hari ketujuh.
4)
Sedekah
Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang
pada hari keempat puluh.
5)
Sedekah
Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah
hari keseratus sejak saat kematiannya.
6)
Sedekah
Mendak sepisan dan Mendak pindo, masing-masing upacara
selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun
dari saat meninggal seseorang.
7)
Sedekah
Nyewu, sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang
bertepatan dengan genap seribu harinya. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya
yang terakhir kalinya.
b.
Selamatan yang bertalian dengan bersih
desa, penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi.
c.
Selamatan yang berhubungan dengan
hari-hari serta bulan-bulan besar Islam
d.
Selamatan pada saat-saat yang tidak
tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian, misalnya menempati rumah atau
menolak bahaya (ngruwat).
Selain upacara
selamatan, pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. Sesajen
merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka
kepercayaan kepada makhluk halus. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang
dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker) agar terhindar dari gangguan
makhluk halus.
Sesajen
merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke
dalam air, kemenyan,
uang recehan, dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang
kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. Ada sesajen yang dibuat pada tiap
malam Selasa Kliwon
dan
Jumat Kliwon. Masyarakat
Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap
tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau
disebut juga Gerebeg
Mulud.
Adapun kepercayaan
kepada kekuatan sakti (kasakten)
ditujukan
kepada benda-benda
pusaka, keris, gamelan,bahkan
pada burung perkutut,
kendaraan istana
(kereta Nyai Jimat dan
Garuda Yeksa),
serta kepada raksasa Batara
Kala. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada
hari Jumat Kliwon pada
bulan Sura dibersihkan
dengan upacara siraman
yang
dilakukan di dalam lingkungan istana (Ratawijaya) secara terbuka. Menurut
kepercayaan masyarakat Jawa, air bekas siraman tersebut dapat memberi
berkah. Sedangkan Batara
Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti
untuk mendatangkan bencana pada benda
atau manusia, sehingga orang Jawa yang
mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari
bahaya. Ruwatan dilakukan oleh dukun, yang pandai menyembuhkan penyakit dan
mengenyahkan ruh jahat. Ruwatan biasanya disertai pertunjukkan wayang kulit
sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala.
Dalam kehidupan
masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan, yang macamya yaitu:
1. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan,
yang percaya pada adanya ruh halus, atau badan halus, serta jin dan lain-lain.
2. Aliran yang keislam-islaman, yang
ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam, dengan syariat yang
sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa.
3. Aliran kehindu-jawian, yang pengikutnya
percaya kapada dewa agama Hindu
4. Aliran yang bersifat mistik, dengan
usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan.
Contoh aliran kebatinan
yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan
”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”, Hidup Betul, Hendra Pusara, Hidup Betul Iman Agama Hak, dan
Parda Pusara
Penitisan Rohani. Hampir
semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia.
2.2 Sistem
Organisasi dan Kemasyarakatan
Dalam sistem
kemasyarakatan orang Jawa, mereka masih membeda-bedakan antara orang Priyayi
yang terdiri dari pegawai negeri dan kaum terpelajar dengan orang kebanyakan
yang disebut wong cilik, seperti petani-petani, tukang-tukang, dan pekerja
kasar lainya, disamping keluarga kraton dan keturunan bangsawan atau
bendara-bendara.
a. Priyayi
Kata priyayi konon
berasal dari dua kata Jawa para
dan
yayi yang secara harafiah
berarti "para adik". Yang dimaksud adalah para adik raja. Namun
menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā, yang berarti kekasih
Dalam kebudayaan Jawa, istilah priyayi atau berdarah biru merupakan
suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Suatu golongan
tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan.
Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). Gelar dalam
golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu
kehormatan. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar
saja yaitu Raden. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari
usianya.
Misalnya ketika seorang
anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara, ia bergelar Raden Mas, jadi nama
lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara, ketika menginjak akil balik gelarnya
bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas, ketika menapak dewasa (18 atau
21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. Pada saat dewasa dan
telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan, ia akan memiliki gelar
yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin
ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. Dan
setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah
nama.
Istilah
priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang
masyarakat Jawa pada tahun 1960-an, dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam
tiga golongan: priyayi, santri dan abangan. Kelompok santri digunakan untuk mengacu
pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Abangan digunakan
untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. Namun penggolongan ini
tidaklah terlalu tepat, karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah
berdasarkan garis keturunan seseorang, sedangkan pengelompokkan santri -
abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan
agamanya (Islam). Dalam realita, ada priyayi yang santri dan ada pula yang
abangan, bahkan ada pula yang non muslim.
b.
Ningrat
Adalah keluarga
keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar
yang menandakan tingkat kebangsawanannya. Misalnya seorang laki-laki ningrat
yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang
memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan
gelarnya, sehingga menjadi Bandara
Raden Mas (disingkat BRM).
c.
Wong Cilik
Merupakan
golongan masyarakat yang paling bawah, biasanya hidup didesa-desa dengan sesuai
dengan mata pencaharian mereka sebagai petani, tukang dan pekerja kasar
lainnya. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi :
1)
Wong baku
merupakan lapisan
tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa, mereka adalah keturunan orang-orang
yang dahulu yang pertama kali menetap didesa, mereka memiliki sawah, rumah,
serta pekarangannya.
2)
Kuli gandok
atau lindung
Mereka adalah orang
laki-laki yang sudah kawin, akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal
sendiri,sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya.
3)
Joko, sinoman,
atau bujangan
Mereka semua belum
menikah, dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah
orang lain. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari
pembelian atau warisan.
Sistem dan penggolongan
tersebut menimbulkan hak dan kewajiban yang berbeda-beda dari keluarga-keluarga
atau anggota-anggota tiap ketiga lapisan itu.
Secara
administratif, suatu desa di Jawa biasanya disebut kelurahan, dan dikepalai
oleh seorang lurah. Sekelompok 15 – 25 desa merupakan suatu kesatuan
administratif yang disebut kecamatan dan dikepalai oleh seorang pegawai pamong
praja yang disebut camat.
Dalam
melakukan pekerjaan sehari-hari kepala desa dengan pembantu-pembantunya yang
semuanya disebut pamong desa, yang mempunyai dua tugas pokok, yaitu tugas
kesejahteraan desa dan tugas kepolisian untuk memelihara ketertiban desa. Lurah
dipilih oleh dan dari penduduk desa sendiri, dengan ketentuan-ketentuan yang
berlaku bagi calon yang dipilih atau yang memilih. Dengan adanya peraturan
daerah yang berlaku dan disahkan, misalnya daerah Yogyakarta dan sekitarnya,
dalam tiap-tiap kelurahan dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan,yakni
suatu badan yang merupakan wakil dari rakyat dan untuk rakyat.
Organisasi
pemerintahan tersebut yang sekaligus menjadi badan pimpinan mencakup dari
rakyat desa, mewajibkan lurah untuk mengangkat pembantu-pembantu. Adapun
pembantu-pembantu tersebut adalah
a.
Carik, yang bertigas sebagai pembantu
umum dan penulis desa
b.
Sosial, yang memelihara kesejahteraan
penduduk baik rohani maupun jasmani
c.
Kemakmuran, bertugas memperbesar
prosuksi pertanian
d.
Keamanan, bertanggung jawab atas
ketentraman desa
e.
Kaum, mengurus pernikahan, talak dan
rujuk serta kegiatan-kegiatan keagamaan, juga sosial kalau ada kematian.
Desa-desa
di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh, oleh karena
itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh.
Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya, para pamong desa harus
sering menggerakkan masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna
bekerja sama membersihkan, memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan.
Untuk
mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, banyak desa di Jawa memiliki koperasi
pertanian, koperasi konsumsi, dan bank desa sejak lama.
2.3 Sistem Pengetahuan
Secara
sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang
benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki
oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau
percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error). Dalam
masyarakat jawa memiliki cara tersendiri untuk mengetahui sifat dan keadaan seseorang
baik dari tanggal lahirnya, bentuk tubuhnyam maupun mimpi yang ia alami.
Kesemuanya itu dapat diungkap dalam sebuah buku yang bernama Primbon. Primbon dapat dibedakan menjadi beberapa
macam berdasarkan penggunaanya mulai dari mulai primbon mimpi, primbon jodoh,
primbon rejeki, primbon wanita dan sebagainya. Sampai sekarang primbon masih banyak
digunakan oleh masyarakat jawa dalam menghitung ramalan jodoh, perhitungan
rejeki dan keselamatan dan berbagai penggunaan lain dalam kehidupan.
a.
Weton
Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa (dan karakter dari seseorang yang lahir dalam hari tertentu) dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ramalan ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan. Weton merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dll.) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran anda berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran anda.
Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa (dan karakter dari seseorang yang lahir dalam hari tertentu) dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ramalan ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan. Weton merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dll.) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran anda berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran anda.
1)
Jumat Legi
Konon, mereka yang lahir pada hari ini cenderung bersifat jujur. Bahkan,
mereka terkadang mungkin terlalu jujur, sebab mereka adalah tipe orang yang
suka mengungkapkan pikiran mereka tanpa tedeng aling-aling! Mereka cukup teguh
dengan pendirian mereka, tetapi sikap seperti ini terkadang juga menghambat
kemampuan mereka untuk menerima orang lain secara apa adanya. Sebaiknya kita
tidak memancing amarah mereka, karena mereka dapat bertindak ekstrim bila
sedang naik darah. Meskipun demikian, mereka setia dan murah hati terhadap
orang-orang yang dicintainya. Simpati mereka mudah timbul sehingga tidak
keberatan untuk bertindak diluar jalur mereka untuk membantu teman atau bahkan
orang asing.
2)
Sabtu Pahing
Jika anda lahir pada hari Sabtu Pahing, kemungkinan anda bersifat lekas
naik darah! Untungnya, secepat anda memuntahkan kemarahan anda secepat itu pula
anda melupakan penyebabnya. Semoga orang lain sebaliknya mudah memaafkan anda
pula! Perlu diingat, bukanlah suatu hal yang menyakitkan untuk mengakui
kesalahan yang kita lakukan. Akan tetapi meskipun anda memiliki semangat hidup
yang tinggi yang terkadang berakibat pada kecerobohan, anda akan bersikap lebih
waspada bila menyangkut materi. Anda adalah salah satu tipe yang selalu siap
membantu teman yang sedang menderita.
Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang
digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten, Jawa
Barat, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Bahasa Jawa terbagi menjadi
dua yaitu Ngoko dan Kromo. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak
langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko
dan kromo ). Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama, Krama Madya,
Krama Inggil ( Krama Halus ). Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang
dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa.
Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan
oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa.
Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek,
yakni :
a. Dialek daerah, dan
b. Dialek sosial
Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat
berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun
Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan
budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara
0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu
kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey
of Studies on the Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus
Nijhoff.
a.
Dialog Daerah dalam Bahasa
Jawa adalah sebagai berikut :
1)
Kelompok
Bahasa Jawa Bagian Barat :
a)
Dialek Banten
b)
Dialek Indramayu-Cirebon
c)
Dialek Tegal
d) Dialek Banyumasan
e)
Dialek Bumiayu (peralihan
Tegal dan Banyumas)
Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
2)
Kelompok
Bahasa Jawa Bagian Tengah :
a)
Dialek Pekalongan
b)
Dialek Kedu
c)
Dialek Bagelen
d) Dialek Semarang
e)
Dialek Pantai Utara Timur
(Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
f)
Dialek Blora
g)
Dialek Surakarta
h)
Dialek Yogyakarta
i)
Dialek Madiun
Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar,
khususnya dialek
Surakarta dan Yogyakarta.
3)
Kelompok
Bahasa Jawa Bagian Timur :
a)
Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban,
Bojonegoro)
b)
Dialek Surabaya
c)
Dialek Malang
d) Dialek
Jombang
e)
Dialek Tengger
f)
Dialek Banyuwangi (atau
disebut Bahasa Osing)
Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran.
b.
Dialek
sosial
Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko ("kasar"), madya ("biasa"), dan krama ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat
bentuk "penghormatan" (ngajengake, honorific) dan
"perendahan" (ngasorake, humilific).
Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang
bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial,
atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan
berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan
menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai
di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang
erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Sebagai tambahan, terdapat bentuk bagongan dan kedhaton,
yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton.
Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya,
madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.
Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya
bahasa yang berbeda-beda ini.
Bahasa
Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak
Budi itu, di mana?"
1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2.
Ngoko alus: “Aku nyuwun
pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3.
Ngoko meninggikan diri
sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian
besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri
sendiri)
4.
Madya: “Nuwun sèwu, kula
ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa
(substandar))
5.
Madya alus: “Nuwun sèwu,
kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama
desa (krama substandar))
6.
Krama andhap: “Nuwun sèwu,
dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu
sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini
termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
7.
Krama lugu: “Nuwun sewu,
kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8.
Krama alus “Nuwun sewu, kula
badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
*nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan
dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.
Dengan memakai
kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti
sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya
dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur
bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.
Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk
pulau Jawa. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri, yang dikembangkan dari
huruf Pallava, dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab.
Hanacaraka atau dikenal
dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa
(juga Madura, Sunda, Bali, Palembang, dan Sasak). Aksara Jawa bila diamati
lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). Hal ini bisa dilihat
dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf
(aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf
yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan
kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan
merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata
"nabi". Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah
tampak pada gambar berikut.
2.5 Kesenian
Masyarakat Jawa memiliki banyak kesenian, diantaranya
:
a.
Seni Tari
Tari
sering disebut juga ”beksa”,
kata
“beksa” berarti “ambeg”
dan
“esa”, kata
tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah
benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud
gerak yang luluh. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan
melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan
selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya
bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama
Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan
kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami kejayaan
yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada
pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber
utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua
tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya
meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa
Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak
berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat
dipertanggung Jawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri
Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di
Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta.
Seni
tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
1.
Tari klasik
Seperti : Tari
Bedhaya, Tari Srimpi, Tari Perthilan, Tari Golek, Tari Bondan, Tari Topeng
2.
Tari Tradisional
Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah
terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah
tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai
keunikan-keunikan tersendiri. Seperti :
Tari Dolalak (Purworejo), Patolan
(Rembang), Kuda Kepang, Barongan, Wayang Krucil (Blora), Kuntulan dan Sintren
(Pekalongan), Obeg dan Begalan (Cilacap), Lengger-Calung (Banyumas), Kuda
Lumping (temanggung), Lengger (Wonosobo), Jatilan (Magelang), Tarian Jlantur (
Boyolali), Ketek Ogleng(Wonogiri)
3.
Tarian garapan
Baru
Meskipun namanya 'baru' tetapi semua
tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis
tari klasik maupun tradisional. Seperti : Tari Prawiroguno, Tari tepak-Tepak
Putri, Pujangganong, Klana Sewanda, Angguk, rengkong, Buncis, Aksi Muda, Tari
Gambyong, Tayuban, Aplang atau daeng.
b.
Seni Musik
Beberapa
jenis alat musik yang terdapat di Jawa, diantaranya : Gamelan Jawa (Kendang,
Saron, Bonang barong, Slentem, Gender, Gambang, Gong, Kempul, Kenong, Ketug,
Clempung, Siter, Suling Rebab, Bedug, Keprak dan Kepyak) Jula-Juli (Jawa
Timur), Bongkel (Banyumas), Calung, Kenthongan, Shalawatan Jawa.
c.
Karya Sastra
Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan
sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi), Pare, Kediri,
Jawa Timur. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini
bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
Setelah prasasti Sukabumi, ditemukan
prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut
kakawin. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa
(Kuna). Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa:
·
Sastra Jawa Kuna
·
Sastra Jawa Tengahan
·
Sastra Jawa Baru
·
Sastra Jawa Modern
Terdapat
pula kategori Sastra Jawa-Bali, yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan.
Selain itu, ada pula Sastra Jawa-Lombok, Sastra Jawa-Sunda, Sastra Jawa-Madura,
dan Sastra Jawa-Palembang.
Dari
semua sastra tradisional Nusantara, sastra Jawa adalah yang paling berkembang
dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi RI,
tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI,
kesatuan yang diutamakan.
d. Wayang
Wayang adalah seni
tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali.
Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003,
sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan
warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada
pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik
kain, sebagai pembatas antara dalang yang
memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan
gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir.
Budaya wayang meliputi seni
peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat,
dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke
zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman
filsafat, serta hiburan.
Ada versi wayang yang
dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang,
dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang.
Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang
golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari
Mahabharata dan Ramayana.
Wayang, oleh para pendahulu
negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan
Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa
sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian.
1. Wayang Kulit di Jawa
Timur
2. Wayang Wong atau Wayang
Orang di Jawa Tengah,
3. Wayang Golek di Jawa
Barat
Masing masing sangat
bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang
Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".
Jenis-jenis wayang :
Selama berabad-abad, budaya
wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis jenis wayang itu
tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Sedangkan
alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam, antara lain yang terbuat
dari kertas, kain, kulit, kayu, dan juga Wayang Orang.Perkembangan jenis wayang
ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat.
-Wayang Kulit -Wayang
Wahyu
-Wayang Golek/ Wayang
Thengul Bojonegoro -Wayang Menak
-Wayang Krucil -
Wayang Klitik
-Wayang Purwa -
Wayang Suluh
-Wayang Beber -
Wayang Papak
-Wayang Orang -
Wayang Madya
-Wayang Gedog -
Wayanng Parwa
-Wayang Sasak -
Wayang Sadat
-Wayang Calonarang -
Wayang Kancil
e.
Ketoprak dan
Ludruk
Ketoprak
(bahasa
Jawa kethoprak)
adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan
ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan
gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak
bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak
pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil
dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti
pertunjukkan bukan ketoprak lagimelainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
Ludruk adalah
kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama
tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan
disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari,
cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan
diiringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat
menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya,
meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang,
Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada
ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak,
peronda, sopir angkotan, etc).
Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai
dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan
"Pak Sakera", seorang jagoan Madura. Ludruk berbeda dengan ketoprak
dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah
maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk
menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik.
f.
Kidung/Puisi
Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun
masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam
kekawin. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. Sementara itu
nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait
dan vokal akhir pada setiap baris. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah
campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno
dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung
Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. Berikut ini contohnya :
|
Sangtabyana ta pakulun
rancana cipta kumawi
Panji prakasa tembange
Ki Subrataka kang winuwus
luputa ring lara roga
nirmala waluya jati
luputta ring pamurung
luputta ring baya pati
|
Arti :
Bahagialah tuanku
kisah cubaan akan dinyanyikan
dengan lagu panji prakasa
Ki Subrata yang dikisahkan
moga-moga terluput dari malapetaka
nirmala dan sihat wal! ̄afiat
luput dari halangan
luput
dari bahaya maut.
|
g.
Lagu Adat Jawa
Macapat
Adalah
lagu tradisional dari tanah Jawa. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali, madura
dan Sunda. Jika dilihat dari ”kerata basa”, macapat artinya
”maca papat-papat”. Membacanya memang
dirakit tiap empat suku kata. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit, dan
dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Tetapi itu juga belum pasti, karena
tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. Macapat banyak dipakai
di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru. Jika dibandingkan dengna kakawin,
aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. Kitab-kitab pada jaman Mataram
Baru, seperti wedathama, Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Kalathida, dan
yang lain-lain disusun dengna lagu ini. Aturan – aturan itu ada pada :
· Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap
bait.
· Guru wilangan : bilangan suku kata
tiap gatra.
· Guru lagu : suara vokal di akhir tiap
baris.
Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis
yaitu :
1.
Sekar Macapat
atau Sekar Alit
Macapat ini
juga disebut sebagai macapat asli, yang umumnya sering dipakai dimana-mana. Ada
11 sekar macapat, yakni mijil, sinom, dhandhanggula, Kinanthi, asmarandhana,
durma, pangkur, maskumambang, pocung, gambuh, dan megatruh.
2.
Sekar Madya
atau Sekar Tengahan
Macapat jenis
ini seperti lagu kidung yang dipakai pada zaman Majapait yakni Jurudemung,
wirangrong, balabak.
3. Sekar Ageng
Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada
satu yaitu Girisa. Jika dilihat dari kesusahannya, sekar macapat ageng seperti
lagu kakawin di jaman dahulu.
Selain
macapat, adapula lagu-lagu lainya yaitu Andhe-andhe lumut, yen ing tawang ana
lintang, cublak-cublak suweng, lir-ilir, suwe ora jamu.
2.6 Mata
Pencaharian
Masyaratak Jawa mayoritas mata pencaharianya adalah
di sektor pertanian (42,34%), diikuti
dengan perdagangan (20,91%), industri (15,71%),
dan jasa (10,98%).Selain sumber kehidupan yang berasal dari
pekerjaan-pekerjaan kepegawaian,pertukangan,dan perdagangan,bertani adalah
juga merupakan salah satu mata
pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desa-desa. Di
dalam melakukan pekerjaan pertanian itu, di antara mereka ada yang menggarap
tanah pertaniannya untuk di buat kebun kering (tegalan), terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan , sedangkan
yang lain, yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang berdataran rendah
mengolah tanah-tanah pertanian tersebut guna di jadikan sawah. Biasanya di
samping tanaman padi, beberapa jenis tanaman palawija juga di tumbuhkan baik
sebagai tanaman utama di tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada
waktu musim kemarau di mana air sangat kurang untuk pengairan sawah-sawah
itu,seperti ketela pohon, jagung, ketela rambat, kedelai, kacang tanah, kacang
tunggak,gude, dan lain-lain.
Pada mulanya tanah sawah di garap dan di
olah oleh satu orang atau lebih dan tanah itu ada yang dibuat bertingkat-tingakat
atau datar saja drngan di brti pematang sebagai penahan air. Sebelum ditanami,
tanah-tanah itu di olah terlebih dahulu. Pada mula-mulanya tanah di garap
dengan bajak (luku). Gunanya adalah untuk membalik tanah sehingga dapat lebih
mudah ditugali, yaitu pekerjaan menghancurkan tanah dengan cangkul. Setelah
kedua proses penggarapan ini selesai, tanah di diamkan selama satu
minggu,kemudian baru diolah dengan garu. Maksudnya agar supaya tanah menjadi
lunak dan lumat. Dalam hal ini seluruhnya dibantu oleh pengairan. Setelah
selesai di garu, lalu diberi pupuk, ialah pupuk hijau dan juga pupuk kandang.
Pupuk hijau terdiri dari daun-daun pohon karang karang kitri. Sedangkan pupuk
kandang adalah kotoran hewan sapi, kerbau, kuda, atau kambing yang berasal dari
kandang. Sesudah diberi pupuk tanah sawah dibiarkan lagi juga selama satu
minggu sambil digenangi air. Sebagai usaha pengolahannya yang terakhir, sawah
sekali lagi dibajak supaya dengan demikian semua lapisan digenangi air dan
terkena pupuk, kemudian sekali lagi digaru, akhirnya barulah tanah sawah
tersebut siap untuk di Tanami padi.
Sebelumnya ditumbuhkan di sawah, bibit padi terlebih
dahulu disebarkan dan disemaikan dalam persemaian padi (pawinihan). Untuk itu
butir-butir padi yang akan dijadikan benih dipilih terlebih dahulu. Butir-butir
yang dipilih ialah yang masih dalam keadaan tumbuh atau melekat pada batangnya.
Pekerjaan memilih butir-butir padi bakal bakal bibit ini oleh kalangan
masyarakat di desa ini disebut nglinggori. Kemudian batang-batang padi yang
berisi butir-butir padi itu dipotong, dengan diperhatikan supaya butir-butir
yang dipotong adalah sedang; artinya tidak terlalu muda atau tidak terlalu tua.
Potongan-potongan batang padi tadi lalu
diikat dalam beberapa ikatan(untingan). Untingan-untingan ini lalu dijemur
selama satu hari kemudian butir-butirnya ditanggali da dimasukan ke dalam bakul
besar yang disebut tenggok. Bakul atau tempat penyimpanan bibit padi tersebut
terus direndam air satu hari satu malam dan setelah itu di pep, yaitu ditutup
dengan daun pisang sampai dua atau tiga hari. Selanjutnya kalau sudah tumbuh
akar-akarnya, maka bibit padi telah dapat disebarkan di persemaian. Lamanya
benih padi di dalam persemaian ini sampai bisa dipindah ke sawah , adalah antara 15-30 hari. Pekerjaan
pemindahan tunas batang padi di sini dinamakan nguriti atau ndaut.
Selama dalam pertumbuhannya, tanaman padi yang masih
muda itu dipelihara serta dijaga supaya tidak ada tumbuhan-tumbuhan liar
merusaknya. Untuk ini dilakukan pekerjaan mematun dengan memakai alat yang
disebut gosrok. Akhirnya sesudah padi masak lalu dituai dengan ani-ani untuk
disimpan di dalam lumbung, yang telah 40 hari baru boleh ditumbuk.
Sebagian besar dari penduduk di daerah ini juga
menanam tumbuh-tumbuhan palawija di samping padi. Adapun jenis-jenisnya
terutama adalah kedelai dan kacang brol. Kedua jenis tanaman palawija itu ditanam pada saat
menjelang datangnya musim kemarau. Karena kedua macam tumbuh-tumbuhan ini tidak
memerlukan banyak air kecuali pada waktu permulaan tumbuhnya, maka petani
membuat lubang-lubang untuk mengalirkan air keluar dari sawah pada tepid an
sudut-sudut pematangannya.
Telah disebut di atas, bahwa pada saat-saat
permulaan pertumbuhan kedua jenis palawija tersebut, dibutuhkan banyak air.
Demikian sebelum bersemi, tanah bawah digenangi air kira-kira satu minggu dan ini disebut
ngelebi. Adapun alat untuk membenamkan biji kedelai dan kacang brol itu ialah
panja, yaitu sebatang kayu yang diruncingkan ujungnya serta panjangnya hampir
dua meter. Sesudah tanaman-tanaman tersebut tumbuh dan mencapai usia kira-kira
15 hari, lalu di danger, yaitu suatu pekerjaan meninggikan tanah di tepian
bawah batang tanaman yang sedang tumbuh
dengan gatul. Setelah selesai dilakukan perawatan selama dua bulan atau lebih sedikit maka
buahnya dapat dipetik.
Banyaknya produksi tiap-tiap jenis tumbuh-tumbuhan
bahan pangan itu dalam setiap luas sawah tertentu misalnya, satu lubang, satu
patok, atau satu ru itu tergantung pada kelas sawahnya. Satuan ukuran luas
sawah, sawah satu ru ini sama dengan panjang 14 meter serta lebar 1 meter.
Biasanya ada tiga macam kelas sawah, yaitu sawah kelas I, sawah kelas II dan
sawah kelas III. Penilaiannya didasarkan kepada letak sawah, umpamanya terletak
di dekat sumber-sumber air, yang dapat memberi tenaga pengairan secara kontinu
dan baik, atau didasarkan atas kualitas tanah dari sawah-sawah itu sendiri.
Tanah yang kurang baik tetapi dengan pemakaian pupuk kimia serta irigasi yang
teratur dapat memberi pertambahan hasil tiap-tiap jenis tanaman itu, akan
dikelaskan tinggi.
Sawah-sawah milik sendiri adalah sawah sanggan dan
sawah yasan. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada
orang lain. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan, ialah hanya
menyewakan sawahnya untuk satu tahun, atau secara adol ceplik, ialah menjual
lepas sawahnya.
Banyak orang di desa itu tidak memiliki tanah-tanah
pertanian yang luas, bahkan banyak juga yang tidak mempunyainya sama sekali.
Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani, menyewa tanah, bagi
hasil, atau menggadai tanah.
Buruh tani melakukan pekerjaan seperti mencangkul,
mematun membajak, menggaru, dan menuai pada sawah-sawah milik orang di desa.,
maka jumlah atau besar upahnya ditentukan menurut berapa klali ia bekerja
angkatan, ialah ukuran waktu kerja yang sama dengan 4 jam lamanya. Satu hari
dibagi 3 angkatan, yaitu angkatan pertama dimulai dari jam 6.00 sampai jam
10.00 pagi, angkatan kedua dari jam 10.00 pagi sampai jam 14.00 siang, dan
angkatan ketiga dimulai dari jam 14.00 siang hingga jam 18.00 sore.
Adapun orang yang menyewa tanah, karena ia kaya
dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan,
misalnya untuk satu masa panen, yang disebut adol oyodan.
Apabila orang yang tak mempunyai tanah ingin mendapat
hasil dengan cara bagi hasil, artinya memperoleh separo bagian hasil panennya,
maka system itu disebut maro. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja, system
itu disebut mertelu. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung
kepada keadaan tingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. Terutama untuk hasil
tanaman palawija kacang brol, si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima 1/5
bagian dari seluruh hasil panenan sawah –sawahnya.
Akrhirnya jika orang hendak menggadai tanah, maka
ada yang disebut adol sende, artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain,
dimana ia mendapat tanah pertanian sebagai barabg gadaian untuk diolah.
Kemudian bila mana si peminjam uang dan
pemilik sawah tersebut berhasil mengembalikan uang pinjamanya pada suatu waktu,
maka tanah pertanian tdai diserahkan kembali kepadanya. Walaupun demikian orang
yang menggadaikan tanah itu sudah dapat memungut hasil pertanianya
setidak-tidaknya satu kali masa panen, sebagai bunganya. Hubungan transaksi
semacam ini umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengan disaksikan oleh
seorang pamong desa.
Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan
pokok bertani tersebut, ada pula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh
dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanan tempe, mencetak batu merah,
mbotok atau membuat minyak goreng kelapa, membatik, menganyam tikar, dan
menjadi tukang-tugang kayu, batu atau tukang reparasi sepeda dan
lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan.
2.7 Sistem
Teknologi
Teknologi menyangkut
cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan
dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan
masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam
memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau
masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling
sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem
peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu: alat-alat produktif, senjata,
wadah, alat-alat menyalakan api,
makanan,
pakaian,
tempat berlindung dan perumahan, alat-alat transportasi.
a.
Rumah Adat
Ilmu yang mempelajari
seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga
Wong Kalang. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang
sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu :
1.
Joglo (atap joglo) atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan
atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki
ciri; atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya
(alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan
sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem).
2.
Limasan (atap limas),
yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Bentuk
rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah
bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya
dengan penambahan emper atau serambi, serta beberapa ruangan akan tercipta
bentuk-bentuk sinom, kutuk ngambang, lambang gantung, trajumas, dan lain-lain.
Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal
3.
Kampung (atap pelana),
yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja Bentuk
Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal, baik di kota maupun di desa dan
di gunung-gunung. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat
tinggal
4.
Panggang Pe,
yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak
kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lain-lainnya yang terdapat
di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda,
tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya
5.
Mesjidan/Tajugan,
yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi
meruncing. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing, soko
guru dengan blandar-blandar tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu
di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan sebagai tempat suci, semisal : Masjid,
tempat raja bertahta, makam. Tidak ada yang untuk tempat tinggal.
Masing-masing
bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan
dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi
daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila
diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam
bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere
gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain.
Menurut
pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan
penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk
bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat
raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya
dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta
penggunaan yang
tertentu, antara lain :
- pintu gerbang :
bentuk kampung
- pendopo : bentuk
joglo
- pringgitan : bentuk
limasan
- dalem : bentuk joglo
- gandhok (kiri-kanan)
: bentuk pacul gowang
- dapur : bentuk
kampung
- dan lain-lain.
Tetapi
bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya
rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara
yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan
untuk kegunaan yang tertentu, misalnya :
- emper depan : untuk
Pendopo
- ruang tengah : untuk
tempat pertemuan keluarga
- emper kanan-kiri :
untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan
- emper yang lain :
untuk gudang dan dapur.
Di
beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Hal tersebut dimaksudkan
untuk berjaga-jaga bila ada banjir. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah
begitu maju, maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu,
seperti : ander, dudur, brunjung, usuk peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar,
pengeret, saka guru, saka penanggap, umpak, dan sebagainya.
Bahan
bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. Arsitektur tradisional Jawa
terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau
manca negara. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar
Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa.
Pada
dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain –
adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang disebut rumah yang
utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan
halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda.
Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Struktur
bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payung
yang terpancang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas,
bukan dinding pemikul. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur
tersebut diperlihatkan secara jelas, wajar dan jujur tanpa ada usaha
menutup-nutupinya. Demikian pula bahan-bahan bangunannya, semua dibiarkan
menunjukan watak aslinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan
yang cukup handal terhadap gempa.
Atap
bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yang sangat melindungi
ruang beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruang dan struktur yang demikian
sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan
sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada di udara
terbuka. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat
bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam
seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring
debu, peredam angin dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan
binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional.
Dalam masyarakat Jawa, susunan rumah dalam
sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. Selain rumah tempat
tinggal (induk), yaitu tempat untuk tidur, istirahat anggota keluarga, terdapat
pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga
tersebut. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa, terletak di depan
rumah tempat tinggal, digunakan untuk menerima tamu. Rumah belakang (omah buri)
digunakan untuk rumah tempat tinggal, di antara rumah belakang dengan pendapa
terdapat pringgitan. Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan
pertunjukan wayang kulit, bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan,
khitanan, dan sebagainya). Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki
ditempatkan di pendapa, sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang.
Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa, misalnya
Istana Ratu Boko di dekat Prambanan.
Bagi
warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu, disamping bangunan rumah
tersebut, tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya,
misal: lumbung, tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. Biasanya terletak
di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. Letaknya agak berjauhan. Dapur (pawon)
terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri), tempat memasak. Lesung,
rumah tempat menumbuk padi. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang
(pada umumnya terletak di sebelah belakang). Kadangkadang terdapat lesung yang
terletak di muka pendapa samping kanan. Kandang, untuk tempat binatang ternak
(sapi, kerbau, kuda, kambing, angsa, itik,ayam dan
sebagainya). Untuk
ternak besar disebut kandang, untuk ternak unggas, ada sarong (ayam), kombong
(itik, angsa); untuk kuda disebut gedhongan. Kandang bisa terdapat di sebelah
kiri pendapa, namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela
oleh halaman yang luas. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan
kandhang. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh
dari pendhapa.
Kadang-kadang
terdapat peranginan, ialah bangunan rumah kecil, biasanya diletakkan disamping
kanan agak berjauhan dengan pendapa. Peranginan ini bagi pejabat desa bisa digunakan
untuk markas ronda atau larag, dan juga tempat bersantai untuk mencari udara
segar dari pemiliknya. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut
jambang, berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping
kiri atau kanan rumah belakang. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan
kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Biasanya untuk WC ditempatkan
agak berjauhan dengan dapur, rumah belakang, sumur dan pendhapa. Pintu masuk
pekarangan sering dibuat Regol. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa
yang lengkap untuk sebuah keluarga. Hal tersebut sangat bergantung pada
kemampuan keluarga. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa
adala rumah belakang, pringgitan, pendapa, gadhok (tempat para pelayan),
lumbung, kandhang, gedhogan, dapur, pringgitan, topengan, serambi, bangsal, dan
sebagainya. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta
harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat.
b.
Keris
Keris
atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa yang menjadi lambang utama seorang laki-laki selain
turangga, wisma, wanita dan kukila. Keris mempunyai makna jantan perkasa dan
dewasa, atau lakilaki Jawa itu harus tangguh, sanggup melindungi diri sendiri,
keluarga dan membela Negara. Keris, atau pisau belati, adalah hasil kegaiban
yang lain dari Jawa kuno. Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa. Keris
dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. Belum ada
penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris,
keris Jawa sudah mempunyai wujud yang sempurna saat kerajaan majapahit. Pada zaman
dahulu, keris menjadi lambang kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah
yang paling istimewa, apalagi jika yang memberikannya adalah raja. Keahlian
membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno, bahkan sebelum Kerajaan
Majapahit (abad ke-13).
Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris
sudah mulai berkurang, pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai
perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. Di zaman dulu selain menjadi
senjata, keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial, jenjang
pangkat serta sebagai hadiah, selain itu, dahulu keris juga bisa menjadi simbol
persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol
persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap
azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk
gaib)
c.
Pakaian Adat
Rasukan
adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang
sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan
demak. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa.
Busana Jawa penuh dengan piwulang
sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. Dalam
busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini
secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari, baik dalam
hubungannya dengan sesama manusia, diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa
Pencipta segalanya. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan, rasukan
mesiran, rasukan basahan dan rasukan gedhog. Masing-masing jenis rasukan Jawa
ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi
Jawa.
Pada umumnya rasukan Jawa dibagi
menjadi 4 bagian yaitu :
1)
Bagian nduwur/bagian atas (penutup
Kepala) : iket atau blangkon, Udheng
2)
Bagian tengah : Rasukan utawa kelambi
uga benik (pakaian dan juga kancing baju), Jarik lan wiron utawa wiru, Sabuk,
Epek, Timang.
3)
Bagian mburi (bagian belakang) : Curiga
atau keris dan rangka.
4)
Bagian Ngisor (bagian Bawah) : Canela
yaitu: cripu, selop atau sandal, Bebed.
Selain
itu, kebaya dan batik juga merupakan kesenian masyarakat jawa dalam bidang
pakaian adat.
d. Makanan Khas
Jawa merupakan gudangnya masakan, menurut daerah
asalnya makanan khas Jawa adalah sebagai berikut :
1)
Jepara: Pindang
Serani, Soto
Jepara, Sop
Udang, Tempong,
Madu
Mongso, Adon-adon Coro,
Es
Gempol (Es Pleret), Horok-Horok, Rondo Royal
(Tape
goreng), Sate Kikil, Klenyem
(ketela
parut goreng isi gula merah), Kuluban
(Urap:
Nangka
muda, Kacang Panjang
dan daun mudanya, Tauge/kecambah
mentah, buah petai cina mentah),pecel
Ikan laut panggang, Terasi
Jepara, Tempong
(blenyik) Ikan Teri, Durian
Petruk, Jeruk
Jepara, Kacang
Oven,
Kacang Jepara.
5)
Semarang: Lunpia/lumpia,
Soto
Ayam
Semarang
, sate sapi, bandeng presto,
nasi
goreng babat, ayam
goreng kraton tulang lunak, kue-kue pia,
sate kambing bumbu kecap, martabak
malabar, kue bandung, tahu petis, tahu
gimbal, wingko babat
8)
Brebes: telor
asin,
sate kambing (di Tanjung.
Brebes hingga kini dikenal sebagai sentra penghasil bawang
merah
9)
Demak:
nasi garang asem,
sambel blimbing wuluh,
kwaci
(Demak
pernah terkenal sebagai sentra penghasil semangka)
16)
Purworejo: kue lompong,
clorot
(semacam dodol yang dibungkus daun kelapa secara memilin), gebleg
(baca ge- seperti e pada kata senang dan -bleg seperti e pada kata becek), kue
satu, dawet hitam, lanthing
20)
Solo:
gudeg,
sate
kambing, thengkleng,
srabi
solo,
nasi
liwet, timlo
solo, racikan salat,
krupuk karak/gendar,
bakso popular ukuran bola golf,
tahu acar, sayur tumpang
23)
Tegal:
"teh
poci"
(teh yang diseduh dalam poci
tanah
liat
kecil dan diminum dengan gula batu), sate
tegal (sate kambing muda khas Tegal), sate bebek majir,
pilus, krupuk antor,
nasi
bogana (nasi megono), Sauto
(soto ayam/babat khas Tegal dengan bumbu tauco). Tegal hingga saat ini dikenal
sebagai sentra penghasil teh.
25)
Wonosobo: mie ongklok,
sagon,
tempe
kemul, geblek, wedang ronde,
manisan
carica, keripik jamur,
dendeng
gepuk
3)
Madiun dikenal akan nasi
pecel madiun dan sebagai
penghasil brem. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya.
4) Malang dikenal sebagai
penghasil keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga merupakan kuliner
khas daerah ini.
6) Gresik terkenal dengan nasi krawu, otak-otak
bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya.
8) Banyuwangi terkenal dengan sego
tempong dan makanan khas campurannya yaitu rujak soto dan pecel
rawon.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Kebudayaan
Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang
sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Terbukti dari
sistem religi, organisasi dan kemasyarakatan, bahasa, kesenian dan lain
sebagainya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami
kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa.
Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang
amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai
kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup
apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi
diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak
menyurutkan usaha kami untuk menyediakanberbagai pengetahuan seputar kebudayaan
Jawa
3.2 Saran
Dengan dibahasnya kebudayaan Jawa seperti yang telah dijelaskan
diatas, maka saran dari penulis adalah
1. kita sebagai mahasiswa hendaknya lebih bisa menjaga
dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia.
2. Kita sebagai mahasiswa yang nantinya terjun
kemasyarakat sebagai pendidik hendaknya lebih peka terhadap budaya setempat
terutama budaya Jawa.
3. Hendaknya kita lebih cermat mem-filter atau menyaring budaya-budaya asing yang masuk agar
kebudayaan Jawa tertap terjaga keaslianya.
3.1
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2002. Manusia dan
Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan
Anjjateng. 2007. Seni Budaya Jawa Tengah.
Fuadi, Ainul. 2007. Budaya Nusantara Kebudayaan Jawa.
Bintang, Taufik. 2009. Arti Primbon.
Komentar
Posting Komentar