MAKALAH TEORI EVOLUSIONISME KEBUDAYAAN
TEORI
EVOLUSIONISME
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Menurut
Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di
dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat. Kebudayaan adalah penciptaan,penertiban
dan pengolahan nilai – nilai insani. Di dalam kebudayaan itu sendiri terdapat
factor – factor kebudayaan yang mendukung adanya proses penciptaan kebudayaan
manusia dan alam. Antara lain (1) interaksi manusia dan alam, (2)
Evolusi,(3)Degenerasi, (4) Habitat, (5) Biome, (6) lingkungan social, (7)
Dialektif Challenge and Response. (8) Faktor- factor krisis tenggelamnya
kebudayaan serta (9) Faham kebudayaan
dan faham ketuhanan.
Evolusi merupakan salah satu factor dari
kebudayaan. Secara spesifik, evolusi dianggap sebagai factor secara intern dari
suatu kebudayaan.
Setiap aspek di dalam kehidupan ini pasti akan mengalami perubahan entah lama ataupun cepat dalam setiap prosesnya, begitu pula dengan
kebudayaan sebagai hasil cipta manusia. Evolusi kebudayaan dapat didefinisikan
sebagai suatu perubahan atau perkembangan kebudayaan, seperti perubahan dari
bentuk sederhana menjadi kompleks (Syaifudin, 2005 :99). Perubahan menuntut adanya penyesuaian masyarakat di dalamnya. Perubahan yang
terjadi biasanya bersifat positif atau lebih bermanfaat dari hal sebelumnya.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apakah
yang dimaksud dengan evolusionisme budaya?
2. Apa
saja contoh – contoh evolusi budaya?
C. TUJUAN
1. Untuk
mengetahui hakikat dari evolusi budaya.
2. Untuk
mengidentifikasi contoh – contoh evolusi budaya yang ada.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Evolusi
Budaya
Evolusi budaya merupakan suatu
proses evolusi atau proses perubahan budaya yang terjadi hingga saat ini. Kita
dapat mengamati bagaimana fakta akan evolusi tersebut dalam banyak hal, seperti
dalam bahasa, gaya hidup hingga ke dinamika dalam system ekonomi.
Evolusi kebudayaan dapat
didefinisikan sebagai suatu perubahan atau perkembangan kebudayaan, seperti
perubahan dari bentuk sederhana menjadi kompleks (Syaifudin, 2005 :99).
Perubahan itu biasanya bersifat lambat laun.
Paradigma yang berkaitan dengan konsep evolusi tersebut
adalah evolusionisme yang berarti cara pandang yang menekankan perubahan lambat
laun menjadi lebih baik atau lebih maju dari sederhana ke kompleks.
Evolusi merupakan perubahan social budaya
secara lambat dan berubah secara perlahan – lahan. Biasanya, hal – hal yang
berubah secara perlahan seperti ini terjadi tanpa di sadari dan di rencanakan
dengan detail, atau bahkan tanpa ada perencanaan sekalipun.
Menurut
konsep evolusi secara universal mengatakan bahwa masyarakat manusia berkembang
secara lambat (berevolusi) dari tingkat – tingkat rendah dan sederhana menuju
ke tingkat yang lebih tinggi dan kompleks. Dimana kecepatan perkembangannya
atau proses evolusinya berbeda – beda setiap wilayah yang ada di muka bumi ini.
Itu sebabnya sampai saat ini masih ada juga kelompok – kelompok manusia yang
hidup dalam masyarakat yang bentuknya belum banyak berubah dari dulu hingga
saat ini kebudayaannya. Dalam teori evolusi, kemudian dibagi menjadi dua:
a.
Teori Evolusi Universal
Sebuah kebudayaan yang ada dalam sebuah komunitas masyarakat
manusia adalah dampak atau hasil hasil dari pemakaian atau penggunaan energi
dan teknologi yang mereka gunakan dalam kehidupan mereka pada fase-fase
perkembangannya. Dengan rumusan yang disebutnya sebagai “hukum” evolusi
kebudayaan ini, White sampai pada sebuah kesimpulan bahwa terjadinya sebuah
evolusi kebudayaan dalam sebuah komunitas merupakan hasil dari mengemukanya
perubahan dalam sistem yang melakukan transformasi energi dengan bantuan
teknologi yang ada saat itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam teori mengenai evolusi kebudayaan ini terdapat
beberapa konsep baru yang diketengahkan White, yaitu thermodinamika(sistem
yang melakukan transformasi energi), energi dan transformasi.
b.
Teori Evolusi Multilinier
Menurut teori multilinier, terjadinya evolusi kebudayaan
berhubungan erat dengan kondisi lingkungan, dimana setiap kebudayaan
memiliki culture core, berupa teknologi dan organisasi kerja.
Dengan demikian, terjadinya evolusi dalam sebuah kebudayaan ditentukan oleh
adanya interaksi yang terjalin antara kebudayaan tersebut dengan lingkungan
yang ada di dalamnya. Seperti halnya teori yang dikemukakan oleh White di atas,
teori multilinier juga memunculkan konsep-konsep baru yang belum pernah ada
sebelumnya, yaitu lingkungan, culture core, adaptasi dan organisasi
kerja.
2. Latar belakang lahirnya evolusi
budaya
Pada abad ke sembilan belas, dalam masyarakat Eropa
mengemuka sebuah paradigma (cara pandang) yang memandang bahwa gejala-gejala
yang timbul dari alam, masyarakat dan kebudayaan yang ada dalam komunitas
manusia dapat dilihat dan dipikirkan secara rasional. Cara pandang yang secara
tidak langsung mengkritik perilaku masyarakat Eropa Barat yang mengembalikan
segala sesuatunya ke kitab suci ini kemudian dikenal dengan teori evolusi
kebudayaan. Paradigma ini dipahami sebagai pandangan yang menyatakan bahwa ada
kepastian dalam tata tertib perkembangan yang melintasi sejarah kebudayaan
dengan kecepatan yang pelan tetapi pasti. Selanjutnya, dimulailah
pergumulan dogma-dogma agama yang telah sekian lama mengakar di tengah-tengah
masyarakat dengan cara pandang baru yang sepenuhnya berbeda dan asing bagi masyarakat
Eropa Barat saat itu.
Paradigma evolusi kebudayaan yang ingin mengganti model
dogmatis agama yang telah mendarah daging di Eropa Barat dalam memandang
kebudayaan manusia ini dikemukakan pertama kali oleh Edward Burnett Tylor
(1832-1917), seorang ahli antropologi yang berasal dari Inggris. Persinggungan
Tylor dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan dimulai ketika ia
menempuh pendidikan kesusastraan dan peradaban Yunani dan Romawi klasik.
Ketertarikan seputar kebudayaan ini membuatnya sangat menyukai ilmu arkeologi
yang memang mengambil objek kajian terhadap benda-benda peninggalan masa
lampau. Ketertarikan ini terus tumbuh subur seiring didapatnya kesempatan untuk
melakukan suatu perjalanan menyusuri Afrika dan Asia hingga membuatnya tertarik
untuk membaca naskah-naskah etnografi yang mengisahkan tentang masyarakat yang
ada di kedua benua tersebut. Setelah mendapat pengakuan sebagai seorang pakar
arkeologi, Tylor diajak serta mengikuti ekspedisi Inggris untuk mengungkap
benda-benda arkeologis peninggalan beragam suku yang ada di Meksiko.
3. Pendapat para ahli
a.
Teori Toynbee
Dalam buku yang berjudul The Turning Point Titik Balik
Peradaban karangan Fritjof Capra, menggambarkan bahwa manusia dalam budaya dan
evolusinya mengalami spiralisai peradaban. Prediksi radikal penulis kedepan
adalah evolusi budaya kita akan kemabali ke titik nol. Artinya ada re- budaya
dan peradaban. Banyak manifestasi budaya ‘lalu’ yang di adopsi oleh masyarakat
sekarang. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh seorang filosof Cina bernama I
Ching yakni: “setelah masa kehancuran datanglah titik balik. Cahaya penuh daya
yang dahulu hilang kini bersinar kembali. Segala sesuatu adalah gerak, namun
bukan oleh tenaga. Gerak itu alami, mengalir spontan. Karena itulah pergantian
menjadi mudah. Yang lama berakhir, yang baru terlahir. Keduanya berlangsung
dalam saat yang telah ditentukan, karenanya tidak ada luka yang ditimbulkan”.
Dan satu hal yang mesti kita ketahui adalah bahwa seperti apa yang pernah
dikatakan oleh Bacon yaitu tujuan ilmu adalah penguasaan dan pengendalian alam,
yang menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah dapat digunakan untuk “mengubah kita
menjadi tuan dan pemilik alam”.
b.
Proses Evolusi secara universal
menurut konsepsi tentang proses evolusi sosial universal,
semua hal tersebut harus dipandang dalam rangka masyarakat manusia yang telah
berkembang dengan lamnbat (berevolusi) dari tingkat paling rendah dan sederhan
ketingkat- tingkat yang makin lama makin tinggi dan complex. Proses evolusi ini
akan dialami oleh semua masyarakat manusia dimuka bumi, walaupun dengan
kecepatan yang berbeda- beda.
c.
Konsep Evolusi social universal H. Spencer
Semua karya Spencer berdasarkan konsepsi bahwa seluruh alam
itu, baik yang berwujud nonorganis, organis, maupun superorganis berevolusi
karena didorong oleh kekuatan mutlak yang disebutnya evolusi universal. Teori
Spencer mengenai religi adalah bahwa pada semua bangsa didunia religi itu mulai
karena manusia sadar dan takut akan maut. Serupa dengan E.B Tylor ia juga
berpendirian bahwa bentuk religi paling tua adalah penyembahan kepada roh-roh
yang merupakan personifikasi dari jiwa-jiwa orang-orang yang telah meninggal,
terutama nenek moyangnya. Bentuk religi yang tertua ini pada semua bangsa
didunia akan berevolusi kebentuk religi yang menurut spencer merupakan tingkat
evolusi yang lebih kompleks dan berdiferensiasi, yaitu penyembahan kepada
dewa-dewa, seperti dewa kejayaan, kebijaksanaan, dewa perang, dewi kecantikn,
dan sebagainya. Dewa-dewa yang menjadi pusat orientasi dan penyembahan manusia
dalam tingkat evolusi religi seperti itu mempunyai ciri- ciri yang mantap dalam
bayangan seluruh umatnya, karena tercantum dalam mitologi yang seringkali telah
berada dalam bentuk tulisan. Namun walaupun religi dari semua bangsa didunia
pad garis besar evolusi universal akan berkembang dari tingkat penyembahan roh
nenek moyang ketingkat penyembahan dewa-dewa, secara khusus tiap bangsa dapat
mengalami proses evolusi yang berbeda –beda Spencer berpendirian bahwa hokum
dalam asyarakat manusia padamulanya adalah hokum keramat, karena merupakan
aturan-aturan hidup dan bergaul, yang berasal dari para nenek moyang. Dengan
demikian kekuatan dari hukum dalam masyarakat pada zaman permulaan itu yang
terdiri dari kelompok- kelompok keluarga luas yang terdiri dari paling banyak
10 samapai 20 individu, berlandaskan kepada ketakutan warga masyarakat akan
kemarahan roh nenek moyang apabila aturan-aturan tadi dilanggar.
Pada ingkat evolusi sosial
selanjutnya timbul masyarakat industri dimana manusia menjadi bersifat lebih
individualis dan dimana kekuasaan raja dan keyakinan terhadap raja keramat
berkurang maka timbul lagi suatu sistem hukum yang baru, yng kembali
berdasarkan atas azas saling butuh membutuhkan antara warga masyarakat secara
timbal balik. Prosedur terjadinya undang-undang adalah dengan perundingan
antara wakil-wakil warga masyarakat dalam badan-badan legislative.
d. Teori evolusi keluarga J.J Bachoven
Teori ini diuraikan dalam bukunya Das Mutrech. Dengan
tahapan- tahapan sebagai berikut : Promiskuitas dimana manusia hidup serupa
sekawanan binatang berkelompok, laki- laki dan wanita berhubungan dengan bebas
dan melahirkan keturunannya tanapa adanya ikatan. Matriarchat diamana
perkawianan antara ibu dan anak laki-laki dihindari yang menimbulkan adapt
exogami. Patriarchat dimana kaum pria mengambil calon istri mereka dari
kelompok lain kedalam kelompok mereka sendiri, dengan demikian keturunan yang dilahirkan juga tetap
tinggal dalam kelompok pria.Parental dimana kedua orang tua merawat anak- anak
mereka secara bersama.
e.
Buku The Third Wave
(1981:10-11) karya Alvin Toffler mengatakan bahwa evolusi kebudayaan terjadi
dalam tiga gelombang dalam kehidupan umat manusia: pertama, adalah gelombang
yang merupakan tahap peradaban pertanian; kedua, adalah gelombang yang
merupakan tahap peradaban industry; ketiga, adalah gelombang yang merupakan
tahap peradabab informasi. Pendapat Toffler hamper menyerupai temuan L Henry
Morgan yang munculbeberapa decade sebelumnya,bahwa proses evolusi masyarakat
dan kebudayaan apapun di dunia akan atau telah mengalami 8 tahapan, dimulai
dari tahapan yang paling sederhana sampai ke tahapan yang masyarakat dan
kebudayaan yang terkompleks. Kedelapan tahapan dalam proses evolusi tersebut
adalah:
1. Zaman
Liar Tua
Di zaman ini manusia
hidup dari meramu dan mulai menemukan api.
2. Zaman
Liar Madya
Di
zaman ini,manusia sudah menemukan alat untuk menagkap hewan buruan, seperti ,
api dan mulai melakukan kegiatan mata pencaharian yang baru yaitu berburu dan
menagkap ikan.
3.
Zaman Liar Muda
Mulai
memiliki kepandaian membuat tembikar.
4.
Zaman Barbar Tua
Mulai
beternak dan bercocok tanam.
5.
Zaman Barbar Madya
Sudah
memiliki kepandaian membuat benda – benda dari logam.
6.
Zaman Barbar Muda
Mulai
mengenal tulisan.
7.
Zaman Peradaban Purba
Di
zaman ini kota – kota mulai berdiri, seperti kota Harrapa dan Mohenjo Daro
8.
Zaman Peradaban Muda
Di
zaman ini mulainya industrilisasi.
Menurut Sahlins dan Service,bahwa
masyarakat yang mengalami proses evolusi pada tingkat tinggi mempunyai ciri –
ciri:
a. Menampilkan
cara – cara yang bervariasi dan lebih efektif dalam mengeksploitasi sumber daya
suatu variasi lingkungan yang lebih lengkap.
b. Relative
lebih bebas terhadap pengaruh lingkungan,dalam arti mempunyai kemampuan yang
lebih besar untuk menyesuaikan diri terhadap pebgaruh lingkungan sekitarnya.
c. Masyarakt
cenderung mendominasi danmenggantikan tipe masyarakat yang kurang maju.
Selama
proses evolusi,aka nada beberapa hal yang terjadi:
a. Penemuan
baru atau inovasi.
b. Adaptasi,
yaitu proses penyatuan unsure budaya baru dengan budaya lama yang telah ada,
dari proses adaptasi ini akan memunculkan sikap masyarakat yaitu intrgrasi dan
disintegrasi. Integrasi terjadi bila masyarakat sepakat terhadap masuknya
unsure budaya baru pada budaya yang telah ada. Disintegrasi terjadi bila
sebagian masyarakat menolak terhadap unsure budaya baru tersebut, sehingga
masyarakat yang tidak setuju dengan adanya unsure budaya baru dalam
sistemkehidupannya akan melakukan perlawanan pada mereka yang setuju dan yang membawa
masuk unsure tersebut.
c. Asimilasi,yaitu
percampuran atau penggabungan unsure budaya baru dengan budaya lama yang
menghasilkan kebudayaan baru yang memang berbeda dengan budaya lama, dengan
meninggalkan budaya lama tersebut. Karena budaya baru lebih baik dan bermanfaat
bagi kehidupan mereka.
d. Akulturasi,
percampuran dua budaya atau lebig yang menghasilkan bentuk budaya baru tanpa
meninggalkan budaya lama.
Contoh
Peristiwa Evolusi
a. Permulaan
perkembangan manusia tersusun dari kelompok – kelompok kecil yang hidup
mengembara dari satu tempat ke tempat lain (nomaden). Dimana,mereka hanya
mengandalkan kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhab hidup mereka sehari –
harinya. Mulai dari makanan, pakaian, temapt tinggal, serta peralatan. Tapi,
alam tidak zasepenuhnya bisa bertahan,karena ada juga sumber daya yang tidak
dapat di daur ulang. Tentu hal ini, membuat manusia – manusia pada zaman itu
berpikir untuk terus memenuhi kebutuhan hidup mereka.
b. Contoh
dalam bab ekonomi, materi uang.
Diaman
pada awalnya jauh sebelum 4000-5000M manusia mulai melakukan barter, hingga
kini pun kemajuan uang masih terus berkembang. Dari yang mulai transaksi ATM
dan sekarang bisa kita temukan, mentransfer uang hanya dengan sekali “klik”
tombol ponsel.
c. Masyarakat
Papua – Irian Jaya mengalami proses perubahan social dan budaya yang dapat
dikatakan sangat lambat. Ketika di tahun 1960an, sebagian besar masyarakat
Papua Irian Jaya masih hidup dengan menggunakan teknologi batu,sedangkan
wilayah lain Indonesia, seperti pulau Jawa, temuan artefak yang berupa sisa –
sisa teknologi yang hamper sama, sudah ada beberapa tahun yang lampau. Hal ini
diketahui dengna adanya temuan artefak dan fosilmanusia purba di daerah lembah
sungai Bengawan Solo dan desa Trinil,Jawa Timur lebih kurang 800.000 – 20. 000
tahun yang lampau oleh para arkeolog dan para pakar paleoantologi. Tetapi, pada
saat ini setelah lebih kurang 46 tahun,kondisi social budaya masyarakat suku
bangsa Papua – Irian Jaya sudah banyak berubah, terkecuali di wilayah –wilayah
tertentu yang masih mempertahankan adat dan tradisi masyarakat setempat,
seperti pada masyarakat suku Dani, yang masih mempertahankan holim (koteka) sebagai busana sehari –
hari mereka.
d. Pakaian
adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat tinggal.manusia
membutuhkan pakaian untuk melindunginya. Pada zaman purba pakaina terbuat dari
bahan dedaunan,kulit binatang ataupun kulit kayu dimana pakaian tersebut
berfungsi sebagai pelindung dari cuaca.seiring perkembangannya pakaian yang
mereka pakai mulai berkembang dan mempunyai fungsilain yaitu membedakan
pemimpin dari kelompok dengan anggota kelompok. Dalam masa kerajaan,mayoritas
perempuan memakai kemben dan kebaya, baikmasyarakta biasa maupun keluarga raja
sedangkan laki – laki biasa memakai celana kolor. Setelah penjajah masuk
masyarakat mengenal kemeja,jas,dan hingga sekarang kemajuan semakin pesat.
BAB
III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Evolusi kebudayaan dapat didefinisikan
sebagai suatu perubahan atau perkembangan kebudayaan, seperti perubahan dari
bentuk sederhana menjadi kompleks (Syaifudin, 2005 :99).
Teori evolusi di bagi menjadi dua yaitu
teori evolusi universal dan teori evolusi multilinier. Menurut Sahlins dan
Service,bahwa masyarakat yang mengalami proses evolusi pada tingkat tinggi
mempunyai ciri – ciri (1) Menampilkan cara – cara yang bervariasi dan lebih
efektif dalam mengeksploitasi sumber daya suatu variasi lingkungan yang lebih
lengkap,(2) Relative lebih bebas terhadap pengaruh lingkungan,dalam arti
mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk menyesuaikan diri terhadap pebgaruh
lingkungan sekitarnya,(3)Masyarakt cenderung mendominasi danmenggantikan tipe
masyarakat yang kurang maju. Selama proses evolusi,aka nada beberapa hal yang
terjadi: Penemuan baru atau inovasi, adaptasi, asimilasi, serta akulturasi.
Contoh peristiwa evolusi dapat mencakup
dari beberapa bidang misalnya pakaian, uang serta kehidupan manusia.
B. SARAN
Evolusi merupakan suatubentuk perubahan
secara bertahap, perlahan dan berlangsung lama.kadang perubahan tersebut
terjadi tanpa kita sadari. Sebagai objeknya kita manusia harus selalu siap
dengan perubahan yang ada, tentunya perubahan kea rah yang lebih baik bagi
kehidupan. Selain siap, hendaknya kita bersikap waspada dan senantiasa menerima
perubahan sebagai hal yang positif.
Komentar
Posting Komentar