Analisis Kebudayaan Post-Modernisme
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia selalu mengalami
perubahan-perubahan selama hidup baik secara individu maupun secara kolektif
dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Perubahan-perubahan itu dapat berupa
perubahan dalam hal nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku
organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat,
kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.
Postmodernisme lebih merupakan sebuah suasana, sebuah naluri, sebuah
kecenderungan daripada sebuah pemikiran eksplisit. Kecenderungan itu lalu
memang mendapat ekspresi melalui pelbagai sarana konseptual yang sangat berbeda
satu sama lain. Adalah jasa istilah “postmodernisme” bahwa dengan demikian kita
memperoleh sebuah konsep untuk melihat kesamaan yang umumnya justru mencolok
perbedaannya.
Dalam makalah ini penulis akan membahas postmodernisme secara lebih
gamblang. Setidaknya ada dua unsur atau elemen yang akan dibahas lebih rinci
dalam makalah ini. Pertama adalah mengenai apa sebenarnya teori kebudayaan postmodernisme
itu. Kemudian, yang kedua adalah perkembangan teori kebudayaan postmodernisme.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
dijelaskan, penulis menyusun beberapa rumusan permasalahan sebagai berikut.
1.
Bagaimana latar belakang teori
kebudayaan postmodernisme?
2.
Bagaimana konsep teori kebudayaan
postmodernisme?
3.
Bagaimana perkembangan teori kebudayaan
postmodernisme?
4.
Bagaimana keunggulan dan kelemahan
teori kebudayaan postmodernisme?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan masalah yang ada, tujuan penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1.
Mengetahui latar belakang teori
kebudayaan postmodernisme.
2.
Mengetahui konsep teori kebudayaan
postmodernisme.
3.
Mengetahui perkembangan teori
kebudayaan postmodernisme.
4.
Mengetahui keunggulan dan kelemahan
teori kebudayaan postmodernisme.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar Belakang Teori Postmodernisme
Era postmodernisme
adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran. Mereka tidak
mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat
tertentu.
Istilah postmodernisme
diketahui muncul pada tahun 1917 ketika seorang filsuf Jerman, Rudolf Pannwitz
menggunakan istilah itu untuk mengetahui adanya gejala nihilisme kebudayaan
Barat modern. Federico de Onis sekitar tahun 1930-an menggunakan sebuah
karyanya untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari modernisme. Kemudian di
bidang historiografi digunakan oleh Arnold Toynbee dalam “A Study of History”
tahun 1939, dan sekitar tahun 1970, Ilhab Hasan menerapkan istilah ini dalam
dunia seni dan arsitektur. Pada akhirnya istilah postmodernisme menjadi lebih
popular manakala digunakan oleh para seniman, pelukis, dan kritikus.
Postmodernisme muncul untuk “meluruskan” kembali interpretasi sejarah yang
dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha
keras untuk mengakui adanya identitas lain (the other) yang berada di
luar wacana hegemoni.
Postmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan
fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka
genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal,
tetapi mempunyai banyak “sentral”)
Sedangkan menurut Pauline Rosenau mengatakan bahwa, postmodernisme
menganggap modernisme telah gagal dalam beberapa hal penting. Inilah yang
melatarbelakangi munculnya teori postmodenisme antara lain sebagai berikut.
1.
Modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana
diinginkan para pedukung fanatiknya.
2.
Ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan
dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi yang
seringkali mendahului hasil penelitian.
3.
Ada semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu
modern.
4.
Ada semacam keyakinan yang sesungguhnya tidak berdasar, bahwa ilmu
pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia dan
lingkungannya. Ternyata keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan
bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai
perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
5.
Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik
eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu.
Postmodernisme
mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang berkaitan
dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan saja, tetapi juga melihat pada
hal-hal yang berada pada alur vulgar material yang selama ini
dianggap sebagai penyakit dan obyek pelecehan saja.
Postmodernisme
sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan sebuah oto-kritik dalam
filsafat Barat yang mengajak kita untuk melakukan perombakan filosofis secara
total untuk tidak lagi melihat hubungan antar paradigma maupun antar wacana
sebagai suatu “dialektika” seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme
menyangkal bahwa kemunculan suatu wacana baru pasti meniadakan wacana
sebelumnya. Sebaliknya gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat hubungan
antar wacana sebagai hubungan “dialogis” yang saling memperkuat satu sama lain.
2.2 Konsep Teori Postmodernisme
Postmodernisme secara
umum dikenal sebagai antitesis dari modernisme. Sementara itu modernisme
itu sendiri diartikan oleh Lyotard sebagai proyek intelektual dalam sejarah dan
kebudayaan Barat yang mencari kesatuan di bawah bimbingan suatu ide pokok yang
terarah kepada kemajuan dimana masa pencerahan pada abad ke-18 menandai proyek
besar ini.
Sebagai gerakan
pemikiran, postmodernisme ‘berhasil’ memberikan opini, apresiasi dan kritik
yang tajam terhadap wacana modernitas dan kapitalisme (global) mutakhir. Postmodernisme
memberikan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat
modern. Kritik tersebut, tidak saja mengagetkan dunia publik intelektualitas Barat
yang sejak beberapa abad dipengaruhi oleh modernisme dalam bidang sains dan
teknologinya.
1.
Manusia
postmodernis memandang sesuatu selalu melalui sudut pandang
idealis, bukan realis. Tentu, pada tataran realita tidak mungkin akankita
dapati praksis yang sesuai dengan teori yang berasas tersebut. Jika setiap
orang tetap akan memaksakan pengaplikasian di alam realita, niscaya kehancuran
yang bakal terwujud, bukan perdamaian.
2.
Jika dilihat dari sisi
epistemologis, skala berpikir yang disodorkan oleh teoripostmodernis sangatlah
dangkal. Banyakparadoksi yang akan kita dapati dari teoritersebut, jika
dipaksakan pada dataranpraksis akan terjadi apa yang disebut dengan“nihilisme”,
kekosongan. Kosong dari prinsip,ideologi, argumentasi rasional, logika
sehat,pemahaman teks, konsep beragama dan sebagainya.
3.
Menurut
keyakinan postmodernisme, tidak ada satu hal pun yang bersifat
universal dan permanen. Sedang disisi lain, doktrin mereka manusia selalu
dituntut untuk selalu mengadakan pergolakan. Lantas, bagaimana mungkin manusia akan
selalu mengadakan pergolakan, sementara tidak ada tolok ukur jelas dalam
penentuan kebenaran akan pergolakan? Bagaimana mungkin manusia selalu
mengkritisi segala argumentasi yang muncul, sedang tidak ada tolok ukur kebenaran
berpikir?
4.
Postmodernisme
tidak memiliki asas-asas yang jelas (universal dan
permanen). Bagaimana mungkin akal sehat manusia dapat menerima
sesuatu yang tidak jelas asas dan landasannya? Jika jawaban mereka positif, jelas
sekali, hal itu bertentangan denganstatemen mereka sendiri. Sebagaimana postmodernis selalu
menekankan untuk mengingkari bahkan menentang hal-hal yang bersifat
universal dan permanen.
Ada beberapa pendapat yang
dikemukakan oleh para ahli mengenai teori postmodernisme, diantaranya sebagai
berikut.
1.
Menurut
Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodernisme secara gamblang dalam istilah yang
berlawanan antara lain sebagai berikut.
a.
Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya
memenuhi janji-janjinya. Postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan
dengan modernitas, yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah
industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam
jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier,
jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi,
humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur
netral, peraturan impersonal dan rasionalitas
b.
Teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan
pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya. Seperti
Baudrillard (1990:72) yang memahami gerakan atau impulsi yang besar, dengan
kekuatan positif, efektif dan atraktif mereka (modernis) telah sirna.
Postmodernis biasanya mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat terbatas
atau sama sekali tidak ada penjelasan.
c.
Pemikir postmodern cenderung menyerukan fenomena besar pramodern seperti
emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan,
kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan,
dan pengalaman mistik. Seperti yang terlihat, dalam hal ini Jean Baudrillard
(1988) benar, terutama pemikirannya tentang pertukaran simbolis (symbolic
exchange).
d.
Teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan
batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan,
fiksi dan teori, imajinasi, dan realitas. Kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung
mengembangkan satu atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain
mungkin melakukan hal yang sama. Contohnya Baudrillard (1988) menguraikan teori
sosial dalam bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya.
e.
Banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan
bernalar (Nuyen, 1992:6). Tujuan pengarang postmodern seringkali mengejutkan
pembaca dengan tujuan membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan
argumentatif. Hal itu juga cenderung lebih literal daripada gaya akademis.
2.
Antoni Giddens mendefinisikan postmodernisme adalah sebuah estetika, sastra, politik atau
filsafat sosial, yang merupakan dasar dari upaya untuk menggambarkan suatu
kondisi, atau sesuatu yang berkaitan dengan perubahan pada lembaga-lembaga dan
kondisi-kondisi sebagai postmodernitas. Postmodernisme adalah "fenomena
budaya dan intelektual".
3.
Josh McDowell & Bob Hostetler mendefinisi postmodernisme: "Suatu pandangan dunia yang ditandai
dengan keyakinan bahwa tidak ada kebenaran dalam pengertian objektif tetapi
diciptakan bukan ditemukan." Kebenaran adalah "yang diciptakan oleh
budaya spesifik dan hanya ada di budaya"
4.
Menurut Marvin Harris, postmodernisme
merupakan gerakan intelektual yang sedikit bertentangan dengan modernisme.
Istilah ini lebih menitikberatkan pemahaman budaya dalam konteks khusus.
Postmodernisme juga tidak memiliki paradigma penelitian yang lebih istimewa.
5.
Michael Foucault postmodernisme
akan menghubungkan antara ilmu dan alasan. IImu akan mencari “best answer”.
Namun, jawaban yang hadir dalam pandangan postmodernisme akan menolak generalisasi.
Kebenaran, lebih mengandalkan pada kemampuan fiksi persuasif, relativitas,
lokal, plural, tak menentu, dan penafsiran.
6.
Menurut Habermas, postmodernisme itu sebagai langkah “counter culture”, artinya kebudayaan elit atau kebudayaan massa pada
masa modernisme justru dihancurkan.
2.2 Perkembangan Teori Kebudayaan Postmodernisme
Semenjak
awal paruh kedua abad ke-20 M, tepatnya pada kisaran tahun 1960-an,
postmodernisme telah muncul sebagai diskursus kebudayaan yang banyak menarik
perhatian. Berbagai bidang kehidupan dan disiplin ilmu seperti: seni,
arsitektur, sastra, sosiologi, sejarah, antropologi, politik dan filsafat
hampir secara bersamaan memberikan tanggapan terhadap tema postmodernisme. Inilah
postmodernisme yang mengkritik watak modernisme lanjut yang monoton,
positivistik, rasionalistik dan teknosentris; modernisme yang yakin secara
fanatik pada kemajuan sejarah yang linear, kebenaran ilmiah yang mutlak,
kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan, serta pembakuan secara ketat
tata pengetahuan dan sistem produksi; modernisme yang kehilangan semangat
emansipasi dan terperangkap dalam sistem yang tertutup; dan modernisme yang tak
lagi peka pada perbedaan dan keunikan.
Gerakan
anti-modernisme, yang dipelopori oleh John Cage, Robert Rauschenberg, Merce
Cunningham, ini adalah gerakan yang mencoba membangun kesadaran untuk keluar
dari ketidakbebasan dan kuasa rasionalitas seni modern.
Dalam
konteks Postmodernisme sebagai metode analisis kebudayaan prinsip dan pemikiran
postmodernisme digunakan sebagai sarana untuk membaca realitas sosial budaya
masyarakat kontemporer (misalnya Rortry dan Baudrillard).
Sedangkan
menurut Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tak lain adalah
konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya
Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism (1989), Jameson
meyakinkan resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah
menyempurnakan dirinya, yakni kapitalisme yang telah berubah watak karena telah
banyak belajar dari berbagai kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser
dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi. Kapitalisme demi
kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat
pekerja, kelangsungan hidup lingkungan, dan daya kreatif/kritis konsumen.
Kapitalisme
yang mengintegrasikan banyak unsur sosialisme ke dalam dirinya. Kapitalisme
yang bekerja dengan prinsip desentralisasi dan deregulasi karena sistem
terpusat tak sigap menghadapi perubahan cepat. Kapitalisme yang tidak
menawarkan keseragaman gaya/citra kultural karena pasar dan tenaga kerja telah
mengalami diversifikasi begitu jauh. Perkembangan kapitalisme yang tampil
dengan kehadiran perusahaan multinasional, jaringan informasi global dan
teknologi telekomunikasi, maka whole new type of society pun lahir.
Kebudayaan
postmodern ditandai oleh beberapa prinsip yakni: lahirnya masyarakat komputerisasi,
runtuhnya narasi-narasi besar modernisme, lahirnya prinsip delegitimasi,
disensus, serta paralogi.
Masyarakat
komputerisasi adalah sebutan yang diberikan Lyotard untuk menunjuk gejala
post-industrial masyarakat Barat menuju the information technology era.
Realitas sosial budaya masyarakat dewasa ini seperti yang ditelitinya secara
seksama di Quebec Kanada adalah masyarakat yang hidup dengan ditopang oleh
sarana teknologi informasi, terutama komputer. Dengan komputerisasi,
prinsip-prinsip produksi, konsumsi dan transformasi mengalami revolusi radikal.
Penggunaan tenaga manusia yang semakin terbatas dalam sektor ekonomi, pelipatan
ruang dalam dunia telekomunikasi, percepatan pengolahan data dan informasi yang
mampu mengubah bahkan memanipulasi realitas, penyebaran pengetahuan dan
kekuasaan secara massif, adalah beberapa konsekuensi perkembangan teknologi.
Dalam
masyarakat komputerisasi seperti ini, nilai-nilai serta asumsi dasar
modernisme: rasio, hukum sejarah linear, subjek, ego, narasi besar, otonomi, identitas
tidak lagi mampu menggambarkan realitas. Bahkan, realitas telah berubah sesuai
dengan perubahan karakter masyarakat postmodernisme. Realitas masyarakat
seperti inilah yang menjadi wadah, arena perjuangan, nilai-nilai baru
postmodernisme.
Dengan titik
perhatian yang berbeda namun sampai pada kesimpulan yang sama, Michel Foucault,
seorang filsuf poststrukturalis Perancis, mencatat beberapa karakter khas kebudayaan
postmodern. Bermula dari pendapat Kant, Foucault bersepakat bahwa Era
Pencerahan adalah saat dimana rasio mendapatkan tempat istimewa dalam sejarah
perkembangan kebudayaan.
Tema-tema
seperti rumah sakit, penjara, barak-barak tentara, sekolah, pabrik, pasien,
seks, orang gila dan para kriminal menjadi titik perhatian utama selama karir
kefilsafatannya. Dengan upaya ini, Foucault memberikan dua sumbangan besar
terhadap postmodernisme.
1.
Pertama, keberhasilannya
menyingkap mitos-mitos modernisme yang menampilkan dirinya sebagai kebenaran
absolut, yang universal, namun sebenarnya palsu.
2.
Kedua, pemihakannya terhadap
persoalan-persoalan yang selama ini ditindas oleh rasionalitas modern,
tersisih, marjinal dan dikucilkan agar lebih didengar dan diperhatikan.
Selain itu, postmodernisme menawarkan ciri-ciri yang
bertolak belakang dengan watak era pendahulunya, yakni:
1.
menekankan emosi ketimbang rasio,
2.
media ketimbang isi,
3.
tanda ketimbang makna,
4.
kemajemukan ketimbang penunggalan,
5.
kemungkinan ketimbang kepastian,
6.
permainan ketimbang keseriusan,
7.
keterbukaan ketimbang pemusatan,
8.
yang lokal ketimbang yang universal,
9.
fiksi ketimbang fakta,
10. estetika
ketimbang etika dan
11. narasi
ketimbang teori
Karakter yang sering disuarakan postmodernisme antara lain
adalah pluralisme, heterodoks, eklektisisme, keacakan, pemberontakan,
deformasi, dekreasi, disintegrasi, dekonstruksi, pemencaran, perbedaan,
diskontinuitas, dekomposisi, de-definisi, demistifikasi, delegitimasi serta
demistifikasi (Bertens, 1995: 44).
Merujuk
Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam (1992), terdapat delapan
ciri karakter sosiologis postmodernisme.
1.
Timbulnya
pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas, memudarnya kepercayaan
pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan
pluralisme-relativisme kebenaran.
2.
Meledaknya industri
media massa, sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari sistem indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada
gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit.
Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan
baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia.
3.
Munculnya radikalisme etnis
dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin
meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi
janji emansipatoris untuk membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang
lebih baik.
4.
Munculnya
kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan
romantisme dengan masa lampau.
5.
Semakin menguatnya
wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya, wilayah
pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi
menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang
(Negara Dunia Ketiga).
6.
Semakin terbukanya
peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan
pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan kata lain, era postmodernisme
telah turut mendorong proses demokratisasi.
7.
Munculnya
kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai
diskursus, nilai, keyakinan dan potret serpihan realitas, sehingga sekarang
sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya
tertentu secara eksklusif.
8.
Bahasa yang
digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi
memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat paradoks (Ahmed,
1992: 143-4).
2.4
Keunggulan dan Kelemahan Teori Postmodernisme
1.
Keunggulan Teori Postmodernisme
a.
Postmodernisme menawarkan tawaran baru
yang toleran terhadap pluralitas, pembongkaran, dan lokalitas.
b.
Postmodernisme menerima bentuk
tradisional tetapi dengan cara yang lebih berbeda, yaitu dengan cara
melebih-lebihkan.
c.
Postmodernisme membangkitkan kembali
ketertarikan dalam sejarah dan hal-hal yang bersifat tradisional . Aliran ini
tidak meniru segala sesuatu yang ada pada periode sebelumnya tetapi menggunakan
berbagai macam gaya yang ada di masa lalu dan menggabungkannya
d.
Dipandang sebagai aliran yang
tidak memiliki persinggungan dengan spiritualitas dan moralitas.
e.
Dipandang sebagai aliran yang mempunyai
bentuk tidak beraturan karena menggunakan berbagai macam gaya yang ada pada
masa lalu dan menggabungkannya
2.
Kelemahan Teori Postmodernisme
a.
Teori post modern dikritik karena kegagalannya untuk
berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern, standar yang dihindari oleh
post-modern.
b.
Menurut modernis yang
berorientasi ilmiah, adalah mustahil untuk mengetahui apakah pandangan
post-modernis itu benar atau tidak. Dalam bahasa yang lebih formal pada
akhirnya segala sesuatu yang harus dikatakan oleh post-modernis oleh para
modernis dainggap salah, yaitu idenya tidak dapat dibuktikan, khususnya denganriset empiris (Frow, 1991; Kumar, 1995)
c.
Pengetahuan yang dihasilkan oleh
post-modernis tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintifik maka
mungkin lebih baik untuk melihat teori sosial post-modern sebagai ideologi
(Kumar, 1995). Persoalannya bukan lagi apakah ide-ide itu benar atau tidak,
tetapi apakah kita percaya atau tidak. Orang-orang yang percaya kepada
seperangkat ide tak punya dasar untuk berargumen bahwa ide-ide mereka adalah
lebih baik atau lebih buruk daripada ide lainnya.
d.
Tidak dibatasi oleh norna-norma
sains, post-modrnis bebas untuk melakukan yang mereka suka, “bermain-main”
dengan berbagai macam ide. Generalisasi luas ditawarkan, sering tanpa
kualifikasi.
e.
Ide-ide post-modern seringkali
sangat kabur dan abstrak. Sehingga sulit, ika bukannya mustahil, untuk
menghubungkannya dengan dunia sosial (Calhoun, 1993). Sehubungan dengan itu,
makna-makan dari konsepnya cenderung berubah-ubah, tetapi pembaca yang tidak
mengetahui asal-usul makananya, tidak mengetahui perubahan itu dengan jelas
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Menurut Pauline Rosenau
(1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan
antara lain sebagai berikut.
1.
Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya
memenuhi janji-janjinya.
2.
Teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan
pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan
sebagainya.
3.
Pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar pramodern
seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal,
kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen
keagamaan, dan pengalaman mistik.
4.
Teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan
batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan
kehidupan, fiksi dan teori, image dan realitas.
5.
Banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan
bernalar. Tujuan
pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan mengagetkan pembaca alih-alih
membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentatif.
Kebudayaan postmodern
antara lain: pluralistis, berjalan di bawah perubahan yang konstan, kurang
dalam segi otoritas yang mengikat secara universal, melibatkan sebuah tingkatan
hierarkis, didominasi oleh media dan pesan-pesannya, kurang dalam hal kenyataan
mutlak karena segala yang ada adalah tanda-tanda, dan didominasi oleh pemirsa.
Postmodernitas berarti
pembebasan yang pasti dari kecenderungan modern khusus untuk mengatasi
ambivalensi dari mempropagandakan kejelasan tunggal akan
keseragaman. Postmodernitas adalah modernitas yang telah mengakui
ketidakmungkinan terjadinya proyek yang direncanakan semula. Postmodernitas
adalah modernitas yang berdamai dengan kemustahilannya dan memutuskan, tentang
baik dan buruknya, untuk hidup dengannya. Praktik modern berlanjut sekarang,
meskipun sama sekali tanpa objektif (ambivalensi) yang pernah memicunya.
3.2 Saran
Sebagai penutup dari uraian makalah ini, penulis memberikan sejumlah saran
yang kiranya mampu semakin mengembangkan ajaran postmodernisme ke arah positif
dalam segala segi kehidupan. Di antara saran tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Ajaran
postmodernisme merupakan ajaran yang semula dikembangkan dalam kehidupan untuk
memudahkan manusia dalam kehidupannya, namun pada perkembangannya, banyak orang
menyalahartikan konsep postmodernisme, untuk itu kepada kita sebagai calon guru
kiranya mampu menempatkan aliran postmodernisme ini pada segi positif peserta
didik kita nantinya
2.
Sebagai
calon guru, kita sepatutnya bisa memilah mana ajaran postmodernisme yang
positif dan negatif agar kelak kita tidak memberikan hal yang keliu kepada
peserta didik kita.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Akbar S. 1992. Postmodernisme:
Bahaya dan Harapan Bagi Islam. Mizan: Bandung
Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori
Sosial: Dari Teori Fungsionalisme Hingga Post-Modernisme. Yayasan Obor
Indonesia: Jakarta
Ritzer, George. 2004. Teori Sosial Postmodern.
Juxtapose bekerjasama dengan Kreasi Wacana: Yogyakarta.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer. Jakarta: Fajar Interpratama Off Set.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Fajar
Interpratama Off Set.
Komentar
Posting Komentar