Analisis Kebudayaan Post-Modernisme

BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Manusia selalu mengalami perubahan-perubahan selama hidup baik secara individu maupun secara kolektif dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Perubahan-perubahan itu dapat berupa perubahan dalam hal nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.
Postmodernisme lebih merupakan sebuah suasana, sebuah naluri, sebuah kecenderungan daripada sebuah pemikiran eksplisit. Kecenderungan itu lalu memang mendapat ekspresi melalui pelbagai sarana konseptual yang sangat berbeda satu sama lain. Adalah jasa istilah “postmodernisme” bahwa dengan demikian kita memperoleh sebuah konsep untuk melihat kesamaan yang umumnya justru mencolok perbedaannya.
Dalam makalah ini penulis akan membahas postmodernisme secara lebih gamblang. Setidaknya ada dua unsur atau elemen yang akan dibahas lebih rinci dalam makalah ini. Pertama adalah mengenai apa sebenarnya teori kebudayaan postmodernisme itu. Kemudian, yang kedua adalah perkembangan teori kebudayaan postmodernisme.

1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dijelaskan, penulis menyusun beberapa rumusan permasalahan sebagai berikut.
1.      Bagaimana latar belakang teori kebudayaan postmodernisme?
2.      Bagaimana konsep teori kebudayaan postmodernisme?
3.      Bagaimana perkembangan teori kebudayaan postmodernisme?
4.      Bagaimana keunggulan dan kelemahan teori kebudayaan postmodernisme?
1.3              Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui latar belakang teori kebudayaan postmodernisme.
2.      Mengetahui konsep teori kebudayaan postmodernisme.
3.      Mengetahui perkembangan teori kebudayaan postmodernisme.
4.      Mengetahui keunggulan dan kelemahan teori kebudayaan postmodernisme.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Latar Belakang Teori Postmodernisme
            Era postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran. Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat tertentu.
Istilah postmodernisme diketahui muncul pada tahun 1917 ketika seorang filsuf Jerman, Rudolf Pannwitz menggunakan istilah itu untuk mengetahui adanya gejala nihilisme kebudayaan Barat modern. Federico de Onis sekitar tahun 1930-an menggunakan sebuah karyanya untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari modernisme. Kemudian di bidang historiografi digunakan oleh Arnold Toynbee dalam “A Study of History” tahun 1939, dan sekitar tahun 1970, Ilhab Hasan menerapkan istilah ini dalam dunia seni dan arsitektur. Pada akhirnya istilah postmodernisme menjadi lebih popular manakala digunakan oleh para seniman, pelukis, dan kritikus.
Postmodernisme muncul untuk “meluruskan” kembali interpretasi sejarah yang dianggap otoriter. Untuk itu postmodernisme menghimbau agar kita semua berusaha keras untuk mengakui adanya identitas lain (the other) yang berada di luar wacana hegemoni.
Postmodernisme mencoba mengingatkan kita untuk tidak terjerumus pada kesalahan fatal dengan menawarkan pemahaman perkembangan kapitalisme dalam kerangka genealogi (pengakuan bahwa proses sejarah tidak pernah melalui jalur tunggal, tetapi mempunyai banyak “sentral”)
Sedangkan menurut Pauline Rosenau mengatakan bahwa, postmodernisme menganggap modernisme telah gagal dalam beberapa hal penting. Inilah yang melatarbelakangi munculnya teori postmodenisme antara lain sebagai berikut.
1.      Modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pedukung fanatiknya.
2.      Ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi yang seringkali mendahului hasil penelitian.
3.      Ada semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern.
4.      Ada semacam keyakinan yang sesungguhnya tidak berdasar, bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia dan lingkungannya. Ternyata keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
5.      Ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu.
Postmodernisme mengajak kaum kapitalis untuk tidak hanya memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan saja, tetapi juga melihat pada hal-hal yang berada pada alur vulgar material yang selama ini dianggap sebagai penyakit dan obyek pelecehan saja.
Postmodernisme sebagai suatu gerakan budaya sesungguhnya merupakan sebuah oto-kritik dalam filsafat Barat yang mengajak kita untuk melakukan perombakan filosofis secara total untuk tidak lagi melihat hubungan antar paradigma maupun antar wacana sebagai suatu “dialektika” seperti yang diajarkan Hegel. Postmodernisme menyangkal bahwa kemunculan suatu wacana baru pasti meniadakan wacana sebelumnya. Sebaliknya gerakan baru ini mengajak kita untuk melihat hubungan antar wacana sebagai hubungan “dialogis” yang saling memperkuat satu sama lain.
2.2       Konsep Teori Postmodernisme
Postmodernisme secara umum dikenal sebagai antitesis dari modernisme. Sementara itu modernisme itu sendiri diartikan oleh Lyotard sebagai proyek intelektual dalam sejarah dan kebudayaan Barat yang mencari kesatuan di bawah bimbingan suatu ide pokok yang terarah kepada kemajuan dimana masa pencerahan pada abad ke-18 menandai proyek besar ini.
Sebagai gerakan pemikiran, postmodernisme ‘berhasil’ memberikan opini, apresiasi dan kritik yang tajam terhadap wacana modernitas dan kapitalisme (global) mutakhir. Postmodernisme memberikan sejumlah evaluasi kritis dan tajam terhadap impian-impian masyarakat modern. Kritik tersebut, tidak saja mengagetkan dunia publik intelektualitas Barat yang sejak beberapa abad dipengaruhi oleh modernisme dalam bidang sains dan teknologinya.
1.      Manusia postmodernis memandang sesuatu selalu melalui sudut pandang idealis, bukan realis. Tentu, pada tataran realita tidak mungkin akankita dapati praksis yang sesuai dengan teori yang berasas tersebut. Jika setiap orang tetap akan memaksakan pengaplikasian di alam realita, niscaya kehancuran yang bakal terwujud, bukan perdamaian.
2.      Jika dilihat dari sisi epistemologis, skala berpikir yang disodorkan oleh teoripostmodernis sangatlah dangkal. Banyakparadoksi yang akan kita dapati dari teoritersebut, jika dipaksakan pada dataranpraksis akan terjadi apa yang disebut dengan“nihilisme”, kekosongan. Kosong dari prinsip,ideologi, argumentasi rasional, logika sehat,pemahaman teks, konsep beragama dan sebagainya.
3.      Menurut keyakinan postmodernisme, tidak ada satu hal pun yang bersifat universal dan permanen. Sedang disisi lain, doktrin mereka manusia selalu dituntut untuk selalu mengadakan pergolakan. Lantas, bagaimana mungkin manusia akan selalu mengadakan pergolakan, sementara tidak ada tolok ukur jelas dalam penentuan kebenaran akan pergolakan? Bagaimana mungkin manusia selalu mengkritisi segala argumentasi yang muncul, sedang tidak ada tolok ukur kebenaran berpikir?
4.      Postmodernisme tidak memiliki asas-asas yang jelas (universal dan permanen). Bagaimana mungkin akal sehat manusia dapat menerima sesuatu yang tidak jelas asas dan landasannya? Jika jawaban mereka positif, jelas sekali, hal itu bertentangan denganstatemen mereka sendiri. Sebagaimana postmodernis selalu menekankan untuk mengingkari bahkan menentang hal-hal yang bersifat universal dan permanen.
Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli mengenai teori postmodernisme, diantaranya sebagai berikut.
1.        Menurut Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodernisme secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain sebagai berikut.
a.         Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas
b.         Teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya. Seperti Baudrillard (1990:72) yang memahami gerakan atau impulsi yang besar, dengan kekuatan positif, efektif dan atraktif mereka (modernis) telah sirna. Postmodernis biasanya mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat terbatas atau sama sekali tidak ada penjelasan.
c.         Pemikir postmodern cenderung menyerukan fenomena besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik. Seperti yang terlihat, dalam hal ini Jean Baudrillard (1988) benar, terutama pemikirannya tentang pertukaran simbolis (symbolic exchange).
d.        Teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi dan teori, imajinasi, dan realitas. Kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung mengembangkan satu atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain mungkin melakukan hal yang sama. Contohnya Baudrillard (1988) menguraikan teori sosial dalam bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya.
e.         Banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar (Nuyen, 1992:6). Tujuan pengarang postmodern seringkali mengejutkan pembaca dengan tujuan membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentatif. Hal itu juga cenderung lebih literal daripada gaya akademis.
2.        Antoni Giddens mendefinisikan postmodernisme adalah sebuah estetika, sastra, politik atau filsafat sosial, yang merupakan dasar dari upaya untuk menggambarkan suatu kondisi, atau sesuatu yang berkaitan dengan perubahan pada lembaga-lembaga dan kondisi-kondisi sebagai postmodernitas. Postmodernisme adalah "fenomena budaya dan intelektual".
3.        Josh McDowell & Bob Hostetler mendefinisi postmodernisme: "Suatu pandangan dunia yang ditandai dengan keyakinan bahwa tidak ada kebenaran dalam pengertian objektif tetapi diciptakan bukan ditemukan." Kebenaran adalah "yang diciptakan oleh budaya spesifik dan hanya ada di budaya"
4.        Menurut Marvin Harris, postmodernisme merupakan gerakan intelektual yang sedikit bertentangan dengan modernisme. Istilah ini lebih menitikberatkan pemahaman budaya dalam konteks khusus. Postmodernisme juga tidak memiliki paradig­ma penelitian yang lebih istimewa.
5.        Michael Foucault postmodernisme akan menghubungkan antara ilmu dan alasan. IImu akan mencari “best answer”. Namun, jawaban yang hadir dalam pandangan postmodernisme akan menolak generalisasi. Kebenaran, lebih mengandalkan pada kemampuan fiksi persuasif, relativitas, lokal, plural, tak menentu, dan penafsiran.
6.        Menurut Habermas, postmodernisme itu sebagai langkah “counter culture”, artinya kebudayaan elit atau kebudayaan massa pada masa modernisme justru dihancurkan.
2.2       Perkembangan Teori Kebudayaan Postmodernisme
            Semenjak awal paruh kedua abad ke-20 M, tepatnya pada kisaran tahun 1960-an, postmodernisme telah muncul sebagai diskursus kebudayaan yang banyak menarik perhatian. Berbagai bidang kehidupan dan disiplin ilmu seperti: seni, arsitektur, sastra, sosiologi, sejarah, antropologi, politik dan filsafat hampir secara bersamaan memberikan tanggapan terhadap tema postmodernisme. Inilah postmodernisme yang mengkritik watak modernisme lanjut yang monoton, positivistik, rasionalistik dan teknosentris; modernisme yang yakin secara fanatik pada kemajuan sejarah yang linear, kebenaran ilmiah yang mutlak, kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan, serta pembakuan secara ketat tata pengetahuan dan sistem produksi; modernisme yang kehilangan semangat emansipasi dan terperangkap dalam sistem yang tertutup; dan modernisme yang tak lagi peka pada perbedaan dan keunikan.
Gerakan anti-modernisme, yang dipelopori oleh John Cage, Robert Rauschenberg, Merce Cunningham, ini adalah gerakan yang mencoba membangun kesadaran untuk keluar dari ketidakbebasan dan kuasa rasionalitas seni modern.
Dalam konteks Postmodernisme sebagai metode analisis kebudayaan prinsip dan pemikiran postmodernisme digunakan sebagai sarana untuk membaca realitas sosial budaya masyarakat kontemporer (misalnya Rortry dan Baudrillard).
Sedangkan menurut Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tak lain adalah konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism (1989), Jameson meyakinkan resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah menyempurnakan dirinya, yakni kapitalisme yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi. Kapitalisme demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan, dan daya kreatif/kritis konsumen.
Kapitalisme yang mengintegrasikan banyak unsur sosialisme ke dalam dirinya. Kapitalisme yang bekerja dengan prinsip desentralisasi dan deregulasi karena sistem terpusat tak sigap menghadapi perubahan cepat. Kapitalisme yang tidak menawarkan keseragaman gaya/citra kultural karena pasar dan tenaga kerja telah mengalami diversifikasi begitu jauh. Perkembangan kapitalisme yang tampil dengan kehadiran perusahaan multinasional, jaringan informasi global dan teknologi telekomunikasi, maka whole new type of society pun lahir.
Kebudayaan postmodern ditandai oleh beberapa prinsip yakni: lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar modernisme, lahirnya prinsip delegitimasi, disensus, serta paralogi.
Masyarakat komputerisasi adalah sebutan yang diberikan Lyotard untuk menunjuk gejala post-industrial masyarakat Barat menuju the information technology era. Realitas sosial budaya masyarakat dewasa ini seperti yang ditelitinya secara seksama di Quebec Kanada adalah masyarakat yang hidup dengan ditopang oleh sarana teknologi informasi, terutama komputer. Dengan komputerisasi, prinsip-prinsip produksi, konsumsi dan transformasi mengalami revolusi radikal. Penggunaan tenaga manusia yang semakin terbatas dalam sektor ekonomi, pelipatan ruang dalam dunia telekomunikasi, percepatan pengolahan data dan informasi yang mampu mengubah bahkan memanipulasi realitas, penyebaran pengetahuan dan kekuasaan secara massif, adalah beberapa konsekuensi perkembangan teknologi.
Dalam masyarakat komputerisasi seperti ini, nilai-nilai serta asumsi dasar modernisme: rasio, hukum sejarah linear, subjek, ego, narasi besar, otonomi, identitas tidak lagi mampu menggambarkan realitas. Bahkan, realitas telah berubah sesuai dengan perubahan karakter masyarakat postmodernisme. Realitas masyarakat seperti inilah yang menjadi wadah, arena perjuangan, nilai-nilai baru postmodernisme.
Dengan titik perhatian yang berbeda namun sampai pada kesimpulan yang sama, Michel Foucault, seorang filsuf poststrukturalis Perancis, mencatat beberapa karakter khas kebudayaan postmodern. Bermula dari pendapat Kant, Foucault bersepakat bahwa Era Pencerahan adalah saat dimana rasio mendapatkan tempat istimewa dalam sejarah perkembangan kebudayaan.
Tema-tema seperti rumah sakit, penjara, barak-barak tentara, sekolah, pabrik, pasien, seks, orang gila dan para kriminal menjadi titik perhatian utama selama karir kefilsafatannya. Dengan upaya ini, Foucault memberikan dua sumbangan besar terhadap postmodernisme.
1.      Pertama, keberhasilannya menyingkap mitos-mitos modernisme yang menampilkan dirinya sebagai kebenaran absolut, yang universal, namun sebenarnya palsu.
2.      Kedua, pemihakannya terhadap persoalan-persoalan yang selama ini ditindas oleh rasionalitas modern, tersisih, marjinal dan dikucilkan agar lebih didengar dan diperhatikan.
Selain itu, postmodernisme menawarkan ciri-ciri yang bertolak belakang dengan watak era pendahulunya, yakni:
1.      menekankan emosi ketimbang rasio,
2.      media ketimbang isi,
3.      tanda ketimbang makna,
4.      kemajemukan ketimbang penunggalan,
5.      kemungkinan ketimbang kepastian,
6.      permainan ketimbang keseriusan,
7.      keterbukaan ketimbang pemusatan,
8.      yang lokal ketimbang yang universal,
9.      fiksi ketimbang fakta,
10.  estetika ketimbang etika dan
11.  narasi ketimbang teori
Karakter yang sering disuarakan postmodernisme antara lain adalah pluralisme, heterodoks, eklektisisme, keacakan, pemberontakan, deformasi, dekreasi, disintegrasi, dekonstruksi, pemencaran, perbedaan, diskontinuitas, dekomposisi, de-definisi, demistifikasi, delegitimasi serta demistifikasi (Bertens, 1995: 44).
Merujuk Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam (1992), terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme.
1.      Timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas, memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran.
2.      Meledaknya industri media massa, sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari sistem indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia.
3.      Munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.
4.      Munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau.
5.      Semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya, wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga).
6.      Semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan kata lain, era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi.
7.      Munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai diskursus, nilai, keyakinan dan potret serpihan realitas, sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif.
8.      Bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat paradoks (Ahmed, 1992: 143-4).
2.4              Keunggulan dan Kelemahan Teori Postmodernisme
1.      Keunggulan Teori Postmodernisme
a.       Postmodernisme menawarkan tawaran baru yang toleran terhadap pluralitas, pembongkaran, dan lokalitas.
b.      Postmodernisme menerima bentuk tradisional tetapi dengan cara yang lebih berbeda, yaitu dengan cara melebih-lebihkan.
c.       Postmodernisme membangkitkan kembali ketertarikan dalam sejarah dan hal-hal yang bersifat tradisional . Aliran ini tidak meniru segala sesuatu yang ada pada periode sebelumnya tetapi menggunakan berbagai macam gaya yang ada di masa lalu dan menggabungkannya
d.      Dipandang sebagai aliran yang tidak memiliki persinggungan dengan spiritualitas dan moralitas.
e.       Dipandang sebagai aliran yang mempunyai bentuk tidak beraturan karena menggunakan berbagai macam gaya yang ada pada masa lalu dan menggabungkannya
2.      Kelemahan Teori Postmodernisme
a.       Teori post modern dikritik karena kegagalannya untuk berbuat sesuai dengan standar ilmiah modern, standar yang dihindari oleh post-modern.
b.      Menurut modernis yang berorientasi ilmiah, adalah mustahil untuk mengetahui apakah pandangan post-modernis itu benar atau tidak. Dalam bahasa yang lebih formal pada akhirnya segala sesuatu yang harus dikatakan oleh post-modernis oleh para modernis dainggap salah, yaitu idenya tidak dapat dibuktikan, khususnya denganriset empiris (Frow, 1991; Kumar, 1995)
c.       Pengetahuan yang dihasilkan oleh post-modernis tidak dapat dilihat sebagai suatu tubuh ide-ide saintifik maka mungkin lebih baik untuk melihat teori sosial post-modern sebagai ideologi (Kumar, 1995). Persoalannya bukan lagi apakah ide-ide itu benar atau tidak, tetapi apakah kita percaya atau tidak. Orang-orang yang percaya kepada seperangkat ide tak punya dasar untuk berargumen bahwa ide-ide mereka adalah lebih baik atau lebih buruk daripada ide lainnya.
d.      Tidak dibatasi oleh norna-norma sains, post-modrnis bebas untuk melakukan yang mereka suka, “bermain-main” dengan berbagai macam ide. Generalisasi luas ditawarkan, sering tanpa kualifikasi.
e.       Ide-ide post-modern seringkali sangat kabur dan abstrak. Sehingga sulit, ika bukannya mustahil, untuk menghubungkannya dengan dunia sosial (Calhoun, 1993). Sehubungan dengan itu, makna-makan dari konsepnya cenderung berubah-ubah, tetapi pembaca yang tidak mengetahui asal-usul makananya, tidak mengetahui perubahan itu dengan jelas


BAB III
PENUTUP

3.1       Simpulan
   Menurut Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain sebagai berikut.
1.      Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya.
2.      Teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya.
3.      Pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar pramodern seperti emosi, perasaan, intuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik.
4.      Teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi dan teori, image dan realitas.
5.       Banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar. Tujuan pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan mengagetkan pembaca alih-alih membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentatif.
Kebudayaan postmodern antara lain: pluralistis, berjalan di bawah perubahan yang konstan, kurang dalam segi otoritas yang mengikat secara universal, melibatkan sebuah tingkatan hierarkis, didominasi oleh media dan pesan-pesannya, kurang dalam hal kenyataan mutlak karena segala yang ada adalah tanda-tanda, dan didominasi oleh pemirsa.
Postmodernitas berarti pembebasan yang pasti dari kecenderungan modern khusus untuk mengatasi ambivalensi dari mempropagandakan kejelasan tunggal akan keseragaman. Postmodernitas adalah modernitas yang telah mengakui ketidakmungkinan terjadinya proyek yang direncanakan semula. Postmodernitas adalah modernitas yang berdamai dengan kemustahilannya dan memutuskan, tentang baik dan buruknya, untuk hidup dengannya. Praktik modern berlanjut sekarang, meskipun sama sekali tanpa objektif (ambivalensi) yang pernah memicunya.
3.2       Saran
Sebagai penutup dari uraian makalah ini, penulis memberikan sejumlah saran yang kiranya mampu semakin mengembangkan ajaran postmodernisme ke arah positif dalam segala segi kehidupan. Di antara saran tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Ajaran postmodernisme merupakan ajaran yang semula dikembangkan dalam kehidupan untuk memudahkan manusia dalam kehidupannya, namun pada perkembangannya, banyak orang menyalahartikan konsep postmodernisme, untuk itu kepada kita sebagai calon guru kiranya mampu menempatkan aliran postmodernisme ini pada segi positif peserta didik kita nantinya
2.      Sebagai calon guru, kita sepatutnya bisa memilah mana ajaran postmodernisme yang positif dan negatif agar kelak kita tidak memberikan hal yang keliu kepada peserta didik kita.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Akbar S. 1992. Postmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam. Mizan: Bandung
Jones, Pip. 2009. Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Teori Fungsionalisme Hingga Post-Modernisme. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta
Ritzer, George. 2004. Teori Sosial Postmodern. Juxtapose bekerjasama dengan Kreasi Wacana: Yogyakarta.
Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer. Jakarta: Fajar Interpratama Off Set.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Fajar Interpratama Off Set.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TEORI STRUKTURALISME

Makalah Kebudayaan Sulawesi

Makalah Kebudayaan Sunda