MAKALAH TEORI SIMBOLISME

TEORI SIMBOLISME

BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Kebudayaan yang dihasilkan oleh manusia, tidak selamanya dapat berupa hal yang nyata, dengan kata lain sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra penglihatan yang dapat diraba dan disentuh secara langsung, tetapi ada budaya yang dihasilkan manusia secara tersembunyi, atau hanya terwakili oleh sesuatu saja. Dengan begitu, untuk menyebutkannya, ia hanya terwakili dan untuk menjelaskannya barulah ia bisa terungkap secara gamblang dari apa yang dimunculkannya.
Ketika masyarakat majemuk berinteraksi dengan masyarakat lain yang berbeda budaya, maka tatkala proses komunikasi dilakukan, simbol-simbol verbal atau nonverbal secara tidak langsung dipergunakan dalam proses tersebut. Penggunaan simbol-simbol ini acapkali menghasilkan makna-makna yang berbeda dari pelaku komunikasi, walau tak jarang pemaknaan atas simbol akan menghasilkan arti yang sama, sesuai harapan pelaku komunikasi tersebut.
Untuk itu, kami akan menganalisis tentang teori simbolisme yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Apa hakikat teori simbolisme?
2.      Bagaimana kemunculan teori simbolisme?
3.      Siapa tokoh dalam teori simbolisme?
4.      Apa kelebihan dan kekurangan teori simbolisme?
5.      Bagaimana realisasi teori simbolisme dalam kehidupan sehari-hari?



BAB II
PEMBAHASAN
A.      HAKIKAT TEORI SIMBOLISME
Clifford Geertz (1973) mengemukakan suatu definisi kebudayaan sebagai: (1) suatu sisitem keteraturan dari makna dan simbol-simbol, yang dengan makna dan simbol tersebut individu-individu mendefinisikan dunia mereka, mengekspresikan persaan-perasaan mereka, dan membuat penilaian mereka, (2) suatu pola makna-makna yang ditransmisikan secara historis yang terkandung dalam bentuk-bentuk simbolik, yang melalui bentuk-bentuk simbolik tersebut manusia berkomunikasi, memantapkan, dan mengembangkan pengetahuan mereka mengenai dan bersikap terhadap kehidupan, (3) suatu peralatan simbolik bagi pengontrol perilaku, sumber-sumber ekstrasomatik dari informasi, dan (4) oleh karena kebudayaan adalah suatu sistem simbol, maka proses kebudayaan harus dipahami, diterjemahkan, dan diinterpretasi.
Bahasa simbolik dari kebudayaan adalah public, dan oleh sebab itu peneliti tidak boleh berpura-pura telah memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai sudut-sudut gelap dalam pikiran individu. Fungsi simbolik itu universal, dan manusia tidak dapat memahami kebudayaan suatu masyarakat tanpa fungsi ini, yang bekerja di sepanjang kode genetik itu sendiri. (Geertz 1973). Jadi, menjadi manusia berarti berkebudayaan.

B.       KEMUNCULAN TEORI SIMBOLISME
Dalam perkembangan selanjutnya, pandangan interpretive sering kali dihubungkan dengan konsep simbol, terlebih setelah Geertz mengembangkan versi pendekatan interpretifnya sendiri. Pada mulanya pendekatan ini disebut antropologi simbolik, yang kelak disebut saling mengganti dengan interpretivisme simbolik karena penekanan yang berbeda.
Simbol adalah objek, kejadian, bunyi bicara, atau bentuk-bentuk tertulis yang diberi makna oleh manusia. Bentuk primer dari simbolisasi oleh manusia adalah melalui bahasa. Tetapi manusia juga berkomunikasi dengan menggunakan tanda dan simbol dalam lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik, postur tubuh, perhiasan, pakaian, ritus, agama, kekerabatan, nasionalitas, tata ruang, pemilikan barang, dan banyak lagi lainnya. Manusia dapat memberikan makna kepada setiap kejadian tindakan, atau objek yang berkaitan dengan pikiran, gagasan dan emosi.
Persepsi tentang penggunaan simbol sebagai salah satu ciri signifikan manusia menjadi sasaran kajian yang penting dalam antropologi dan disiplin-disiplin lain. Susanne Langer (1951) misalnya, melihatnya sebagai tren yang berubah dalam aktivitas intelektual manusia modern.
Dalam dunia antropologi, istilah simbol sudah semenjak lama dinyatakan baik secara eksplisit. Edward Tylor, perintis antropologi abad ke-19, misalnya menulis : “kekuatan penggunaan kata-kata sebagai tanda untuk mengekspresikan pemikiran, yang dengan ekspresi itu bunyi tidak secara langsung menghubungkannya, sebenarnya sebagai simbol-simbol arbiter, adalah tingkat kemampuan khusus manusia yang tertinggi dalam bahasa, yang kehadirannya mengikat bersama semua ras manusia dalam kesatuan mental yang substansial.
Simbol atau tanda dapat dilihat sebagai konsep-konsep yang dianggap oleh manusia sebagai pengkhasan sesuatu yang lain yang mengandung kualitas-kualitas analisis logis atau melalui asosiasi-asosiasi dalam pikiran dan fakta. Simbol pohon Mudyi pada orang Ndembu, Zambia, Afrika, dari Viktor Turner (1967) adalah salah satu contoh yang penting. Suatu simbol menstimulasi atau membawa sutau pesan yang mendorong pemikiran atau tindakan. Charles Pierce, peletak dasar disiplin semiotik modern, mengidentifikasi tiga tipe tanda : (1) tanda ikonik yang mencerminkan objeknya dalam hal tertentu. (palang salib adalah tanda ikonik, yang menyampaikan gagasan dan makna kekeristenan), (2) tanda indeks yang secara fisik terkait dengan objeknya. (misalnya bendera dipasang setengah tiang berarti ada orang penting meninggal), dan (3) simbol-simbol seperti bahasa yang berarti bagi objeknya karena ditafsirkan sedemikian melalui kesepakatan dan penggunaan. Sebagian kajian sistem simbol dan tanda memusatkan perhatian kepada logika internal. Yang lain, biasanya yang tidak terkait dengan linguistik, menekankan tindakan sosial dan konteks sosial dari tanda dan simbol tersebut ketika mereka menghubungkannya dengan sistem perilaku dan nilai-nilai suatu kebudayaan suatu masyarakat.
Antropologi simbolik memandang manusia sebagai pembawa dan produk, sebagai subjek sekaligus objek, dari suatu sistem tanda dan simbol yang berlaku sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pengetahuan dan pesan-pesan. Simbol memberikan landasan bagi tindakan dan perilaku selain gagasan dan nilai-nilai.
Teori simbolik mengenai kebudayaan adalah suatu model dari manusia sebagai spesies yang menggunakan simbol, berbeda misalnya dengan teori materialisme kebudayaan yang berlandaskan pandangan bahwa manusia adalah spesies yang memproduksi. Kedua model ini mengakui eksistensi aspek materi maupun aspek mental dari keberadaan manusia, tetapi masing-masing model memandang satu sama lain dari perspektifnya sendiri.
Defenisi simbolik dari kebudayaan yaitu kebudayaan adalah bagian dari suatu tren yang memandang kebudayaan sebagai ilmu mengenai makna-makna. Antropolog simbolik mengkaji sistem kode dan pesan yang diterima oleh manusia melalui interaksi mereka dengan manusia lain dan dengan dunia alamiah. Seluruh semesta dipenuhi tanda-tanda. Apabila benar bahwa semua makhluk berkomunikasi dengan bentuk tanda dan simbol, maka antropologi simbolik sesungguhnya melakukan kajian yang universal dalam ruang lingkupnya.
Sebagian besar pengetahuan, pikiran, perasaan, dan persepsi manusia terkandung dalam bahasa, suatu sistem simbol. Kata-kata mengandung makna atau nama yang menggolong-golongkan objek dan pikiran. Kata-kata adalah persepsi konseptual mengenai dunia, dunia yang terkandung dalam simbol-simbol. Simbol-simbol kata, bahasa sesuai bagi suatu masyarakat pada waktu dan tempat tertentu. Kata planet berarti sesuatu yang berbeda pada abad pertama daripada maknanya pada abad kini.
Linguistik, kajian mengenai bahasa, telah memberikan kepada antropolog simbolik teknik-teknik untuk mengungkapkan dan memahami kode-kode yang merepresentasikan kompleks motif, pengalaman dan pengetahuan yang membentuk dan mengekspresikan keyakinan dan tindakan. Jadi linguistik adalah pendahulu histories bagi antropologi simbolik.
Victor Turner (1975) mengelompokkan antropolog simbolik menjadi dua: (1) kelompok yang memusatkan perhatian pada sistem abstrak yang meliputi ahli linguistik, strukturalis, dan antropolog kognitif (mereka memusatkan perhatian perhatian pada analisis formal dan kurang memperhatikan isi ketimbang metode dan logika), dan (2) kelompok yang memusatkan perhatian pada simbol dan kelompok dinamika sosial, yang meliputi antropolog semiotik dan simbolik, sosiolinguistik, fokloris, dan kritikus sastra (mereka memperpadukan analisis formal dengan isi, dan persepsi dan makna dengan tindakan sosial.
Clifford Geertz menekankan bahwa antropolog seharusnya bergeser dari upaya melakukan eksplanasi menjadi upaya menemukan makan dan memandang penting simbol dalam penelitian antropologi. Ia menekankan signifikansi konteks sosial sebagai unsur yang amat penting dalam memahami makna simbol. Ia mengusulkan agar antropolog mengalihkan perhatian dari meneliti tanda dan simbol dalam abstraksi “kepenelitian tentang tanda dan simbol dalam habitat alamiahnya-dunia alamiah dimana manusia melihat, memberi nama, mendengar dan membuat” (1983;119).

C.       TEORI SIMBOLISME SEBAGAI PARADIGMA
Antropologi simbolik berlaku atas dasar konsep bahwa manusia adalah hewan pertama pencari makna yang menggunakan simbol. Interpretivisme simbolik adalah “kajian mengenai istilah-istlah dasar yang dengannya kita memandang diri kita sendiri sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat, dan mengenai bagaimana istilah-istilah dasar ini digunakan oleh manusia untuk membangun suatu metode kehidupan bagi diri mereka sendiri. Interpretivisme simbolik memandang penting emik demi kepentingan data itu sendiri. Menurut Dolgin, Kemnitzer, dan Schneider (1997:34) “yang mendasar bagi kajian antropologi simbolik adalah tentang bagaimana manusia memformulasikan realitas mereka. Membandingkan realitas emik dan etik bukanlah misi antropologi simbolik. Yang kita perhatikan bukanlah apakah pandangan yang dimiliki orang-orang yang kita teliti akurat atau tidak akurat dalam pengertian ilmiah. Dalam tindakan sosial, yang nyata harus dipandang sebagai nyata.
Sasaran pokok dari Interpretivisme simbolik adalah untuk mengungkap jawaban mengenai masalah-masalah mendasar dari keberadaan manusia termasuk hakekat dan makna kehidupan selain cara-cara bagaimana identitas manusia didefinisikan dan diperlihara dan kemudian menerjemahkan jawaban-jawaban itu menjadi konsaep-konsep yng dapat dipahami bagi peneliti. Jadi menurut Geertz “sasaran antropologi adalah perluasan universe dari wacana manusia. Geertz menyatakan bahwa “analisis kebudayaan adalah menduga-duga makna, menilai dugaan-dugaan itu, dan menggambarkan kesimpulan-kesimpulan eksplanatoris dari dugaan-dugaan yang lebih baik”. Namun dengan pengecualian beberapa konsep yang sangat umum antropologi simbolik tidak menentukan secara spesifik prinsip-prinsip apa yang mereka gunakan ketika berusaha membangun kesimpulan-kesimpulan eksplanatorois (1973:20).
Selain itu ada asumsi-asumsi dan konsep-konsep lain yang juga diasosiasikan dengan antropologi simbolik. Pertama adalah konsep Victor Turner (1969) mengenai karakter simbol “multivokalik”, atau kemampuan simbol untuk mempresentasi beberapa makna yang berbeda-beda sekaligus. Yang lain adalah konsep yang juga terkenal dari Turner, yakni karakter prosesual dari sistem sosial. Antropologi simbolik berasumsi bahwa simbol memainkan peranan penting dalam proses sosial budaya. Turner misalnya berpendapat bahwa “bahkan pada masyarakat yang paling sederhana, perbedaan antara struktur (keteraturan hierarki dari status dan peranan sosial, politik dan ekonomi) dan communitas (komunion orang-orang individual yang langsung, tanpa perantara dan tidak berstruktur) ada dan memperoleh ekspresi simbolik dalam atribut-atribut kebudayaan dari liminalitas, marginalitas dan inferioritas dan bahwa jika dilihat bersama-sama, struktur dan communitas menunjukkan kondisi manusia yang memandang hubungan manusia dengan manusia lainnya (1969 : 30).
Eksplanasi yang ditawarkan oleh antropolog simbolik jelas interpretif. Bagi Geertz (1973:5), analisis kebudayaan bukanlah ilmu eksperimental dalam mencari hukum, melainkan interpretif dalam mencari makna. Mengetahui dan memahami realitas emik diperlukan dalsam pendekatan interpretif. Menurut Geertz “memahami bentuk dan isi kehidupan internal masyarakat yang kita teliti mirip seperti mengetahui dan memahami peribahasa, menangkap ilusi, atau mendengarkan lelucon. Dalam hal itu, antropolog simbolik mirip dengan strukturalisme, yang juga menawarkan eksplanasi interpretif, namun jelas berbeda dari materialisme kebudayaan, yang menawarkan eksplanasi kausal.

D.    TOKOH TEORI SIMBOLOSME
1.      Clifford Geertz
Clifford Geertz dapat dikatakan adalah pendiri pendekatan interpretif dalam antropologi. Ia mengemukakan bahwa antropologi tidak dapat berangan-angan menjadi ilmu pengetahuan dengan cara seperti ilmu fisika, dengan hukum dan generalisasi yang didasarkan pada data empiris dan dapat diverifikasi. Geertz yakin bahwa antropolgi harus didasari oleh relaitas konkret, tetapi dari realitas ini antropolog menemukan makna bukan prediksi yang didasarkan pada data empiris. Geertz berargumen menentang penggunaan model dalam penelitian sosial. Model terlalu abstrak dan membatasi analisis sosial dari kualitas yang hidup. Bagi Geertz, antropologi harus mendasarkan dirinya sendiri pada disiplin-disiplin humanistic, yang menggunakan deskripsi, puisi, sastra, mite, simbol, dan cirri-ciri manusia yang membedakan manusia dari spesies lainnya.
2.      George Herbert Mead (1863 – 1931)
George Herbert Mead dipandang sebagai tokoh utama dikalangan penganut interaksionisme terdahulu. Mead dipandang sebagai orang pertama yang menjelaskan doktrin filsafat interaksionisme simbolis yang benar-benar konsisten. George Herbert Mead adalah salah satu pencetus paham interaksi simbolis, dan ia mengemukakan bahwa makna atau pemahaman muncul dari proses interaksi manusia baik secara verbal maupun nonverbal. Melalui tindakan dan tanggapan, kita membentuk makna tentang suatu kata dan tindakan serta memahami suatu peristiwa tertentu.
Mead menyatakan bahwa individu melakukan tindakan (dalam pikiran, abstrak ide) yang belum dapat diamati. Dalam otak, proses belajar mental bersifat tertutup sebelum dimulai tindakan sebenarnya (nyata, berupa perilaku, dapat dilihat). Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminology yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status, dll) dan pesan verbal (kata-kata, suara, dll) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlihat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk symbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant symbol). Mead tertarik mengkaji interaksi social, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan symbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh symbol yang diberikan orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melaui pemberia isyarat symbol, kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca symbol yang ditampilkan orang lain.
3.      Herbert Blummer (1900 - 1987)
Herbert Blumer dan George Herbert Mead adalah yang pertama-tama mendefinisikan teori symbolic interactionism. Blumer mengutarakan tentang tiga prinsip utama interaksionisme simbolik, yaitu tentang pemaknaan (meaning), bahasa (language), dan pikiran (thought). Premis ini nantinya mengantarkan kepada konsep ‘diri’ seseorang dan sosialisasinya kepada ‘komunitas’ yang lebih besar, masyarakat. Blumer mengajukan premis pertama, bahwa human act toward people or things on the basis of the meanings they assign to those people or things. Maksudnya, manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut.
4.      Charles Horton Cooley (1964 -1929)
Cooley adalah sosiolog pertama yang menyatakan hidup manusia secara social ditentukan oleh bahasa, interaksi, dan pendidikan. Konsep penting dalam bangunan teori Cooley adalah konsep cermin diri (looking glass self) dan kelompok primer. Dalam benak individu senantiasa terjadi suatu proses yang ditandai oleh tiga tahapan terpisah:
Persepsi à Interpretasi à Respon

Persepsi adalah membayangkan bagaimana orang melihat kita. Interpretasi dan definisi adalah kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita (pakaian, perilaku, pikiran kita, dll). Respon adalah individu menyusun respon terhadap tindakan kita berdasarkan persepsi dan interpretasi. Cooley memahami bahwa individu melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Sudut pandang orang lain yang dianggap penting adalah kelompok primer, yaitu keluarga inti (ayah, ibu, anak), teman-teman dekat, teman-teman sepermainan.
5.      William Jones
Jones memusatkan teorinya atas sifat saling ketergantungan organisasi antar individu dan lingkungan sosialnya. Jones berusaha mengidentifikasi factor-faktor psikologis, biologis, yang dibawa sejak lahir dan menjelaskan perilaku manusia tersebut. Setiap perilaku akan ditentukan oleh diri sendiri.
Ada 4 dasar keinginan manusia:
a.    Keinginan untuk pengalaman baru
b.    Keinginan untuk dihargai
c.    Keinginan untuk menguasai
d.    Keinginan untuk merasa aman
6.      John Dewey
Menurut Dewey, etika dan ilmu, teori dan praktik, berpikir dan bertindak, putusan factual dan evaluative adalah dua hal yang saling menyatu, tidak bisa dipisahkan. Manusia terlibat dalam proses pengenalan. Manusia tidak menerima begitu saja pengetahuannya dari luar tetapi secara sadar, aktif dan dinamis membentuk pengetahuannya dan tindakannya.
7.      Manfort Kuhn
Kuhn lebih menekankan aspek makro/struktur sosal (kelas, sosal, etnik) yang mempengaruhi individu termasuk sikap dan perilaku seksual. Kuhn menekankan bahwa perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap keinginan lingkungan sosialnya.
8.      Clifford Geertz 
Clifford Geertz adalah tokoh utama dalam teori simbolisme. Clifford Geertz dapat dikatakan adalah pendiri pendekatan interpretif dalam antropologi. Ia mengemukakan bahwa antropologi tidak dapat berangan-angan menjadi ilmu pengetahuan dengan cara seperti ilmu fisika, dengan hukum dan generalisasi yang didasarkan pada data empiris dan dapat diverifikasi. Geertz yakin bahwa antropolgi harus didasari oleh relaitas konkret, tetapi dari realitas ini antropolog menemukan makna bukan prediksi yang didasarkan pada data empiris. Geertz berargumen menentang penggunaan model dalam penelitian sosial. Model terlalu abstrak dan membatasi analisis sosial dari kualitas yang hidup. Bagi Geertz, antropologi harus mendasarkan dirinya sendiri pada disiplin-disiplin humanistic, yang menggunakan deskripsi, puisi, sastra, mite, simbol, dan cirri-ciri manusia yang membedakan manusia dari spesies lainnya.

E.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN TEORI SIMBOLISME
Kelemahan esensial dari antropologi simbolik bukanlah karena ia tidak berhasil memperhitungkan sebab musabab pikiran dan perilaku manusia, seperti yang dilakuka materialisme kebudayaan. Melainkan, kurangnya pedoman teoritis dan metodologis yang eksplesit. Ada tiga masalah kelemahan teoritis dan metodologis antropologi simbolik. Pertama, ada masalah replikabilitas. Jika orang kurang memahami pandangan imajinatif Clifford Geertz, bagaimana mungkin ia melakukan penelitian di bawah paradigma antropologi simbolik? Dalam kenyataan Geertz (1983:11) mengemukakan bahwa orang-orang yang ingin melakukan analisis simbolik sebenarnya hanya perlu mempelajari metodologinya sendiri karena praktek yang sukses dari pendekatan interpretif adalah seperti naik sepeda yang lebih mudah dilakukan daripada hanya dikatakan. Dalam kritiknya terhadap antropologi simbolik, Ranner mengatakan bahwa “tak adanya teori dan metodologi yang meyakinkan secara empiris mengandung konsekuensi bahwa fakta tak ada program yang memberikan arah bagaimana penelitian seharusnya dilakukan.
Kedua, ada masalah verifikasi, suatu hal yang diakui oleh antropolog simbolik. Geertz dengan cermat mengamati bahwa “suatu kelemahan pendekatan interpretif…adalah bahwa pendekatan ini cenderung resistan, atau memiliki peluang untuk resistan, terhadap artikulasi konseptual dan oleh sebab itu dari mode-mode sistematik penilaian”. Malahan para kritikus Geertz yang simpatik mengakui adanya kekuarangan paradigma interpretif ini. Richardson (1984;275), misalnya menulis bahwa “patut kita ketahu, ilmu sosial interpretif itu memiliki resiko sendir; menjadi terlalu cermat, jelimet, menyebabkan interpretasi tebal menjadi padat. Maka isu verifikasi menjadi penting.
Aspek ketiga dari masalah kekurangan teoritis ini adalah kecenderungan archinductivism dalam antropologi simbolik. Antropologi simbolik kerap kali keliru dalam berasums bahwa akumulasi semata-mata data emik akan menunjukkan prinsip-prinsip teoritis yang signifikan yang mengeksplanasi kesamaan lintas budaya.”Tugas rangkap antropologi simbolik, yakni menganalisis unsur-unsur simbolik dari ranah semantic emik dan mengonstruksi prinsip-prinsip analitis untuk menjelaskan proses-proses etik kebudayaan. Antropologi simbolik tidak menyempurnakan tugas tersebut, tetapi cukup adil kalau dikatakan bahwa antropologi simboliklah yang telah memulai dengan baik, meski sebahagian kritik menuduh bahwa antropolog interpretif akhir-akhir ini talh menyimpang dari tugas tersebut (Shankman, 1984:269). Suatu masalah yang juga sering kali diperdebatkan adalah konsep konteks dalam pendekatan Geertz.
Barbara Frankel (1986), misalnya mengemukakan bahwa konteks adalah konsep yang sukar dan longga, dan berakhir. Sebagaimana ilmuwan sosial yang lain lebih suka menempuh jalan moderat. Mereka mengemukakan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai ketepatan maksimum dalam menginterpretasi tindakan sosial adalah membatasi satuan pengamatan menjadi ranah yang sempit, pengkajian berskala kecil, dan mengkajinya semaksimum mungkin. Akan tetapi, tampaknya antropolog interpretif masih berhadapan dengan suatu masalah lain yang serius, yakni generalisasi, suatu tingkatan kesimpulan yang diidam-idamkan oleh semua ilmu pengetahuan. Dalam upaya mencapai generalisasi ini, sebagian disiplin ilmu sosial yang lain menempuh jalan mereduksi fenomena-fenomena sosial menjadi angka statistik. Mereka mengemukakan bahwa cara statistic dan numeric menawarkan ruang lingkup yang lebih luas dan memungkinkan untuk membangun generalisasi. Tapi, sebagaimana dikemukakan Frankel (1986), reduksionisme cenderung hanya menggambarkan pola-pola dan struktur-struktur fenomena sosial daripada mengungkapkan sebab-musabab dan proses.

F.     REALISASI TEORI SIMBOLISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
1.    Kajian Clifford Geertz (Makna Simbolik pada Makanan)
Makanan merupakan sesuatu yang pokok dalam hidup. Makanan juga penting bagi pergaulan sosial. Jika tidak ada cara-cara dimana makanan dimanipulasikan secara simbolis untuk menyatakan persepsi terhadap hubungan antara individu-individu dan kelompok-kelompok maka akan sulit menggambarkan kehidupan sosial (Foster dan Anderson, 1986 : 317).
2.    Peuseujuk sebagai Simbol 
Sepanjang kegiatan manusia selalu terdapat kegiatan yang bersifat metaforik atau simbolik yang sering-kali merupakan perwujudan lain dari apa yang ingin diwujudkan, begitu kata Dilthey. Dunia manusia memang dunia simbol yang sarat dengan makna.
Di tambak jalinan janur yang dianyam sedemikian rupa digantung di pintu air. Dalam anyaman tersebut terdapat bungkusan kain putih dan botol kecil berisi minyak wangi. ”itu namanya peuseujuk” berasal dari Aceh. Ini dilakukan setiap menjelang panen, ayam hitam dan ayam putih dipotong di pintu air. Tulang dan bagian-bagian tertentu kemudian dibungkus dan diletakan dalam anyaman tersebut bersama benda-benda lain yang memiliki makna tertentu. Acara dilakukan beramai-ramai dimana do’a dan makan bersama dilakukan sebagai bagian dari prosesi. Apapun... itu adalah fenomena sosial dimana simbol-simbol tertentu digunakan dengan makna tertentu.
Realitas sosial melalui simbol kadang terlihat samar namun sering juga telihat dalam bentuk yang lebih nyata. Pada kasus tersebut simbol warna hitam dan putih sering digunakan untuk menyatakan adanya persepsi oposisi biner. ..hitam-putih... jahat-baik.... benar-salah.... yang sering digunakan untuk mempermudah pemahaman akan pesan moral yang ingin disampaikan, baik melalui cerita, legenda, juga dalam ritual tertentu.
3.    Kain ulos sebagai simbol komunikasi suku Batak
Kehidupan masyarakat suku Batak, tidak terlepas dari penggunaan kain ulos, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya. Ulos melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya atau antara seseorang dan orang lain, seperti yang tercantum dalam filsafat batak yang berbunyi: “Ijuk pengihot ni hodong.” Ulos pengihot ni halong, yang artinya ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang diantara sesama. Kehangatan kain Ulos tidak saja melindungi tubuh orang Batak dari udara dingin, tetapi juga mampu membentuk kaum lelaki Batak berjiwa keras, mempunyai sifat kejantanan dan kepahlawanan, dan perempuannya mempunyai sifat ketahanan dari guna-guna kemandulan.
Kain Ulos lahir dari pencarian orang-orang Batak yang hidup di daerah pegunungan yang dingin. Seiring berjalannya waktu, dari sekedar kain pelindung badan, Ulos berkembang menjadi lambang ikatan kasih, pelengkap upacara adat, dan simbol sistem sosial masyarakat Batak. Bahkan, kain ini dipercaya mengandung kekuatan yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan kepada pemakainya.
4.    Simbol-Simbol pada Agama
Kekristenan kaya dengan simbol-simbol. Alkitab pun memberi tempat khusus bagi beragam simbol. Bahasa simbol mudah ditemui dalam Alkitab. Bagaimana orang Kristen memaknai simbol.? pada zamannya, umat Yahudi, menyampaikan kekayaan iman dengan simbol-simbol. Berhubung dengan simbol-simbol seperti tertera di atas, Kitab Suci memberi tempat khusus. Sejarah juga mencatat, sejak gereja mula-mula, yakni gereja di sekitar para rasul, simbol-simbol telah dikembangkan. Untuk apa simbol-simbol itu? Pasti ada maksud agung di dalamnya. Contoh, simbol ikan misalnya. “Sebenarnya, simbol ikan yang digunakan umat pada masa itu, merupakan kode rahasia. Simbol ikan, atau kadang disebut ikan Yesus, yang biasa dipakai pada saat itu, sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, IKHTUS (ἰχθύς, ΙΧΘΥΣ, atau ΙΧΘΥC). Kata itu berarti “Yesus Kristus, Putra Allah, Juruselamat” (Ἰησοῦς Χριστός, Θεοῦ ͑Υιός, Σωτήρ, Iēsous Christos, Theou Huios, Sōtēr). Simbol tersebut amat penting. Sebab, dengan mengenakan simbol, umat sedang menegaskan pengakuan iman mereka. Selain itu, mereka juga sedang menegaskan identitas diri.



BAB III
PENUTUP
A.      SIMPULAN

     Sebagai kesimpulan dari berbagai penjelasan diatas, yaitu setiap sisi kehidupan manusia dikuasai oleh ada system simbol yang selalu bermain tanpa banyak penjelasan. Tubuh (manusia itu sendiri), ide/pengetahuan dan tingkahlaku, sampai pada apa yang dihasilkan manusia menjadi rujukan untuk menafsirkan bentuk-bentuk simbol.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH TEORI STRUKTURALISME

Makalah Kebudayaan Sulawesi

Makalah Kebudayaan Sunda