MAKALAH TEORI FUNGSIONALISME KEBUDAYAAN

TEORI FUNGSIONALISME

BAB l
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada fungsifungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa (fungsi)suatu tingkah laku tersebut terjadi. Fungsionalisme lebih menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri psikis dan social

1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang yang dibahas dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut
1        Apa yang dimaksud dengan aliran fungsionalisme?
2        Metode apa yang digunakan dalam aliran fungsionalisme?
3        Ada beberapa aliran yang terdapat pada aliran fungsionalisme?
4        Apa ciri – ciri dari aliran  fungsionalisme?
5        Siapakah tokoh-tokoh yang mempengaruhi munculnya teori fungsionalisme?
6        Apakah pengaruh teori fungsionalisme di dalam kehidupan sosial?

BAB II

PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN TEORI FUNGSIONALISME
Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, Fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.
Fungsionalisme memandang bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis. Fungsionalisme lebih menekankan pada fungsi- fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan.
Fungsionalisme juga memandang bahwa psikologi tak cukup hanya mempersoalkan apa dan mengapa terjadi sesuatu (strukturalisme) tetapi juga mengapa dan untuk apa (fungsi) suatu tingkah laku tersebut terjadi. Fungsionalisme lebih menekankan pada aksi dari gejala psikis dan jiwa seseorang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupan dan berfungsi untuk penyesuaian diri psikis dan sosial.


B. METODE DI DALAM TEORI FUNGSIONALISME
Aliran ini mempelajari fungsi dan tingkah laku atau proses mental, bukan hanya mempelajari struktural. Metode yang dipakai oleh aliran fungsionalisme dikenal sebagai metode observasi tingkah laku dan instropeksi.
1. Metode observasi tingkah laku terbagi menjadi (2) yaitu:
a.         Metode Fisiologi
Menguraikan tingkah laku dari sudut pandang anatomi dan ilmu faal. Jadi, mempelajari perilaku yang dikaitkan dengan organ-organ tubuh dan sistem sarafnya.
b.  Metode Variasi Kondisi
Tidak semua tingkah laku manusia dapat dijelaskan dengan anatomi dan fisiologi, karena manusia mempunyai sudut psikologis. Metode variasi kondisi inilah yang merupakan metode eksperimen dari aliran fungsionalisme.
2. Metode Instrospeksi
Stimulus berasal dari lingkungan secara alamiah, bisa pada banyak bagian sekaligus sehingga jiwa menunjukkan fungsinya. Metode ini terlalu bersifat  subjektif sehingga sulit di sistematikan dan sulit dikuantitatifkan.

C. ALIRAN DI DALAM TEORI FUNGGSIONALISME
Fungsionalisme mempunyai 2 (dua) aliran, namun pendiri fungsionalisme itu sendiri
adalah :

1.  William James (1842-1910)
James termasuk pendukung aliran evolusionalisme dan bersamaan John Dewey mendirikan aliran fungsionalisme. James tergolong orang yang berpikiran bebas. Yaitu bebas mengeluarkan dan mengembangkan ide atau kritik yang orisinil. Salah satu cirri jalan pikirannya adalah berusaha sedekat mungkin dengan kenyataan. Teori emosi menjelaskan tentang hubungan antara perubahan fisiologis dengan emosi, Emosi identik dengan perubahan-perubahan peredaran darah, Emosi adalah hasil dari persepsi seseorang tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh terhadap rangsang dari luar dan Membantah pernyataan bahwa emosilah yang menyebabkan perubahan pada tubuh.
2.  Aliran Fungsionalisme Chicago
Terdapat banyak tokoh Fungsionalisme di Universitas Chicago sehingga dapat dikatakan menjadi aliran tersendiri yang disebut Fungsionalisme Chicago. John Dewey (1859-1952)
Pada tahun 1886 menulis buku yang berjudul “Psychology” dan dalam bukunya ini beliau mengenalkan cara orang Amerika belajar ppsikologi yaitu melalui cara pragmatisme
Sarjana-sarjana di Amerika kurang tertarik dengan pertanyaan “Apakah jiwa itu?” tetapi lebih tertarik pada pertanyaan “Apakah kegunaan jiwa?”
John Dewey juga menganjurkan metode yang Ia sebut dengan Learning by doing (belajar sambil melakukan)
Dewey berpendapat bahwa segala pemikiran dan perbuatan harus selalu mempunyai tujuan, oleh karena alasan itulah ia menentang teori elementarisme.
b. James Rowland Angell
James memiliki tiga pandangan terhadap fungsionalisme, yaitu: Fungsionalisme adalah psikologi tentang “mental operation” (aktivitas bekerjanya jiwa) sebagai lawan dari psikologi tentang elemen-elemen mental.
Fungsionalisme adalah psikologi tentang kegunaan dasar-dasar kesadaran. Ini juga disebut sebagai teori emergensi dari kesadaran,
Fungsionalisme adalah psiko-phisik, yaiitu psikologi tentang keseluruhan organisme yang terdiri dari badan dan jiwa.
2. Aliran Fungsionalisme Columbia
Selain di Chhicago, Fungsionalisme juga mempunyai banyak tokoh di Teachers College Columbia yang disebut aliran Columbia. Ciri aliran ini adalah kebebasannya meneliti tingkah laku yang dianggap sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan psikologi tak perlu ersifat deskriptif karena yang penting adalah korelasi tingkah laku dengan tingkah laku lain.

 A. James MC Keen Cattel (1866-1944)
Keen Cattel mengusung teori mengenai kebebasan dalam mempelajari tingkah laku. Ia mempunyai dua pandangan mengenai aliran fungsionalisme, yaitu:
Fungsionalisme tidak perlu menganut paham dualisme karena manusia dianggap sebagai keseluruhan yang merupakan suatu kesatuan.
Fungsionalisme tidak perlu deskriptif dalam mempelajari tingkah laku, karena yang penting adalah fungsi tingkah laku. Sehingga yang harus dipelajari adalah hubungan (korelasi) antara satu tingkah laku dengan tingkah laku lainnya.
Dapat dikatakan bahwa semua cabang-cabang psikologi modern merupakan perkembangan dari fungsionalisme. Dalam percobaanya Cattel menemukan “kapasitas individual” kemudian ia menciptakan alat-alat untuk mengukur kapasitas, kemampuan individual yang sekaran kita kenal sebagai psikotes atau mental test.

B. Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Edward Lee pernah bekerja di “Teachers College of Columbia” dibawah kepemimpinan James Mc. Keen Cattel. Thorndike lebih menekankan penelitiannya pada cara dan dasar belajar. Dasar pembelajaran yaitu asosiasi dan cara coba-salah (trial and error). Ia merumuskan beberapa prinsip:
The Law of Effect yaitu hukum yang menyatakan intensitas hubungan antara stimulus-respons akan meningkat jika mengalami keadaan yang menyenangkan, sebaliknya akan melemah jika keadaan tak menyenangkan.jika terjadi suatu keadaan akan terjadi asosiasi dengan keadaan yang sebelumnya yaitu hubungan stimulus-respon atau respons-respons.
The Law of Exercise atau The Law of use and disuse adalah hukum bahwa stimulus-respons dapat timbul atau didorong dengan latihan berulangulang. Jika tak dilatih hubungan tersebut akan melemah dan kemudian menghilang.

D. CIRI-CIRI TEORI FUNGSIONALISME
Aliran fungsionalisme memiliki beberapa ciri khas, yaitu :
7        Menekankan pada fungsi mental dibandingkan dengan elemen-elemen metal.
8        Fungsi-fungsi psikologis adalah adaptasi terhadap lingkungan sebagaimana            adaptasi biologis Darwin. Kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan      dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang terpenting.
9        Sangat memandang penting aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri      bagi berbagai bidang dan kelompok manusia.
10    Aktivitas mental tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan      respons adalah suatu kesatuan.
11    Psikologi sangat berkaitan dengan biologi dan merupakan cabang yang       berkembang dari biologi. Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi              fisiologis akan sangat membantu pemahaman tentang fungsi mental.
12    Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental manusia,    meskipun sebagian besar riset dilakukan di Univ. Chicago ( pusat perkembangn            fungsionalisme) menggunakn metode eksperimen, pada dasarnya aliran      fungsionalisme tidk berpegang pada satu metode inti. Metode yang digunnakan     sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi.

E. TOKOH-TOKOH TEORI FUNGSIONALISME
Herbert Spencer
Herbert Spencer adalah ahli sosiologi Inggris pada pertengahan abad ke-19 yang membahas tentang fungsional struktural dengan menganalogikan struktur biologi denganstruktur sosial. Pembahasan spencer tentang masyrakat sebagai suatu organismehidup terdapat dalam butir-butir ini (Margaret M. Poloma 2007: 24) :
a.Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalamipertumbuhan.
b.Strukur tubuh-sosial (social body) maupun organisme hidup (living body) juga mengalami pertumbuhan, dimana semakin besar suatu struktur sosialmaka semakin banyak pula bagian-bagiannya seperti halnya dengansistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuhmenjadi semakin besar.
c.Setiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupunorganisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Misalnya padamanusia struktur biologis seperti struktur dan fungsi paru-paru berbedadengan struktur dan fungsi keluarga sebagai struktur institusionalmemiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau ekonomi.
d. Di dalam sistem organisme maupun sistem sosial,perubahan pada suatubagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan padaakhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. Misalnya perubahan sistempolitik dari suatu pemerintah demokratis ke suatu pemerintahan totaliterakan mempengaruhi keluarga, pendidikan, agama dan sebagainya. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain.
Bagian-bagian yang saling berkaitan tersebut merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah. Demikianlah maka sistem peredaran atau sitem pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan media, seperti halnya sistem politik atau sistem ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi. Butir-butir yang dikemukakan spencer merupakan model atau analogi yang tidak harus diterima mentah-mentah, dimana masyarakat tidak benar-benar mirip dengan organisme hidup, dimana keduanya memiliki perbedaan yang sangat jelas. Misalnya saja di dalam sistem organisme yang dianalaogikan sebagai struktural biologi, bagian-bagian saling terkait dalam suatu hubungan yang sangat dekat, sedangkan di dalam sistem-sosial hubungan  yang  sangat  dekat seperti itu tidak begitu terlihat jelas, terkadang bagian-bagian tersebut terpisah.Pikiran spencer yang dilandasi oleh pemikiran comte bahwa masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung satu sama lain.
Emile Durkheim
            Emile Dukheim adalah seorang sosiolog prancis, durkheim melihat masyrakat modern sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri, dimana setiap perangkat tersebut memiliki seperangakat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agardalam keadaan normal, tetap langgeng (Margaret M. Poloma 2007: 25).
Dimana ada suatu dampak jika kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu tidak terpenuhi maka akan berkembang suatu keadaan yang bersifat ―patologis (keadaan tidak seimbang atau perubahan sosial, contohnya di dalam masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, jika dalamkehidupan ekonomi mengalami suatu fluktasi yang keras, maka bagian ini akan mempengaruhi bagian lain dari sistem tersebut seperti sistem politik, kemudian sistem keluarga dan kemudian menyebabkan perubahan dalam strukturkeagamaan dan akhirnya mempengaruhi sistem keseluruhannya. Keadaan patologis tersebut akan teratasi dengan sendirinya yang mengakibatkan―equilibrium keadaan normal atau suatu sistem yang seimbang.
Radcliffe Brown
Fungsionalisme Brown ini merupakan perkembangan dari teori Fungsional Durkheim. Fungsi dari setiap kegiatan selalu berulang, seperti penghukuman kejahatan, atau upacara penguburan, adalah merupakan bagian yang dimainkannya dalam kehidupan social sebagai keseluruhan dan, karena itu,merupakan sumbangan yang diberikan bagi pemelihara kelangsungan structural(Radcliffe Brown, 1976: 505).
Bronislaw Malinowsky
Para ahli antropologi menganalisa kebudayaan dengan melihat pada fakta-fakta antropologi dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam sistem kebudayaan (Malinowski, 1976: 551).  fakta-
Talcott Parson
Fungsionalisme structural Talcott Parsons terkenal dengan skema AGIL. Parson yakin bahwa ada empat fungsi penting yang diperlukan semua system:
a. Adaptation (adaptasi), sebuah system harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistemharus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikanlingkungan itu dengan kebutuhannya.
b.Goal attainment (pencapaian tujuan), sebuah system harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
c.Integration (integrasi), sebuah system harus mengatur antarhubungan bagian-bagian yangmenjadi komponennya. Sistem juga harus mengelola antarhubunganketiga fungsi penting lainnya (A, G, L).
d.Latency (latensi atau pemeliharaan pola), sebuah system harus memperlengkapi, memelihara, dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola cultural yang menciptakandan menopang motivasi.
Robert K. Merton
Robert K. Merton, sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahliteori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas tentang teori-teori fungsionalisme, merton merupakan seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan fungsional-struktural telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis. Merton telah mengutip tiga postulat yang ia kutip dari analisa fungsional dan disempurnakannya, diantaranya ialah :
A. postulat pertama adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari system sosial bekerjasama dalam suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internalyang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton memberikan koreksi bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat adalah bertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataannya dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi satu kelompok,tetapi dapat pula bersifat disfungsional bagi kelompok yang lain.
B. postulat kedua, yaitu fungionalisme universal yang menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa sebetulnya disamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga dwifungsi. Beberapa perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau sifat disfungsi ini. Dengan demikian dalam analisis keduanya harus dipertimbangkan.
C. postulat ketiga, yaitu indispensability yang  menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, objek materiil dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan system sebagai keseluruhan. Menurut Merton, postulat yang kertiga ini masih kabur ( dalam artian tak memilikikejelasan, pen ), belum jelas apakah suatu fungsi merupakan keharusan.

F. PENGARUH TEORI FUNGSIONALISME DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
Talcott Parsons dalam menguraikan teori ini menjadi sub-sistem yang berkaitan menjelaskan bahwa diantara hubungan fungsional-struktural cenderung memiliki empat tekanan yang berbeda dan terorganisir secara simbolis :
1. pencarian pemuasan psikis
2. kepentingan dalam menguraikan pengrtian-pengertian simbolis
3. kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkungan organis-fisis, dan
4. usaha untuk berhubungan dengan anggota-anggota makhluk manusia lainnya. Sebaliknya masing-masing sub-sistem itu, harus memiliki empat prasyaratfungsional yang harus mereka adakan sehingga bias diklasifikasikan sebagai suatuistem. Parsons menekankan saling ketergantungan masing-masing system itu ketika dia menyatakan :
secara konkrit, setiap system empiris mencakup keseluruhan,dengan demikian tidak ada individu kongkrit yang tidak merupakan sebuahorganisme, kepribadian, anggota dan sistem sosial, dan peserta dalam system cultural “
Walaupun fungsionalisme struktural memiliki banyak pemuka yang tidak selalu harus merupakan ahli-ahli pemikir teori, akan tetapi paham ini benar-benarberpendapat bahwa sosiologi adalah merupakan suatu studi tentang struktur-struktursocial sebagai unit-unit yang terbentuk atas bagian-bagian yang saling tergantung. Fungsionalisme struktural sering menggunakan konsep sistem ketika membahas struktur atau lembaga sosial. System ialah organisasi dari keseluruhan bagian-bagian yang saling tergantung. Ilustrasinya bisa dilihat dari system listrik,system pernapasan, atau system sosial. Yang mengartikan bahwa fungionalisme struktural terdiri dari bagian yang sesuai, rapi, teratur, dan saling bergantung. Seperti layaknya sebuah sistem, maka struktur yang terdapat di masyarakat akan memiliki kemungkinan untuk selalu dapat berubah. Karena system cenderung ke arah keseimbangan maka perubahan tersebut selalu merupakan proses yang terjadi secara perlahan hingga mencapai posisi yang seimbang dan hal itu akan terus berjalan seiring dengan perkembangan kehidupan manusia.












BAB III
PENUTUP

G. SIMPULAN

Fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan pada proses mental dan menghargai manfaat psikologi serta mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Maksudnya, fungsionalisme memandang bahwa masyarakat adalah sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubugan satu sama lain dan tidak bisa dipahami secara terpisah.
Fungsionalisme adalah sebuah studi tentang operasi mental, mempelajari fungsi-fungsi kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan manusia dan lingkungannya. Fungsionalisme menekankan pada totalitas dalam hubungan pikiran and perilaku. Dengan demikian, hubungan antar manusia dengan lingkungannya merupakan bentuk manifestasi dari pikiran dan perilaku.








DAFTAR PUSTAKA

Alimandan. Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang. (Jakarta: PT. Raja
GrafindoPersada, 1995).
Sunarto, Kamanto. 2012. Teori Fungsionalisme. http:// www.scribd.com/

doc/23711839/teori-fungsional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TEORI STRUKTURALISME

Makalah Kebudayaan Sulawesi

Makalah Kebudayaan Sunda