Makalah Kebudayaan Jawa








Makalah
Kebudayaan Jawa


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa.
Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.



1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
a.       Bagaimana sistem religi dan upacara keagamaan masyarakat Jawa?
b.      Bagaimana sistem organisasi dan kemasyarakatan masyarakat Jawa?
c.       Bagaimana sistem pengetahuan masyarakat Jawa?
d.      Apa dan bagaimana bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa?
e.       Kesenian apa yang terdapat dalam kebudayaan Jawa?
f.       Apa dan bagaimana matapencaharian mayarakat Jawa?
g.      Bagaimana sistem teknologi masyarakat Jawa?

1.3  Tujuan
Makalah yang kami susun ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Mahasiswa dapat mengetahui sistem religi dan upacara keagamaan masyarakat Jawa;
b.      Mahasiswa dapat mengetahui sistem organisasi dan kemasyarakatan masyarakat Jawa;
c.       Mahasiswa dapat mengetahui sistem pengetahuan masyarakat Jawa;
d.      Mahasiswa dapat mengetahui bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa;
e.       Mahasiswa dapat mengetahui kesenian apa saja yang ada di Jawa;
f.       Mahasiswa dapat mengetahui jenis matapencaharian masyarakat Jawa;
g.      Mahasiswa dapat mengetahui sistem teknologi masyarakat Jawa.



BAB II 
PEMBAHASAN
2.1  Sistem Religi dan Upacara Keagamaan
Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. Selain itu, terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
a.       Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya.
b.      Islam Kejawen, penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat, atau puasa, serta tidak bercita-cita naik haji, tetapi tetap percaya kepada kewajiban berzakat. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi.
Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. Selain itu, orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten, arwah atau roh leluhur, dan makhluk halus seperti misalnya memedi, lelembut, tuyul, demit, serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses, kebahagiaan, ketentraman ataupun keselamatan, namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran, kesehatan, bahkan kematian. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta, misalnya dengan berpuasa, pantang makan makanan tertentu, berselamatan, dan bersaji. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. Upacara ini dipimpin oleh modin, yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca doa keselamatan dari dalam ayat-ayat Al-Quran. Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari, yakni:



a.       Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan, kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara menyentuh tanah untuk pertama kali, upacara menusuk telinga, serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia, terutama keluarganya. Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah:
1)      Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. umumnya adalah saudara, tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini, umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan bahan panganan ( beras, telur, bahan untuk sayur, gula, kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa, yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal, saudara dekat, teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. Tidak ada acara kendhuren, jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”.
2)      Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari ketiga sesudah saat meninggalnya seseorang.
3)      Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh.
4)      Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh.
5)      Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya.
6)      Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo, masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang.
7)      Sedekah Nyewu, sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya.
b.      Selamatan yang bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi.
c.       Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam
d.      Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian, misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat).
Selain upacara selamatan, pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker) agar terhindar dari gangguan makhluk halus. Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air, kemenyan, uang recehan, dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud.
Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka, keris, gamelan,bahkan pada burung perkutut, kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa), serta kepada raksasa Batara Kala. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkungan istana (Ratawijaya) secara terbuka. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda
atau manusia, sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. Ruwatan dilakukan oleh dukun, yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. Ruwatan biasanya disertai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan, yang macamya yaitu:
1. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan, yang percaya pada adanya ruh halus, atau badan halus, serta jin dan lain-lain.
2. Aliran yang keislam-islaman, yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam, dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa.
3. Aliran kehindu-jawian, yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu
4. Aliran yang bersifat mistik, dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan.
Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”, Hidup Betul, Hendra Pusara, Hidup Betul Iman Agama Hak, dan Parda Pusara Penitisan Rohani. Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia.
2.2  Sistem Organisasi dan Kemasyarakatan
Dalam sistem kemasyarakatan orang Jawa, mereka masih membeda-bedakan antara orang Priyayi yang terdiri dari pegawai negeri dan kaum terpelajar dengan orang kebanyakan yang disebut wong cilik, seperti petani-petani, tukang-tukang, dan pekerja kasar lainya, disamping keluarga kraton dan keturunan bangsawan atau bendara-bendara.
a.       Priyayi
Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". Yang dimaksud adalah para adik raja. Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā, yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa, istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya.
Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara, ia bergelar Raden Mas, jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara, ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas, ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan, ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama.
Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an, dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat, karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang, sedangkan pengelompokkan santri - abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Dalam realita, ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan, bahkan ada pula yang non muslim.
b.      Ningrat
Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya, sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM).
c.       Wong Cilik
Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah, biasanya hidup didesa-desa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani, tukang dan pekerja kasar lainnya. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi :
1)      Wong baku
merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa, mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa, mereka memiliki sawah, rumah, serta pekarangannya.

2)      Kuli gandok atau lindung
Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin, akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri,sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya.
3)      Joko, sinoman, atau bujangan
Mereka semua belum menikah, dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan.
Sistem dan penggolongan tersebut menimbulkan hak dan kewajiban yang berbeda-beda dari keluarga-keluarga atau anggota-anggota tiap ketiga lapisan itu.
Secara administratif, suatu desa di Jawa biasanya disebut kelurahan, dan dikepalai oleh seorang lurah. Sekelompok 15 – 25 desa merupakan suatu kesatuan administratif yang disebut kecamatan dan dikepalai oleh seorang pegawai pamong praja yang disebut camat.
Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari kepala desa dengan pembantu-pembantunya yang semuanya disebut pamong desa, yang mempunyai dua tugas pokok, yaitu tugas kesejahteraan desa dan tugas kepolisian untuk memelihara ketertiban desa. Lurah dipilih oleh dan dari penduduk desa sendiri, dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi calon yang dipilih atau yang memilih. Dengan adanya peraturan daerah yang berlaku dan disahkan, misalnya daerah Yogyakarta dan sekitarnya, dalam tiap-tiap kelurahan dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan,yakni suatu badan yang merupakan wakil dari rakyat dan untuk rakyat.
Organisasi pemerintahan tersebut yang sekaligus menjadi badan pimpinan mencakup dari rakyat desa, mewajibkan lurah untuk mengangkat pembantu-pembantu. Adapun pembantu-pembantu tersebut adalah
a.       Carik, yang bertigas sebagai pembantu umum dan penulis desa
b.      Sosial, yang memelihara kesejahteraan penduduk baik rohani maupun jasmani
c.       Kemakmuran, bertugas memperbesar prosuksi pertanian
d.      Keamanan, bertanggung jawab atas ketentraman desa
e.       Kaum, mengurus pernikahan, talak dan rujuk serta kegiatan-kegiatan keagamaan, juga sosial kalau ada kematian.



Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh, oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh. Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya, para pamong desa harus sering menggerakkan masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan, memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan.
Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, banyak desa di Jawa memiliki koperasi pertanian, koperasi konsumsi, dan bank desa sejak lama.
2.3  Sistem Pengetahuan
     Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error). Dalam masyarakat jawa memiliki cara tersendiri untuk mengetahui sifat dan keadaan seseorang baik dari tanggal lahirnya, bentuk tubuhnyam maupun mimpi yang ia alami. Kesemuanya itu dapat diungkap dalam sebuah buku yang bernama Primbon. Primbon dapat dibedakan menjadi beberapa macam berdasarkan penggunaanya mulai dari mulai primbon mimpi, primbon jodoh, primbon rejeki, primbon wanita dan sebagainya. Sampai sekarang primbon masih banyak digunakan oleh masyarakat jawa dalam menghitung ramalan jodoh, perhitungan rejeki dan keselamatan dan berbagai penggunaan lain dalam kehidupan.
a.       Weton
Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa (dan karakter dari seseorang yang lahir dalam hari tertentu) dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ramalan ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan. Weton merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, Selasa, dll.) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran anda berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran anda.



1)      Jumat Legi
Konon, mereka yang lahir pada hari ini cenderung bersifat jujur. Bahkan, mereka terkadang mungkin terlalu jujur, sebab mereka adalah tipe orang yang suka mengungkapkan pikiran mereka tanpa tedeng aling-aling! Mereka cukup teguh dengan pendirian mereka, tetapi sikap seperti ini terkadang juga menghambat kemampuan mereka untuk menerima orang lain secara apa adanya. Sebaiknya kita tidak memancing amarah mereka, karena mereka dapat bertindak ekstrim bila sedang naik darah. Meskipun demikian, mereka setia dan murah hati terhadap orang-orang yang dicintainya. Simpati mereka mudah timbul sehingga tidak keberatan untuk bertindak diluar jalur mereka untuk membantu teman atau bahkan orang asing.
2)      Sabtu Pahing
Jika anda lahir pada hari Sabtu Pahing, kemungkinan anda bersifat lekas naik darah! Untungnya, secepat anda memuntahkan kemarahan anda secepat itu pula anda melupakan penyebabnya. Semoga orang lain sebaliknya mudah memaafkan anda pula! Perlu diingat, bukanlah suatu hal yang menyakitkan untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan. Akan tetapi meskipun anda memiliki semangat hidup yang tinggi yang terkadang berakibat pada kecerobohan, anda akan bersikap lebih waspada bila menyangkut materi. Anda adalah salah satu tipe yang selalu siap membantu teman yang sedang menderita.
2.4  Bahasa
     Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama, Krama Madya, Krama Inggil ( Krama Halus ). Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa.
Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek, yakni :
a.       Dialek daerah, dan
b.      Dialek sosial
Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus Nijhoff.
a.       Dialog Daerah dalam Bahasa Jawa adalah sebagai berikut :
1)      Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat :
a)      Dialek Banten
b)      Dialek Indramayu-Cirebon
c)       Dialek Tegal
d)     Dialek Banyumasan
e)      Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
2)      Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :
a)      Dialek Pekalongan
b)      Dialek Kedu
c)      Dialek Bagelen
d)     Dialek Semarang
e)      Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
f)       Dialek Blora
g)      Dialek Surakarta
h)      Dialek Yogyakarta
i)        Dialek Madiun
Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek
Surakarta dan Yogyakarta.
3)      Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :
a)      Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
b)      Dialek Surabaya
c)      Dialek Malang
d)     Dialek Jombang
e)      Dialek Tengger
f)       Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)
Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran.
b.      Dialek sosial
Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko ("kasar"), madya ("biasa"), dan krama ("halus"). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk "penghormatan" (ngajengake, honorific) dan "perendahan" (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Sebagai tambahan, terdapat bentuk bagongan dan kedhaton, yang keduanya hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan, kedhaton.
Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.
Bahasa Indonesia: "Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?"
1.      Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2.      Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3.      Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
4.      Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
5.      Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
6.      Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
7.      Krama lugu: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8.      Krama alus “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
*nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.
Dengan memakai kata-kata yang berbeda dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan. Walaupun demikian, tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya register itu. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.
Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri, yang dikembangkan dari huruf Pallava, dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab.
Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura, Sunda, Bali, Palembang, dan Sasak). Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut.




2.5  Kesenian
Masyarakat Jawa memiliki banyak kesenian, diantaranya :
a.       Seni Tari
          Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggung Jawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta.
Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
1.      Tari klasik
Seperti : Tari Bedhaya, Tari Srimpi, Tari Perthilan, Tari Golek, Tari Bondan, Tari Topeng
2.      Tari Tradisional
Selain tari-tari klasik, di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Seperti : Tari Dolalak (Purworejo), Patolan (Rembang), Kuda Kepang, Barongan, Wayang Krucil (Blora), Kuntulan dan Sintren (Pekalongan), Obeg dan Begalan (Cilacap), Lengger-Calung (Banyumas), Kuda Lumping (temanggung), Lengger (Wonosobo), Jatilan (Magelang), Tarian Jlantur ( Boyolali), Ketek Ogleng(Wonogiri)
3.      Tarian garapan Baru
Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Seperti : Tari Prawiroguno, Tari tepak-Tepak Putri, Pujangganong, Klana Sewanda, Angguk, rengkong, Buncis, Aksi Muda, Tari Gambyong, Tayuban, Aplang atau daeng.
b.      Seni Musik
Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa, diantaranya : Gamelan Jawa (Kendang, Saron, Bonang barong, Slentem, Gender, Gambang, Gong, Kempul, Kenong, Ketug, Clempung, Siter, Suling Rebab, Bedug, Keprak dan Kepyak) Jula-Juli (Jawa Timur), Bongkel (Banyumas), Calung, Kenthongan, Shalawatan Jawa.
c.       Karya Sastra
          Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi), Pare, Kediri, Jawa Timur. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
          Setelah prasasti Sukabumi, ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa:
· Sastra Jawa Kuna
· Sastra Jawa Tengahan
· Sastra Jawa Baru
· Sastra Jawa Modern
Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali, yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Selain itu, ada pula Sastra Jawa-Lombok, Sastra Jawa-Sunda, Sastra Jawa-Madura, dan Sastra Jawa-Palembang.
Dari semua sastra tradisional Nusantara, sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi RI, tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI, kesatuan yang diutamakan.


d.      Wayang
Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir.
Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagai wayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Wayang, oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian.
1. Wayang Kulit di Jawa Timur
2. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah,
3. Wayang Golek di Jawa Barat
Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".



Jenis-jenis wayang :
Selama berabad-abad, budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam, antara lain yang terbuat dari kertas, kain, kulit, kayu, dan juga Wayang Orang.Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat.
-Wayang Kulit                                                                        -Wayang Wahyu
-Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro                     -Wayang Menak
-Wayang Krucil                                                                       - Wayang Klitik
-Wayang Purwa                                                                      - Wayang Suluh
-Wayang Beber                                                                       - Wayang Papak
-Wayang Orang                                                                       - Wayang Madya
-Wayang Gedog                                                                      - Wayanng Parwa
-Wayang Sasak                                                                       - Wayang Sadat
-Wayang Calonarang                                                              - Wayang Kancil
e.       Ketoprak dan Ludruk
          Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagimelainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
          Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc).
Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera", seorang jagoan Madura. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik.
f.       Kidung/Puisi
          Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. Berikut ini contohnya :

Sangtabyana ta pakulun
rancana cipta kumawi
Panji prakasa tembange
Ki Subrataka kang winuwus
luputa ring lara roga
nirmala waluya jati
luputta ring pamurung
luputta ring baya pati
Arti :
Bahagialah tuanku
kisah cubaan akan dinyanyikan
dengan lagu panji prakasa
Ki Subrata yang dikisahkan
moga-moga terluput dari malapetaka
nirmala dan sihat wal!afiat
luput dari halangan
luput dari bahaya maut.





g.      Lagu Adat Jawa
          Macapat Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali, madura dan Sunda. Jika dilihat dari ”kerata basa”, macapat artinya
”maca papat-papat”. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit, dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Tetapi itu juga belum pasti, karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru. Jika dibandingkan dengna kakawin, aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru, seperti wedathama, Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Kalathida, dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. Aturan – aturan itu ada pada :
· Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait.
· Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra.
· Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris.
Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
1.      Sekar Macapat atau Sekar Alit
Macapat ini juga disebut sebagai macapat asli, yang umumnya sering dipakai dimana-mana. Ada 11 sekar macapat, yakni mijil, sinom, dhandhanggula, Kinanthi, asmarandhana, durma, pangkur, maskumambang, pocung, gambuh, dan megatruh.
2.      Sekar Madya atau Sekar Tengahan
Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang dipakai pada zaman Majapait yakni Jurudemung, wirangrong, balabak.
3.      Sekar Ageng
Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa. Jika dilihat dari kesusahannya, sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu.
Selain macapat, adapula lagu-lagu lainya yaitu Andhe-andhe lumut, yen ing tawang ana lintang, cublak-cublak suweng, lir-ilir, suwe ora jamu.




2.6  Mata Pencaharian
Masyaratak Jawa mayoritas mata pencaharianya adalah di sektor pertanian (42,34%), diikuti dengan perdagangan (20,91%),  industri (15,71%), dan jasa (10,98%).Selain sumber kehidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian,pertukangan,dan perdagangan,bertani adalah juga  merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desa-desa. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian itu, di antara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk di buat kebun kering (tegalan), terutama mereka  yang hidup di daerah pegunungan , sedangkan yang lain, yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang berdataran rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut guna di jadikan sawah. Biasanya di samping tanaman padi, beberapa jenis tanaman palawija juga di tumbuhkan baik sebagai tanaman utama di tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau di mana air sangat kurang untuk pengairan sawah-sawah itu,seperti ketela pohon, jagung, ketela rambat, kedelai, kacang tanah, kacang tunggak,gude, dan lain-lain.
Pada mulanya tanah sawah di garap dan di olah oleh satu orang atau lebih dan tanah itu ada yang dibuat bertingkat-tingakat atau datar saja drngan di brti pematang sebagai penahan air. Sebelum ditanami, tanah-tanah itu di olah terlebih dahulu. Pada mula-mulanya tanah di garap dengan bajak (luku). Gunanya adalah untuk membalik tanah sehingga dapat lebih mudah ditugali, yaitu pekerjaan menghancurkan tanah dengan cangkul. Setelah kedua proses penggarapan ini selesai, tanah di diamkan selama satu minggu,kemudian baru diolah dengan garu. Maksudnya agar supaya tanah menjadi lunak dan lumat. Dalam hal ini seluruhnya dibantu oleh pengairan. Setelah selesai di garu, lalu diberi pupuk, ialah pupuk hijau dan juga pupuk kandang. Pupuk hijau terdiri dari daun-daun pohon karang karang kitri. Sedangkan pupuk kandang adalah kotoran hewan sapi, kerbau, kuda, atau kambing yang berasal dari kandang. Sesudah diberi pupuk tanah sawah dibiarkan lagi juga selama satu minggu sambil digenangi air. Sebagai usaha pengolahannya yang terakhir, sawah sekali lagi dibajak supaya dengan demikian semua lapisan digenangi air dan terkena pupuk, kemudian sekali lagi digaru, akhirnya barulah tanah sawah tersebut siap untuk di Tanami padi.
Sebelumnya ditumbuhkan di sawah, bibit padi terlebih dahulu disebarkan dan disemaikan dalam persemaian padi (pawinihan). Untuk itu butir-butir padi yang akan dijadikan benih dipilih terlebih dahulu. Butir-butir yang dipilih ialah yang masih dalam keadaan tumbuh atau melekat pada batangnya. Pekerjaan memilih butir-butir padi bakal bakal bibit ini oleh kalangan masyarakat di desa ini disebut nglinggori. Kemudian batang-batang padi yang berisi butir-butir padi itu dipotong, dengan diperhatikan supaya butir-butir yang dipotong adalah sedang; artinya tidak terlalu muda atau tidak terlalu tua. Potongan-potongan batang padi tadi  lalu diikat dalam beberapa ikatan(untingan). Untingan-untingan ini lalu dijemur selama satu hari kemudian butir-butirnya ditanggali da dimasukan ke dalam bakul besar yang disebut tenggok. Bakul atau tempat penyimpanan bibit padi tersebut terus direndam air satu hari satu malam dan setelah itu di pep, yaitu ditutup dengan daun pisang sampai dua atau tiga hari. Selanjutnya kalau sudah tumbuh akar-akarnya, maka bibit padi telah dapat disebarkan di persemaian. Lamanya benih padi di dalam persemaian ini sampai bisa dipindah  ke sawah , adalah antara 15-30 hari. Pekerjaan pemindahan tunas batang padi di sini dinamakan nguriti atau ndaut.
Selama dalam pertumbuhannya, tanaman padi yang masih muda itu dipelihara serta dijaga supaya tidak ada tumbuhan-tumbuhan liar merusaknya. Untuk ini dilakukan pekerjaan mematun dengan memakai alat yang disebut gosrok. Akhirnya sesudah padi masak lalu dituai dengan ani-ani untuk disimpan di dalam lumbung, yang telah 40 hari baru boleh ditumbuk.
Sebagian besar dari penduduk di daerah ini juga menanam tumbuh-tumbuhan palawija di samping padi. Adapun jenis-jenisnya terutama adalah kedelai dan kacang brol. Kedua jenis  tanaman palawija itu ditanam pada saat menjelang datangnya musim kemarau. Karena kedua macam tumbuh-tumbuhan ini tidak memerlukan banyak air kecuali pada waktu permulaan tumbuhnya, maka petani membuat lubang-lubang untuk mengalirkan air keluar dari sawah pada tepid an sudut-sudut pematangannya.
Telah disebut di atas, bahwa pada saat-saat permulaan pertumbuhan kedua jenis palawija tersebut, dibutuhkan banyak air. Demikian sebelum bersemi, tanah bawah digenangi air  kira-kira satu minggu dan ini disebut ngelebi. Adapun alat untuk membenamkan biji kedelai dan kacang brol itu ialah panja, yaitu sebatang kayu yang diruncingkan ujungnya serta panjangnya hampir dua meter. Sesudah tanaman-tanaman tersebut tumbuh dan mencapai usia kira-kira 15 hari, lalu di danger, yaitu suatu pekerjaan meninggikan tanah di tepian bawah batang  tanaman yang sedang tumbuh dengan gatul. Setelah selesai dilakukan perawatan  selama dua bulan atau lebih sedikit maka buahnya dapat dipetik.



Banyaknya produksi tiap-tiap jenis tumbuh-tumbuhan bahan pangan itu dalam setiap luas sawah tertentu misalnya, satu lubang, satu patok, atau satu ru itu tergantung pada kelas sawahnya. Satuan ukuran luas sawah, sawah satu ru ini sama dengan panjang 14 meter serta lebar 1 meter. Biasanya ada tiga macam kelas sawah, yaitu sawah kelas I, sawah kelas II dan sawah kelas III. Penilaiannya didasarkan kepada letak sawah, umpamanya terletak di dekat sumber-sumber air, yang dapat memberi tenaga pengairan secara kontinu dan baik, atau didasarkan atas kualitas tanah dari sawah-sawah itu sendiri. Tanah yang kurang baik tetapi dengan pemakaian pupuk kimia serta irigasi yang teratur dapat memberi pertambahan hasil tiap-tiap jenis tanaman itu, akan dikelaskan tinggi.
Sawah-sawah milik sendiri adalah sawah sanggan dan sawah yasan. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan, ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun, atau secara adol ceplik, ialah menjual lepas sawahnya.
Banyak orang di desa itu tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas, bahkan banyak juga yang tidak mempunyainya sama sekali. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani, menyewa tanah, bagi hasil, atau menggadai tanah.
Buruh tani melakukan pekerjaan seperti mencangkul, mematun membajak, menggaru, dan menuai pada sawah-sawah milik orang di desa., maka jumlah atau besar upahnya ditentukan menurut berapa klali ia bekerja angkatan, ialah ukuran waktu kerja yang sama dengan 4 jam lamanya. Satu hari dibagi 3 angkatan, yaitu angkatan pertama dimulai dari jam 6.00 sampai jam 10.00 pagi, angkatan kedua dari jam 10.00 pagi sampai jam 14.00 siang, dan angkatan ketiga dimulai dari jam 14.00 siang hingga jam 18.00 sore.
Adapun orang yang menyewa tanah, karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan, misalnya untuk satu masa panen, yang disebut adol oyodan.
Apabila orang yang tak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil, artinya memperoleh separo bagian hasil panennya, maka system itu disebut maro. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja, system itu disebut mertelu. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaan tingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. Terutama untuk hasil tanaman palawija kacang brol, si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima 1/5 bagian dari seluruh hasil panenan sawah –sawahnya.



Akrhirnya jika orang hendak menggadai tanah, maka ada yang disebut adol sende, artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain, dimana ia mendapat tanah pertanian sebagai barabg gadaian untuk diolah. Kemudian bila mana si peminjam uang  dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembalikan uang pinjamanya pada suatu waktu, maka tanah pertanian tdai diserahkan kembali kepadanya. Walaupun demikian orang yang menggadaikan tanah itu sudah dapat memungut hasil pertanianya setidak-tidaknya satu kali masa panen, sebagai bunganya. Hubungan transaksi semacam ini umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengan disaksikan oleh seorang pamong desa.
Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut, ada pula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanan tempe, mencetak batu merah, mbotok atau membuat minyak goreng kelapa, membatik, menganyam tikar, dan menjadi tukang-tugang kayu, batu atau tukang reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan.
2.7  Sistem Teknologi
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu: alat-alat produktif, senjata, wadah, alat-alat menyalakan api, makanan, pakaian, tempat berlindung dan perumahan, alat-alat transportasi.
a.       Rumah Adat
          Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu :
1.       Joglo (atap joglo) atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri; atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem).
2.      Limasan (atap limas), yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi, serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom, kutuk ngambang, lambang gantung, trajumas, dan lain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal
3.      Kampung (atap pelana), yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal, baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal
4.      Panggang Pe, yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda, tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya
5.      Mesjidan/Tajugan, yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi meruncing. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing, soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan sebagai tempat suci, semisal : Masjid, tempat raja bertahta, makam. Tidak ada yang untuk tempat tinggal.
Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain.
Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang
tertentu, antara lain :
- pintu gerbang : bentuk kampung
- pendopo : bentuk joglo
- pringgitan : bentuk limasan
- dalem : bentuk joglo
- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang
- dapur : bentuk kampung
- dan lain-lain.
Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu, misalnya :
- emper depan : untuk Pendopo
- ruang tengah : untuk tempat pertemuan keluarga
- emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan
- emper yang lain : untuk gudang dan dapur.
Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju, maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu, seperti : ander, dudur, brunjung, usuk peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar, pengeret, saka guru, saka penanggap, umpak, dan sebagainya.
Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa.
Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payung yang terpancang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas, bukan dinding pemikul. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas, wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Demikian pula bahan-bahan bangunannya, semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa.
Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada di udara terbuka. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring debu, peredam angin dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional.
 Dalam masyarakat Jawa, susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. Selain rumah tempat tinggal (induk), yaitu tempat untuk tidur, istirahat anggota keluarga, terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa, terletak di depan rumah tempat tinggal, digunakan untuk menerima tamu. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal, di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit, bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan, khitanan, dan sebagainya). Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa, sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa, misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan.
Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu, disamping bangunan rumah tersebut, tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya, misal: lumbung, tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. Letaknya agak berjauhan. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri), tempat memasak. Lesung, rumah tempat menumbuk padi. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. Kandang, untuk tempat binatang ternak (sapi, kerbau, kuda, kambing, angsa, itik,ayam dan
sebagainya). Untuk ternak besar disebut kandang, untuk ternak unggas, ada sarong (ayam), kombong (itik, angsa); untuk kuda disebut gedhongan. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa, namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa.
Kadang-kadang terdapat peranginan, ialah bangunan rumah kecil, biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa. Peranginan ini bagi pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag, dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang, berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur, rumah belakang, sumur dan pendhapa. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang, pringgitan, pendapa, gadhok (tempat para pelayan), lumbung, kandhang, gedhogan, dapur, pringgitan, topengan, serambi, bangsal, dan sebagainya. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat.
b.      Keris
          Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa yang  menjadi lambang utama seorang laki-laki selain turangga, wisma, wanita dan kukila. Keris mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa, atau lakilaki Jawa itu harus tangguh, sanggup melindungi diri sendiri, keluarga dan membela Negara. Keris, atau pisau belati, adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa. Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris, keris Jawa sudah mempunyai wujud yang sempurna saat kerajaan majapahit. Pada zaman dahulu, keris menjadi lambang kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa, apalagi jika yang memberikannya adalah raja. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno, bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13).  
Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang, pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. Di zaman dulu selain menjadi senjata, keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial, jenjang pangkat serta sebagai hadiah, selain itu, dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib)
c.       Pakaian Adat
          Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan, rasukan mesiran, rasukan basahan dan rasukan gedhog. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa.
          Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
1)    Bagian nduwur/bagian atas (penutup Kepala) : iket atau blangkon, Udheng
2)    Bagian tengah : Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju), Jarik lan wiron utawa wiru, Sabuk, Epek, Timang.
3)    Bagian mburi (bagian belakang) : Curiga atau keris dan rangka.
4)    Bagian Ngisor (bagian Bawah) : Canela yaitu: cripu, selop atau sandal, Bebed.
Selain itu, kebaya dan batik juga merupakan kesenian masyarakat jawa dalam bidang pakaian adat.
d.      Makanan Khas
Jawa merupakan gudangnya masakan, menurut daerah asalnya makanan khas Jawa adalah sebagai berikut :
1)       Jepara: Pindang Serani, Soto Jepara, Sop Udang, Tempong, Madu Mongso, Adon-adon Coro, Es Gempol (Es Pleret), Horok-Horok, Rondo Royal (Tape goreng), Sate Kikil, Klenyem (ketela parut goreng isi gula merah), Kuluban (Urap: Nangka muda, Kacang Panjang dan daun mudanya, Tauge/kecambah mentah, buah petai cina mentah),pecel Ikan laut panggang, Terasi Jepara, Tempong (blenyik) Ikan Teri, Durian Petruk, Jeruk Jepara, Kacang Oven, Kacang Jepara.
2)       Kudus: Soto Ayam Kudus, sate Kerbau, Lentog, dodol, Jenang Kudus.
4)       Banjarnegara: dawet ayu, buntil
5)       Semarang: Lunpia/lumpia, Soto Ayam Semarang , sate sapi, bandeng presto, nasi goreng babat, ayam goreng kraton tulang lunak, kue-kue pia, sate kambing bumbu kecap, martabak malabar, kue bandung, tahu petis, tahu gimbal, wingko babat
6)       Boyolali: marning (jagung goreng), paru goreng, Brem cap suling gading, krupuk rambak
7)       Blora: Sega Pecel, sate ayam blora, soto ayam blora, tahu campur
8)       Brebes: telor asin, sate kambing (di Tanjung. Brebes hingga kini dikenal sebagai sentra penghasil bawang merah
9)       Demak: nasi garang asem, sambel blimbing wuluh, kwaci (Demak pernah terkenal sebagai sentra penghasil semangka)
10)   Klaten: ayam goreng kalasan, bebek goreng, emping mlinjo
11)   Pati: nasi gandul, sate ayam,
12)   Pekalongan: nasi gandul, soto tauco (tauto), nasi megono
15)   Cilacap: ikan bandeng, kerupuk tengiri, sale pisang, ikan asin/gesek
16)   Purworejo: kue lompong, clorot (semacam dodol yang dibungkus daun kelapa secara memilin), gebleg (baca ge- seperti e pada kata senang dan -bleg seperti e pada kata becek), kue satu, dawet hitam, lanthing
17)   Purbalingga: rujak kangkung, tahu gecot, soto kriyik, es duren, klanting
19)   Salatiga: bakso urat, bakso babat, kripik paru, ting-ting gepuk
20)   Solo: gudeg, sate kambing, thengkleng, srabi solo, nasi liwet, timlo solo, racikan salat, krupuk karak/gendar, bakso popular ukuran bola golf, tahu acar, sayur tumpang
21)   Sragen: nasi garang asem, sate sragen, brambang asem
22)   Sukoharjo: welut goreng
23)   Tegal: "teh poci" (teh yang diseduh dalam poci tanah liat kecil dan diminum dengan gula batu), sate tegal (sate kambing muda khas Tegal), sate bebek majir, pilus, krupuk antor, nasi bogana (nasi megono), Sauto (soto ayam/babat khas Tegal dengan bumbu tauco). Tegal hingga saat ini dikenal sebagai sentra penghasil teh.
24)   Wonogiri: gaplek, tiwul, cabuk
25)   Wonosobo: mie ongklok, sagon, tempe kemul, geblek, wedang ronde, manisan carica, keripik jamur, dendeng gepuk
26)   Ungaran: tahu bakso, sate kempleng, krupuk bakar

Makanan khas Jawa Timur di antaranya adalah rawon dan rujak petis.
1)      Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong kupang.
2)      Kediri terkenal akan tahu takwa,tahu pong, dan getuk pisang.
3)      Madiun dikenal akan nasi pecel madiun dan sebagai penghasil brem. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya. 
4)      Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga merupakan kuliner khas daerah ini.
5)      Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. 
6)      Gresik terkenal dengan nasi krawu, otak-otak bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya.
7)      Trenggalek merupakan penghasil Tempe Kripik. Blitar memiliki makanan khas nasi pecel.
8)      Banyuwangi terkenal dengan sego tempong dan makanan khas campurannya yaitu rujak soto dan pecel rawon.



BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
 Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Terbukti dari sistem religi, organisasi dan kemasyarakatan, bahasa, kesenian dan lain sebagainya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakanberbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa
3.2  Saran
Dengan dibahasnya kebudayaan Jawa seperti yang telah dijelaskan diatas, maka saran dari penulis adalah
1.      kita sebagai mahasiswa hendaknya lebih bisa menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia.
2.      Kita sebagai mahasiswa yang nantinya terjun kemasyarakat sebagai pendidik hendaknya lebih peka terhadap budaya setempat terutama budaya Jawa.
3.      Hendaknya kita lebih cermat mem-filter atau menyaring budaya-budaya asing yang masuk agar kebudayaan Jawa tertap terjaga keaslianya.


3.1   
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan
Anjjateng. 2007. Seni Budaya Jawa Tengah. 
Fuadi, Ainul. 2007. Budaya Nusantara Kebudayaan Jawa.
Bintang, Taufik. 2009. Arti Primbon.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TEORI STRUKTURALISME

Makalah Kebudayaan Sulawesi

Makalah Kebudayaan Sunda